Bangkit di Balik Keterbatasan

Bangkit di Balik Keterbatasan

Oleh: Rochmat Wahab

UMUMNYA orang yang memiliki keterbatasan fisik, mental, emosi dan sosial dalam penampilannya seringkali dibarengi dengan apologi. Tidak bisa melihat atau buta, tidak bisa berjalan karena salah satu atau kedua kaki atau tangannya cacat, atau keterbatasan lainnya terus meminta-minta di perempatan jalan atau dari rumah ke rumah. Secara selintas perilaku ini bisa dimaklumi. Namun bagi siapapun yang cacat seperti tetsebut yang memiliki hati dan spirit terpuji, mereka tidak berhenti berusaha untuk mengeksplorasi potensinya, sehingga mereka bisa hidup mandiri baik secara ekonomi maupun sosial.

Individu yang cacat itu ada yang tingkat tingkat berat, menengah dan ringan. Ada yang mereka yang tidak bisa mengatasi hidupnya sendiri dan bergantung orang lain, setengah tergantung dan setengah mandiri dan ada yang mandiri. Soal kemandirian umumnya tergantung pada tingkat berat dan ringannya. Namun ada yang cacat tingkat berat pun bisa mandiri. Demikian pula ada yang tingkat ringan tapi hidupnya tergantung. Semuanya itu akhirnya kembali kepada yang bersangkutan, di samping peran lingkungan yang bisa membuat mereka bisa hidup mandiri.

Kecacatan pada seseorang itu bisa dibawa sejak lahir. Ada juga yang didapat ketika dan setelah lahir. Yang dibawa sejak lahir memang ada sifat keturunan yang dibawa oleh orangtuanya, ada juga akibat konsumsi obat yang mengandung unsur kimia atau benturan yang terjadi ketika hamil, apakah jatuh atau atau lainnya, sehingga mengganggu embrio yang masih ada dalam kandungan. Adapun kecacatan yang diperoleh waktu kelahiran sebagai akibat dari benturan alat bantu untuk proses kelahiran atau lainnya. Demikian juga kecacatan setelah lahir bisa akibat dari pengaruh fisik atau non fisik yang berupa jatuh atau kecelakaan, atau makan yang mengandung racun atau lingkungan sosial yang kurang kondusif, bisa lingkungan jahat dan maksiat serta media masa yang tak sehat.

Pada kenyataannya individu yang cacat cenderung di-victimize oleh masyarakat. Anggota masyarakat menganggap mereka yang cacat itu tak berdaya (powerless). Mereka terkurangi atau terhilangkan kapasitas fisik dan mentalnya. Bahkan ekstrimnya, kehadirannya dipandang sebagai “lasykar tak berguna”, atau “anggota masyarakat yang terbuang”. Padahal tidak sedikit ada sejumlah orang cacat yang mampu tunjukkan kemampuan atau kelihaiannya dalam hal tertentu, apakah di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, atau keagamaan. Mereka yang cacat itu pada hakekatnya memiliki human right, yang wajib juga dilindungi dan dijaga serta dihargai. Karena itu tidak ada alasan untuk diabaikan atau dibuang. Betapapun terbatas potensinya.

Untuk menjadi manusia yang bisa eksis dan berkembang, individu yang cacat perlu diterima dengan baik. Mereka perlu diasuh, dilatih, dibimbing, diajar, dan dididik. Mereka perlu diasses potensinya sedini mungkin, perlu dilayani sesuai demgan kebutuhannya, perlu dibantu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Dari berbagai perlakuan, ada anak cacat yang tumbuh dan berkembang serta berhasil dengan baik. Ada juga yang gagal dan tidak menunjukkan hasil yang terbaik. Individu cacat yang berhasil mengeksplorasi potensi dan menampilkan prestasi yang membanggakan, kadang-kadang hasilnya tidak hanya layak untuk dipamerkan saja, melainkan juga sangat layak dipasarkan dengan harga dan nilai yang sangat baik. Mereka juga tampil sangat mandiri dan membanggakan. Mereka tampil sangat mengagumkan, apakah sebagai pemain musik, penyanyi, qari’ atau qari’ah, hafidz atau hafidzah, programmer, dan sebagainya. Yang kadang-kadang melebihi dari kita yang normal, sebagaimana dibuktikan anak Autis yang hafal 30 juz Al Qur-an. Untuk mewujudkan potensi anak-anak cacat, sangat diperlukan pendidikan kompensatif, pembelajaran dengan pendekatan task analysis, pembiasaan (habituating), dan scaffolding, yang bertumpu pada kurikulum dan pembelajaran berdiferensiasi.

Kepada yang cacat dan memiliki prestasi yang gemilang perlu mendapatkan penghargaan dan rekognisi yang selayaknya. Dengan penghargaan yang layak dan tak berlebihan akan bisa membuat mereka mempertahankan capaiannya dan memajukan prestasinya. Insentif yang baik dan sehat sangat positif pengaruhnya terhadap kinerja anak berkebutuhan khusus itu. Namun jika kita tidak peduli atau tidak memberikan apresiasi yang memadai, boleh jadi bisa men-discourage mereka.

Tidak semua anak cacat atau berkebutuhan khusus itu memiliki semangat yang baik, dan berada di lingkungan yang kondusif atau mendukung serta menfasilitasi. Akibat yang didapat, mereka gagal hidupnya. Mereka sangat menggantungkan diri kepada lingkungan dan membebani sepenuhnya lingkungan keluarga dan masyarakat. Apapun kondisinya mereka tetap manusia. Kita perlu eksplorasi potensi yang ada, sehingga minimal mereka bisa mandiri dalam kehidupan sehari-hari.

Di sinilah sangat diperlukan kepedulian total orangtua, masyarakat, dan pemerintah baik secara sendiri-sendiri maupun secara sinergis. Di samping itu perlu program dan tindak afirmatif dari pemerintah dan masyarakat serta dunia usaha ds. Dunia industri, sehingga perlu perlakuan khusus untuk mereka yang berkutuhan khusus untuk bangkit dan berikhtiar mengembangkan diri secara optimal. Tindakan mengayomi ini sesuatu yang sangat terpuji dan mampu membangun peradaban manusia. Apalagi yang tidak kalah pentingnya, adalah melakukan pembinaan kehidupan beragama bagi mereka. Walau di dunia belum bisa meraih kebahagiaan optimal, mereka masih punya harapan besar untuk meraih kebahagiaan di akhirat. Bahkan boleh jadi bida jauh melebihi dari orangtua yang tinggi kabatan atau kaya raya yang tidak taat ibadahnya.

Akhirnya bahwa kehadiran insan yang cacat atau berkebutuhan khusus harus kita apresiasi dan respek. Mereka adalah makhluk ciptaan Allah swt yang diberi ujian kekurangan dan sekaligus diberi kelebihan. Dengan sikap respek yang akan muncul adalah kelebihan di balik kekurangan yang tampak. Karena itu kita harus menjauhkan dari sikap undereatumate. Buktinya cukup banyak kasus, cacat fisik, buta, dan autis tapi hafal 30 juz Al Qur-an, sebaliknya kita yang normal, gelar tertinggi bahkan profesor pun banyak yang tidak bisa hafal seperti mereka. Semoga hati kita tetap terjaga sehingga bisa bersikap kepada lebih bijak dan membantu untuk tumbuh kembang mereka. Insya Allah dengan sikap kita yang positif, mereka bisa bangkit, sehingga tidak hanya mampu mandiri dalam kehidupan sehari-hari saja, tetapi bisa mandiri secara ekonomi dan sosial, secara spiritual, sehingga mereka menjadi insan yang bermartabat. Aamiin.

*Prof. Dr. Rochmat Wahab, Uru Besar dan mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta.