Azerbaijan Klaim Hancurkan Situs Rudal Armenia 

Azerbaijan Klaim Hancurkan Situs Rudal Armenia 
Azerbaijan

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Azerbaijan mengklaim, mereka menghancurkan situs peluncuran rudal yang dipakai Armenia menyasar area sipil di Nagorno-Karabakh.

Klaim itu kemudian dibenarkan Kementerian Pertahanan Armenia, yang menyatakan serangan itu terjadi di dalam wilayah mereka, Yerevan membantah militernya yang memulai serangan, sebelum kemudian menuturkan mereka kini punya pembenaran untuk membombardir Azerbaijan.    

Nampaknya ini adalah kali pertama bagi Baku mengonfirmasi menghancurkan target di dalam negara lawan, sejak perang berkecamuk di Nagorno-Karabakh. Di wilayah itu sejak 27 September, militer Azerbaijan harus menghadapi kelompok separatis yang mendapatkan sokongan dari Armenia. Berdasarkan pengakuan Kementerian Pertahanan Azerbaijan, mereka menghancurkan sistem rudal balistik dan roket musuh dalam dua serangan. 

Dilansir AFP, Baku menerangakn sistem tersebut dipasang di area yang berbatasan dengan Distrik Kalbajar, dan dikuasai separatis. Situs itu diklaim dipergunakan Yerevan untuk menyasar kota Ganja, Mingachevir, dan tempat sipil lainnya, seraya menambahkan mereka tak menghancurkan area warga biasa. 

Juru bicara kemenhan Shushan Stepanyan mengatakan, dia membenarkan bahwa negara tetangga mereka itu sudah menghancurkan fasilitas di dalam negara. Dalam kicauannya di Twitter, Stepanyan menjelaskan serangan itu berdsarkan asumsi sesat bahwa rudal balistik itu dipakai menyerang sipil. 

"Tanpa diragukan, ini jelas asumsi yang tidak didasarkan pada fakta. Padahal tak ada satu pun senjata yang diarahkan ke wilayah mereka," kata dia. 

Karena itu, Stepanyan kemudian menegaskan bahwa Armenia kini mempunyai pembenaran guna melancarkan serangan balasan ke dalam Azerbaijan. Baku tembak di Nagorno-Karabakh antara dua negara pecahan Uni Soviet itu terus berlangsung meski pada akhir pekan, gencatan senjata tercapai. 

Hingga saat ini, sekitar 600 orang tewas dalam perang itu, di mana kelompok separatis menyatakan mayoritas adalah tentara mereka.