Mutiara Hikmah

Ayah, Bagaimanakah Rasanya Sendirian Dalam Kuburan?

Ayah, Bagaimanakah Rasanya Sendirian Dalam Kuburan?
Ahmad Rofi'Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

Ayah. Sungguh, tidak pernah aku alami hari seperti hari ini!”

Demikian ucap sangat sedih yang memerihkan hati seorang remaja puteri. Rambutnya kusut masai dan berjalan tanpa mengenakan telapak kaki. Sama sekali. Di belakang iring-iringan sebuah keranda jenazah.

Mendengar ucapan yang memerihkan hati yang demikian, seorang Tuan Guru yang juga mengiringi jenazah itu, setiba di pemakaman, kemudian mendekati remaja puteri itu. Kemudian, ketika telah dekat dengan remaja itu, Tuan Guru itu pun berucap pelan kepada remaja itu, “Anakku. Ayahmu juga tidak pernah menemui hari seperti hari ini.”

Esok harinya, sesuai melaksanakan shalat Subuh dan selepas matahari menampakkan senyumnya, sang Tuan Guru mendengar seorang remaja puteri sedang menangis pelan lewat di depan rumahnya dan berjalan cepat menuju pemakaman. Ketika tahu remaja puteri itu, ternyata, adalah remaja puteri yang menangisi ayahnya kemarin, sang Tuan Guru kemudian mengikuti jejak langkah remaja itu seraya bergumam, “Cewek itu tampak pintar. Lebih baik ia aku ikuti. Siapa tahu, ada ucapannya yang bermanfaat. Bagi diriku!”

Ketika tiba di pemakaman, sang Tuan Guru dengan diam-diam mendekati remaja puteri yang sedang berjongkok dan meletakkan pipinya di atas makam ayahnya seraya berucap:

 “Ayah. Bagaimana rasanya sendirian dalam kuburan yang kelam dan tanpa lentera begini. Juga, tanpa penghibur? Bila kemarin aku ini masih menyulut lentera untukmu, kini siapakah yang menyulutnya? Bila kemarin aku ini juga masih sempat menggelar hamparan untukmu, kini siapakah yang menggelarkannya untukmu? Bila kemarin malam akulah yang mengurut kaki dan tanganmu, siapakah yang mengurutmu tadi malam? Akulah kemarin dulu yang menuangkan minumanmu, kini siapa? Akulah kemarin dulu yang membalikkan tubuhmu agar dapat berbaring lebih nyaman, lalu kini siapa? Akulah yang menyelimuti tubuhmu kemarin malam, lalu siapakah yang menyelimutimu tadi malam? Akulah yang memperhatikan wajahmu kemarin malam, lalu siapakah yang memperhatikan wajahmu tadi malam?

Ayah. Kemarin dulu, ketika engkau memanggil kami, kami pun memenuhi panggilanmu. Lalu, kini, siapakah yang melakukannya? Akulah kemarin dulu yang menyuapkan makanan ketika engkau ingin makan. Apakah engkau tadi malam ingin makan dan siapakah yang menyuapi engkau? Akulah yang biasa memasakkan aneka ragam makanan untukmu. Lalu, kini, siapakah yang memasakkan engkau?”

Mendengar kata-kata yang demikian, sang Tuan Guru tidak kuasa menahan lelehan air matanya. Lama. Dan, beberapa waktu kemudian, ia menampakkan diri di hadapan remaja puteri itu. Lantas, ucapnya lirih, “Anakku. Sebaiknya, tidak berucap demikian. Namun, ucapkanlah, ‘Ayah. Aku telah menghadapkan tubuhmu ke arah kiblat. Apakah, kini, engkau tetap menghadap ke arah kiblat. Atau apakah engkau telah berpaling? Ayah. Telah kukenakan ke jasadmu kain kafan terbaik. Apakah, kini, kain itu telah engkau lepaskan? Ayah. Engkau kuletakkan di kubur ini dengan jasad yang mulus. Masihkah, kini, engkau tetap sebagaimana sediakala? Atau engkau telah dimakan cacing?

Ayah. Banyak ulama mengatakan, orang yang mati akan mempertanggungjawabkan imannya di hadapan malaikat. Apakah engkau telah menjawabnya dengan baik? Atau malah engkau tidak kuasa menjawabnya? Ayah. Banyak ulama mengatakan, kubur kadang menjadi sempit dan kadang menjadi lapang untuk penghuninya. Engkau mendapatkan bagian yang mana? Ayah. Banyak ulama mengatakan, semua orang yang mati akan diganti kafannya dengan kafan surga atau neraka. Kafan manakah yang dijadikan pengganti kafanmu?

Ayah. Banyak ulama mengatakan, kubur adalah taman surga atau atau sebagian dari jurang neraka. Manakah yang kini engkau masuki? Ayah. Banyak ulama mengatakan, kubur kadang menerima penghuninya laksana seorang ibu menimang-nimang anak tersayangnya, kadang menghimpitnya hingga seluruh sendi-sendinya menyatu. Dipeluk sayangkah engkau atau dihimpit olehnya?

Ayah. Banyak ulama mengatakan, seseorang yang memasuki kubur menjadi sedih, meratap mengapa ketika di dunia tidak banyak berbuat kebaikan. Sedangkan seseorang yang kerap berbuat maksiat lebih banyak menyesali perbuatannya sebelum itu. Apakah engkau menyesal atas amalmu yang sedikit atau karena perbuatan maksiat yang pernah engkau lakukan?

Ayah. Manakala aku memanggilmu, kala engkau masih hidup di dunia yang fana ini, engkau senantiasa menjawab. Kini, aku memanggilmu di atas kuburmu. Bagaimanakah aku sampai tidak mendengar jawabanmu? Ayah. Engkau kini pergi dan kita tidak mungkin bertemu lagi di dunia yang fana ini. Hingga Hari Kiamat nanti. Allâhumma ya Allâh, perkenankanlah kiranya aku dapat bertemu kembali dengan ayahku. Di Hari Kiamat nanti, amin.’”

Begitu sang Tuan Guru usai berucap demikian, remaja itu pun berucap, “Tuan. Betapa indah ucapan dan doa yang engkau ajarkan tentang tangis kesedihan terhadap ayahku itu. Betapa bagus nasihat yang engkau berikan kepadaku. Engkau telah mengingatkan aku tentang sifat lena orang yang lupa atas belas kasih Allah SWT.”

Usai berucap demikian, remaja puteri itu kemudian meninggalkan pemakaman. Dengan langkah-langkah gontai sambil menahan lelehan air mata. Yang membasahi kedua pipinya. Diiringi doa khusyuk sang Tuan Guru, Al-Hasan Al-Bashri, seorang ulama kondang dari kalangan para tabiin (generasi selepas generasi para sahabat Nabi Muhammad SAW.), kiranya remaja puteri itu menjadi anak salihah. Yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya!