Aturan Monetisasi Konten ala YouTube

13:30
183
JAKARTA, SENAYANPOST.com – Setelah terjadi insiden Logan Paul, YouTube mulai mengetatkan aturan konten dan monetisasi dari platform tersebut. Anak usaha Goo

JAKARTA, SENAYANPOST.com –  Setelah terjadi insiden Logan Paul, YouTube mulai mengetatkan aturan konten dan monetisasi dari platform tersebut. Anak usaha Google tersebut akan menghapus opsi monetisasi pada video yang melanggar, khususnya akses ke program iklan.

Wakil Presiden Manajemen Produk YouTube Ariel Bardin mengungkapkan, langkah lebih jauh akan mereka lakukan pengurangan popularitas bagi akun-akun yang memiliki konten menyinggung. Pengurangan popularitas ini akan berdampak pada lebih sulitnya akun ditemukan.

“Kami dapat menghapus kelayakan suatu saluran agar tak lagi direkomendasikan di YouTube, seperti tak lagi muncul di beranda kami, tab yang sedang tren atau tonton berikutnya,” ujarnya seperti yang dilansir dari TechCrunch.

Pertama, YouTube bisa menghapus sebuah channel dari Google Preferred dalam program Premium Monetization, Promotion dan Content Development Partnership.

Kedua, platform video ini bisa membatalkan dan membekukan channel kreator. YouTube pun akan menghentikan kemampuan sebuah channel untuk menampilkan iklan, dan mungkin menghapus channel dari program YouTube Partner, termasuk creator support dan akses ke YouTube Spaces.

Ketiga, mereka tak akan merekomendasikan video kreator di halaman depan, tab atau pun tonton selanjutnya. Ini akan sangat berdampak pada penonton channel kreator yang mendapat sanksi. YouTube akan menggunakan kurator manusia dan kecerdasan buatan untuk menyelidiki video mana yang mengandung konten menyinggung.
Langkah ini diambil untuk meningkatkan kualitas video di platformnya. Pasalnya, YouTube ditonton oleh jutaan orang setiap hari, namun memiliki banyak konten komedi yang menyinggung. Konten-konten ini sering mengatasnamakan kebebasan berekspresi.

Namun kini, YouTube ingin memberikan sanksi pada kreator dan channel yang mengunggah konten yang berisi propaganda, konten yang tak sesuai dengan anak, hingga video yang mengakibatkan trauma.

“Ketika kreator melakukan sesuatu yang sangat mencolok, seperti melakukan lelucon keji di mana orang bisa mengalami trauma, mempromosikan kekerasan atau kebencian terhadap sebuah kelompok, menunjukkan kekejaman kepada orang lain dalam rangka untuk mendapatkan penonton atau subscriber, hal itu dapat menyebabkan kerusakan yang permanen kepada masyarakat, termasuk pemirsa, pencipta dan dunia luar,” tulis Bardin.

Comments

comments