Banjir di Sudan, PBB: 380 Ribu Orang Terdampak

Banjir di Sudan, PBB: 380 Ribu Orang Terdampak
Bnajir di Sudan

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Sekitar 380.000 orang terdampak banjir besar di Sudan Selatan dan rumah-rumah warga tenggelam akibat banjir juga memaksa mereka untuk meninggalkan tempat tinggalnya.

Badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA), seperti dilansir AFP, Selasa (31/8/2021), mengatakan hampir tiga perempat dari mereka yang terkena dampak berada di dua negara bagian Unity dan Jonglei. 

Badan itu juga memperingatkan "hujan lebat dan banjir diperkirakan akan terjadi dalam beberapa bulan mendatang," katanya.

OCHA mengungkap kendala dalam evakuasi. Salah satunya akses ke daerah yang terdampak banjir besar itu.

"Akses adalah tantangan besar, dengan mayoritas daerah yang terkena banjir tidak dapat diakses melalui jalan darat," kata badan tersebut, sambil menambahkan bahwa pekerja bantuan berjuang untuk mengirimkan pasokan ke populasi pengungsi.

Salah seorang warga, Michael Wai, yang mengungsi bersama keluarganya ke ibu kota Jonglei, Bor, mengatakan banyak orang tidak dapat pindah ke daerah yang lebih aman. Dia menyebut banjir datang dari berbagai arah.

"Banjir datang dari segala arah -- timur selatan, utara dan barat," katanya kepada AFP.

"Banyak orang telah meninggalkan beberapa daerah banjir tetapi ada beberapa orang yang tertinggal karena kerentanan, mereka tidak dapat keluar dari tempat itu," katanya, seraya menambahkan bahwa penduduk lanjut usia berada dalam kondisi yang sangat genting.

Air sungai naik yang dipicu oleh hujan musiman telah membanjiri lahan pertanian. Banjir itu juga membunuh ternak dan menghancurkan gubuk jerami tipis. Pada tahun sebelumnya rekor banjir melanda sekitar 700.000 orang di Sudan.

OCHA mengatakan sekitar 100.000 dari mereka yang terlantar dalam bencana tahun lalu masih belum kembali ke rumah. Sementara curah hujan yang tak henti-hentinya telah membuat beberapa lahan pertanian terendam selama lebih dari setahun.

Selain itu, Sudan juga masih berjuang untuk mengatasi dampak perang saudara selama lima tahun yang menewaskan hampir 400.000 orang.

Sebanyak empat dari lima orang dari 11 juta penduduk Sudan Selatan hidup dalam "kemiskinan ekstrem", hal itu berdasarkan data Bank Dunia pada 2018. Sementara lebih dari 60 persen penduduknya menderita kelaparan parah akibat gabungan efek konflik, kekeringan, dan banjir. (Jo)