Bank Digital Segera Jadi Tren, Bagaimana Nasib Mahasiswa Ekonomi dan Perbankan?

Bank Digital Segera Jadi Tren, Bagaimana Nasib Mahasiswa Ekonomi dan Perbankan?
Bank

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Digitalisasi merambah seluruh lini kehidupan, termasuk dunia perbankan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa aka nada 12 bank digital di Indonesia, tujuh bank sedang dalam proses go digital atau menjadi bank digital sedangkan lima lainnya merupakan bank yang sudah menobatkan diri sebagai bank digital.

Adapun tujuh bank yang sedang proses menuju bank digital adalah Bank BCA Digital, PT BRI Agroniaga Tbk, PT Bank Neo Commerce Tbk, PT Bank Capital Tbk, PT Bank Harda Internasional TBK, PT Bank QNB Indonesia Tbk, serta PT KEB HanaBank. Sedangkan lima bank yang telah menyatakan diri sebagai bank digital adalah Jenius dari Bank BTPN, Wokee dari Bank Bukopin, Digibank dari Bank DBS, TMRW dari Bank UOB, serta Bank Jago sebagai pendatang baru.

Ekonom senior dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM yang juga pendiri Institute of Social Economic Digital (ISED), Sri Adiningsih mengatakan cepat atau lambat dunia perbankan memang akan mengarah ke digital.

Beralihnya layanan perbankan ke arah digital seperti mulai munculnya bank-bank digital seperti sekarang bisa dipastikan akan berdampak juga pada tenaga kerja di dunia perbankan. Salah satu dampak yang akan paling terasa menurutnya adalah semakin sedikitnya jumlah pekerja yang dibutuhkan oleh bank.

“Pasti berdampak, sekarang bank-bank konvensional dalam artian yang masih ada kantor cabang saja mulai terdigitalisasi dan lama-lama kantor cabangnya akan berkurang,” kata Sri Adiningsih, beberapa waktu lalu di Yogya.

Dengan berkurangnya kantor cabang, otomatis pegawai yang dibutuhkan juga akan semakin sedikit. Sri Adiningsih mencontohkan, bahwa saat ini saja pengguna mesin ATM sudah semakin sedikit karena mulai beralih pada penggunaan mobile banking atau internet banking.

“Ke depan tentu saja jumlah kantor bank akan berkurang begitu juga dengan karyawannya, dan itu sudah mulai terjadi di Indonesia,” lanjutnya.

Bagaimana Nasib Mahasiswa Perbankan?

Konvesional maupun bank digital menurut Sri Adiningsih sebenarnya tidak banyak berubah. Misalnya ada tenaga teknologi informasi (TI), manajemen risiko, pemasaran, dan sebagainya. Hanya saja, pelayanannya akan sangat berbeda, dari yang sebelumnya masih dilakukan secara tatap muka nantinya akan dilakukan secara digital.

“Misalnya marketing digital, kemudian pelayanan konsumennya juga akan berubah,” kata Sri Adiningsih.

Supaya memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan bank digital, mahasiswa-mahasiswa yang kini kuliah di jurusan perbankan perlu belajar lagi dari sumber-sumber lain di luar perkuliahan. Menurutnya, saat ini banyak sumber belajar lain di luar kelas perkuliahan yang bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk meningkatkan keterampilannya.

“Dia harus menambah dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan di era digital, kan banyak kursus-kursus atau webinar atau diskusi yang tersedia,” lanjutnya.

Saat ini, sejumlah kampus yang punya jurusan perbankan menurutnya juga sudah mulai mengembangkan pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan yang ada. Misalnya dengan memasukkan materi digital marketing, data analitic, pemanfaatan data sains maupun big data.

“Beberapa kampus sudah ada, memang belum banyak, nah yang belum memang harus belajar sendiri,” ujarnya.

Perguruan tinggi menurutnya juga perlu mengembangkan kurikulum maupun silabus mereka supaya bisa menjawab kebutuhan di era digital. Sehingga nantinya, ketika mahasiswanya lulus mereka punya kompetensi yang relevan dengan kebutuhan bank-bank digital yang ada.

“Kurikulum dan silabus harus di-upgrade, termasuk dosennya juga harus mau belajar,” ujarnya.

Kesigapan perguruan tinggi dalam menyiapkan kurikulum yang relevan ini menurutnya sangat penting. Pasalnya, ke depan dia yakin bahwa layanan keuangan di Indonesia akan mengarah pada layanan digital, baik fintech maupun bank digital, atau kolaborasi antara bank umum dengan bank digital dan fintech.

“Pada akhirnya nanti yang jelas pelayanan keuangan akan terdigitalisasi, pelan-pelan meskipun butuh waktu,” kata Sri Adiningsih.