Bangga Menjadi Santri

Bangga Menjadi Santri

ENAM tahun lalu, 22 Oktober 2015, Presiden Jokowi menetapkan sebagai hari bersejarah bagi para santri di Masjid Istiqlal, Jakarta. Sebagai bagian dari janji politik Presiden Jokowi dalam kampanye Pilpres, bahwa ia akan memberikan kado terindah bagi keluarga besar pesantren, khususnya bagi segenap para kiai dan santri, yaitu HARI SANTRI NASIONAL. Presiden benar-benar menunaikan janjinya. Terima kasih Pak Presiden.

Sebelumnya dalam sebuah safari Capres, saya turut serta dalam rombongan Jokowi untuk sowan ke Buya Syafii di Yogjakarta, lalu melanjutkan perjalanan ke Jawa Tengah untuk sowan ke almarhum Kiai Maimun Zubair di Serang, KH. Mustofa Bisri di Rembang, dan KH. Dimyati Rois di Kendal. Dalam perjalanan itu, terjadi perbincangan ringan di antara kami yang mendapingi Capres. Di dalam mobil, saya bersama Ahmad Basarah (Politisi PDI Perjuangan), Nusron Wahid (Politisi Golkar), dan Marwan Ja’far (Politisi PKB). Tiba-tiba terlintas untuk merumuskan gagasan perlunya mencetuskan Hari Santri Nasional. Setelah itu gagasan perihal Hari Santri Nasional menggelinding deras, tak terbendung. 

Maklum, perbincangan tersebut lahir karena kami yang mendampingi Capres berasal dari kalangan santri dan momennya sedang melakukan sowan dan safari politik ke sejumlah pesantren. Jasa para santri terhadap republik sudah sangat besar, tetapi penghargaan republik terhadap para santri masih belum maksimal. 

Saya pribadi sejak tahun 2002 hingga 2008 aktif di Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Saya dan sejumlah kiai merumuskan konsep penyetaraan (mu’adalah) sejumlah pesantren salaf dan pesantren modern agar setara dan diakui, sebagaimana lembaga pendidikan nasional lainnya. Namun, upaya tersebut selalu kandas di tengah jalan, karena perjuangan kami hanya menggunakan pendekatan kultural. Intinya, memulai gagasan agar negara dan pemerintah memberikan pengakuan terhadap peran pesantren dalam membangun negeri ini.

Momentumnya baru lahir setelah beberapa tahun kemudian. Presiden Jokowi yang diusung oleh PKB yang notabene Partai yang mempunyai basis pendukung kalangan pesantren dan Nahdlatul Ulama menyerap dengan baik aspirasi kalangan pesantren. Jangan lupa, PDI Perjuangan melalui Ahmad Basarah dan Prof. Hamka Haq dalam beberapa safari politik ke sejumlah pesantren selalu menegaskan komitmen Jokowi dan PDI Perjuangan untuk menghadiahkan kado terindah bagi keluarga besar pesantren di seluruh penjuru negeri.

Saya masih ingat pesan Mbah Moen—panggilan akrab almarhum KH. Maimun Zubair—kepada Jokowi saat itu, “Jika Indonesia mau maju dan kokoh menghadapi tantangan dari luar sekalipun, santri dan kaum nasionalis harus kompak”. Pesan ini pula disampaikan almarhum Mbah Moen kepada Ibu Megawati Soekarnoputri sebelum berangkat menunaikan ibadah haji terakhir kali dan untuk selamanya.

Momentum Hari Santri Nasional bukan hanya momentum serimonial. Hari Santri Nasional mempunyai makna yang sangat mendalam. Memang, bagi kami kaum santri adalah momen yang sangat indah. Saya meneteskan air mata saat disahkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Para santri harus berbuat banyak untuk negeri ini dengan memberikan pencerahan dan keteladanan dalam mengawal republik.

Akhirnya negara dan pemerintah menunaikan kebijakan dan kebijaksanaanya untuk mengakui dan memberikan perhatian serius terhadap santri dan pesantren. Puncaknya, Jokowi tidak hanya mengukuhkan Hari Santri Nasional, tetapi juga membuktikan komitmennya dengan mengesahkan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren. Barangkali ada yang masih bertanya, kenapa harus ada Hari Santri Nasional? 

Saya masih ingat, saat Jokowi sebagai Capres pada tahun 2014 lalu, ada politisi PKS dalam kicauannya menyebut Jokowi sinting karena berjanji akan menetapkan Hari Santri. Ini membuktikan betapa masih banyak warga yang tidak memahami sejarah republik, khususnya bagaimana peran santri dalam melahirkan dan menjaga republik. Bahkan, saya juga bisa mengajukan pertanyaan: apa mungkin Indonesia bisa merdeka dan kokoh hingga sekarang ini tanpa peran dan perjuangan para santri? 

Ada seorang penulis dari Libanon, Muhammad Asad Shahab, memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya terhadap Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari sebagai peletak pertama batu-bata kemerdekaan Indonesia, yang diuraikan dalam sebuah buku, Al-‘Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari: Wadhi’u Labinati Istiqlal Indonesia. 

Pengakuan tersebut bukan tanpa argumen yang kokoh. Indonesia dan pesantren merupakan dua belah mata uang logam yang tidak bisa dipisahkan. Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dan para ulama NU menjadi bintang yang senantiasa menyinari negeri ini karena perjuangannya. Sikap NU sejalan dengan perjuangan para pendiri bangsa lainnya, terutama Bung Karno. Bahkan, Bung Karno dikisahkan pernah belajar dari Syaichona Khalil Bangkalan, sering bertukar pikiran dengan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, dan bersahabat dengan KH. Wahab Hasbullah, KH. Saifuddin Zuhri dan lain-lain.

Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari senantiasa menanamkan cinta Tanah Air kepada para santri, karena cinta Tanah Air adalah bagian dari Iman. Sebab itu, dalam berbagai momen perlawanan terhadap kolonialisme, para santri selalu berada di garda terdepan untuk melahirkan, menjaga, dan membangun republik. 

Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 menjadi momen yang bersejarah di antara momen-momen bersejarah lainnya, karena para santri berada di garda terdepan untuk melawan penjajah yang ingin merampas dan menggagalkan kemerdekaan RI. Sejumlah santri gugur dalam pertempuran melawan tentara Inggris, tetapi para satri berhasil memenangkan pertarungan melawan penjajah.

Dalam momen-momen bersejarah lainnya, para santri terus meneguhkan komitmennya terhadap NKRI. Tidak pernah luntur sejengkal pun komitmen para santri untuk menjaga NKRI dari berbagai rongrongan. Sebab itu, NU memberikan dukungan penuh terhadap Bung Karno dalam masa-masa genting dengan memberi gelar waliyyul ‘amri al-dharuri bi al-syawkah. Ini bentuk dan cara NU memberikan penghargaan dan penghormatan terhadap Bung Karno sebagai Bapak Proklamator dan Bapak Bangsa. Mendukung Bung Karno adalah mendukung tegaknya dan kokohnya NKRI.

Dalam perjalanan republik, para santri melalui NU terus menjaga dan membumikan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Sebab Pancasila merupakan kalimatun sawa dan mitsaqan ghalidha, yang mampu membangun persaudaraan dan persatuan di tengah keragaman agama, suku, dan bahasa. 

Dalam ekspresi keislaman, para santri selalu mengedepankan Islam yang moderat, toleran, dan ramah. Para santri terus melanjutkan dan meneladani langgam keberagamaan para leluhur, khususnya Wali Songo yang mengedepankan keislaman yang berkebudayaan. Dakwah Islam  dibangun di atas kearifan budaya yang dapat membangun kebanggaan sebagai sebuah negara bangsa yang berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. 

Maka dari itu, dalam muktamar NU 2015 lalu, kami menegaskan Islam Nusantara sebagai karakteristik keberislaman yang membangun spiritualitas (ruh diniyyah), pluralitas (al-ta’addudiyyah), nasionalisme (al-wathaniyyah), dan humanisme  (al-insaniyyah).  Ini semua adalah akhlak dan jiwa para santri yang tidak akan pernah luntur hingga akhir zaman. 

Kami para santri ingin melihat Indonesia selalu tersenyum dan penuh canda-tawa. Indonesia yang maju, toleran, sentosa, dan berkeadilan. Sekarang kami para santri sangat bangga dan bahagia, karena kami telah diakui oleh republik. Tentu terima kasih kami dihaturkan kepada Presiden Jokowi yang telah memberikan kado terindah bagi kami para santri. Jazakallahu khairan katsiran wa ahsanal jaza, Pak.

*Zuhairi Misrawi Cendekiawan Nahdlatul Ulama, Ketua Baitul Muslimin Indonesia Bidang Hubungan Antar-Agama