Banjir Vietnam, Lebih dari 100 Orang Tewas & Ribuan Rumah Terendam 

Banjir Vietnam, Lebih dari 100 Orang Tewas & Ribuan Rumah Terendam 
Gambar udara yang diambil pada 15 Oktober 2020 menunjukkan rumah-rumah yang terendam air banjir yang disebabkan oleh hujan lebat di distrik Hai Lang di provinsi Quang Tri Vietnam tengah. (AFP)

HANOI, SENAYANPOST.com - Banjir parah yang menerjang Vietnam dilaporkan telah menewaskan lebih dari 100 orang tewas dan merendam ribuan rumah.

Pihak berwenang memperingatkan bahwa cuaca lebih buruk akan datang. 

Korban tewas akibat banjir dan tanah longsor selama berminggu-minggu di Vietnam tengah telah meningkat menjadi 111, dengan 22 orang masih hilang, Reuters melaporkan pada Rabu (21/10/2020).

"Banjir yang menghancurkan ini adalah yang terburuk yang pernah kami lihat dalam beberapa dekade," kata Nguyen Thi Xuan Thu, presiden Palang Merah Vietnam, dalam sebuah pernyataan pada Selasa (20/10/2020). 

Lebih dari 7.200 hektar tanaman pangan telah terendam dan rusak, dan lebih dari 691.000 sapi dan unggas telah terbunuh atau tersapu banjir, menurut Kantor Berita Vietnam (VNA) yang dikelola pemerintah. 

Melansir CNN pada Rabu (21/10/2020), 16 jalan raya nasional dan 161.880 meter jalan daerah di 4 provinsi juga rusak. 

Negara itu sekarang bersiap untuk serangan lain dari badai tropis Saudel yang mengarah ke Vietnam setelah menghantam Filipina, di mana hal itu menyebabkan banjir dan memaksa ribuan penduduk untuk mengungsi. 

Pada Oktober adalah musim hujan di Vietnam, tetapi selama berminggu-minggu negara itu telah dilanda cuaca buruk yang berdampak pada pertanian, irigasi, dan transportasi. 

Pada awal bulan, badai dan cuaca dingin memicu hujan dan banjir di pusat kota dan provinsi di Vietnam, menurut VNA. 
Lebih dari 250.000 rumah tangga di 6 provinsi telah "dibanjiri", sejak pertengahan Oktober, dan banyak daerah yang terendam 2-3 meter, VNA melaporkan. 

Awal pekan ini, tim penyelamat menemukan 14 mayat dari 22 tentara yang hilang setelah tanah longsor melanda sebuah kamp militer, menurut VNA dikutip Kompas.com. 

Wilayah ini secara keseluruhan mengalami curah hujan yang sangat lebat di tengah dimulainya sistem cuaca La Nina, yang ditandai dengan suhu dingin yang tidak biasa di Samudera Pasifik ekuator.

Krisis kemanusiaan yang lebih besar Banjir di Vietnam telah menyebabkan ratusan ribu orang membutuhkan tempat tinggal darurat, air minum yang aman, makanan, dan dukungan pendapatan, menurut Federasi Internasional Masyarakat Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies/IFRC). 

Tim bencana Palang Merah bekerja bersama otoritas lokal untuk memberikan uluran bantuan. 

"Ke mana pun kami melihat, rumah, jalan, dan infrastruktur telah terendam," kata Thu. 

"Kami melakukan yang terbaik untuk memberikan bantuan langsung kepada orang-orang melalui perahu, udara dan darat, seperti makanan, air bersih, terpal dan kebutuhan pokok lainnya," terang Thu.

Komite Pusat Front Tanah Air Vietnam memberikan 860.000 dollar AS (Rp 12,6 miliar) untuk mendukung keluarga yang terkena banjir di 5 provinsi pusat, VNA melaporkan. 

Sementara, IFRC telah mengeluarkan sekitar 325.000 dollar AS (Rp 4,7 miliar) untuk mendukung kegiatan bantuan Palang Merah Vietnam. 

Menurut Thu, banjir memberikan "pukulan telak bagi mata pencaharian jutaan orang yang sudah pulih dari kesulitan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19". 

Vietnam bisa dibilang sebagian besar wilayahnya lolos dari jenis serangan yang terlihat di negara lain, dengan pihak berwenang melaporkan 1.141 kasus virus corona dan 35 kematian, menurut Universitas Johns Hopkins.

Namun, ekonomi yang bergantung pada pariwisata telah terpukul karena negara ini telah menutup perbatasannya pada Maret untuk mencegah pengendalikan pandemi virus corona, yang mana biasanya dikunjungi oleh jutaan wisatawan internasional dalam setahun. 

Kemudian, bencana menjadi berganda karena banjir "menambah kesulitan yang disebabkan oleh Covid-19," kata Christopher Rassi, Direktur Kantor Sekretaris Jenderal IRFC, dalam sebuah pernyataan pada Selasa. 

"Banjir terakhir ini akan mendorong jutaan orang lebih jauh ke jurang kemiskinan," katanya.