Travel

Bangsring Underwater, Destinasi Wisata Berbasis Konservasi Terumbu Karang

 

Rabu 11 May 2016, 03:31 WIB

Ardian Fanani – detikNews

Banyuwangi – Keindahan alam bawah laut Selat Bali di Bangsring Underwater, di Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo  memang diakui menjadi destinasi wisata alam yang menyedot wisatawan domestik dan mancanegara. Bangsring Underwater dikenal destinasi wisata berbasis konservasi dengan perairan yang jernih dan terdapat terumbu karang alami dan buatan. Selain itu terdapat pula rumah apung, kerambah untuk berenang dengan hiu, kano dan banana boat.

Namun tak banyak yang tak tahu bagaimana perjuangan nelayan Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo membangun tempat wisata berbasis konservasi Bangsring Underwater. Mulai dari dicemooh nelayan lain hingga diancam dengan bom ikan pernah dialami oleh nelayan-nelayan penyelamat terumbu karang ini.

“Merubah kebiasaan nelayan turunan memang sangat sulit. Perlu waktu, tenaga, pikiran dan perasaan yang karena sering adanya intimidasi. Naamun secara perlahan kita berusaha menyadarkan nelayan untuk menyelamatkan laut dan isinya dari kepunahan atas ulah dari manusia sendiri,” ujar Ikhwan Arif, Ketua Kelompok Nelayan Samudera Bakti, pengelola Bangsring Underwater saat berbincang dengan detikcom, Rabu (11/5/2015).

Bangsring 2Ikhwan Arif bercerita, nelayan Bangsring merupakan nelayan terusan penangkap ikan pinggir laut. Sejak tahun ’60an hingga ’70an, mereka terbiasa menangkap ikan dengan potasium dan bom ikan. Akibatnya, kesuakan terumbu karang di Bangsring sangat parah dan banyak yang mati. Hal ini berimbas dengan menurunnya ikan diperairan tersebut. Hal ini diperparah dengan kegiatan penangkapan ikan mulai dengan bom ikan diperairaan ini hinggga tahun 2000an. Konidisi rusak ini membuat nelayan berbanting setir untuk mencari pekerjaan lain.

“Akhirnya tahun 2008 kita bentuk kelompok nelayan Bangsring Samudera Bakti. Kita mulai memberikan sosialisasi kepada nelayan lain agar tidak menangkap ikan dengan potasium dan bom ikan. Kita ajak mereka kembali menggunakan jaring. Awalnya banyak yang menolak. Bahkan kita diancam akan dibom mulut kita pakai bondet (bom ikan) jika sering ngomong tidak boleh ambil ikan dengan bom. Namun dengan kesabaran akhirnya lambat laun mereka sadar,”  tambah Ikhwan Arif.

Hingga akhirnya, kegiatan kelpompok nelayan ini terus tumbuh. Mulai dari penanaman vegetasi pantai, transpalantasi terumbu karang, pengawasan aktivitas nelayan lain juga dilakukan untuk menjaga laut dari kerusakan. Ditahun 2009, muncul ide untuk membuat kawasan perlindungan laut di Bangsring. Kaawasan ini merupakan wilayah konservasi yang dibuat nelayan untuk kembali “mendatangkan ikan” melalui pertumbuhan terumbu karang dikawasan tersebut.

Bangsring 3“Tahun 2013 ternyata upaya kita membuahkan hasil. Terumbu karang alami dan buatan yang kita tanam dan jaga tumbuh bagus. Ikan-ikan hias dan ikan konsumsi muncul dikawasan tersebut,” ujarnya.

Hingga akhirnya, tahun 2014, sekelompok aktivis lingkungan dan akademisi melontarkan ide untuk membuka kawasan konservasi tersebut menjadi tempat wisata. Awalnya kelompok nelayan Bangsring menolak hal tersebut. Karena dikhawatirkan akan merusakan terumbu karang dan ekosistem yang sudah tumbuh itu. Namun setelah adanya konsep eco tourisme nelayan Samudera Bakti akhirnya mau membuka kawasna konservasi itu menjadi destinasi wisata berbasis konservasi.

“Awalnya kita menolak. Taapi setelah adanya tawaran eco tourisme itu kami mau. Asal tidak merusak lingkungan. Kita tetap pakai semangat konservasi sehingga aktivitas konservasi tidak boleh kalah dengan pariwisata. Alhamdulillah ramai dan banyak pengunjungnya. Ini merupakan respon positif apa yang sudah kita lakukan ternyata direspon masyarakat,” tambah Ikhwan Arif.

Saat ini, kata Ikhwan Arif, wisatawan yang berkunjung di Bangsring Underwater untuk long weekend mencapai 3 ribu orang. Sementara untuk hari libur Sabtu dan Minggu serta hari besar berkisar antara 500 hingga 1000 orang. Namun meski banyak wisatawan yang datang ke Bangsring Underwater, kegiatan konservasi kelompok nelayan Samudera Bakti tetap dilakukan hingga saat ini. Bahkan nelayan mencoba memperluas kawasan penanaman terumbu karang di sekitar Bangsring Underwater.

Bangsring 4Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyambut positif semangat masyarakat, untuk meningkatkaan perekonomiannya membuat destinasi wisata berbasis konservasi ini. Hal ini semakin mengukuhkan Banyuwangi menjadi kabupaten yang konsisten membangun daerahnya dengan pariwisata. Bahkan bentuk apresiasi Pemkab Banyuwangi terhadap perjuangan nelayan Bangsirng ini, kabupaten berjuluk Sunrise of Java ini menggelar kegiatan festival bertajung  Underwater Festival yang digelat tanggal 21 dan 22 Mei 2016.

“Kami ingin mengenalkan wisata alam bawah laut Banyuwangi yan memukau. Ini keseirusan kami membangun daerah kami dengan pariwisata namun tetap menjaga alam dan konservasi wilayah ini. Salu untuk teman-teman nelayan Bangsring. Harapannya, kegiatan seperti ini bisa dicontoh nelayan lain,” ujar pria berkaca mata ini.
(dnu/dnu)

Sumber:

http://news.detik.com/berita/3207426/bangsring-underwater-destinasi-wisata-berbasis-konservasi-terumbu-karang

KOMENTAR
Tags
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close