Gaya Hidup

Asteroid Pemusnah Dinosaurus Hantam Bumi dari Sudut Mematikan

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Studi yang dilakukan oleh sejumlah universitas menyatakan asteroid Chicxulub yang memusnahkan dinosaurus pada 66 juta tahun yang lalu, menghantam bumi pada sudut yang mematikan.

Dalam studi yang diterbitkan di Nature Communications, batu ruang angkasa raksasa itu menghantam dari sudut paling mematikan, yakni 60 derajat.

Dampak dari hantaman pada sudut itu membuat puing-puing dan gas terlontar ke atmosfer atas dan mengubah iklim, serta membunuh beragam dinosaurus hingga punah.

Melansir Science Alert, para peneliti menganalisis struktur kawah selebar 200 kilometer (125 mil) di selatan Meksiko, tempat asteroid menghantam bumi guna mengetahui sudut hantaman. Dalam proses itu, para peneliti juga melakukan serangkaian simulasi 3D.

Penulis utama Gareth Collins dari Imperial College London dan rekan-rekannya di Universitas Freiburg dan Universitas Texas melihat empat kemungkinan sudut tumbukan, yakni 90, 60, 45, dan 30 derajat. Mereka juga menemukan dua kemungkinan kecepatan hantaman, yakni 12 dan 20 kilometer per detik.

“Enam puluh derajat adalah sudut tumbukan yang lebih mematikan karena mengeluarkan sejumlah besar bahan yang cukup cepat untuk menelan planet ini,” kata Collins.

“Dampak asteroid Chicxulub memicu kepunahan massal karena mengeluarkan sejumlah besar debu dan gas keluar dari kawah cukup cepat untuk menyebar di seluruh dunia,” ujarnya.

Collins menyampaikan tidak akan ada banyak puing-puing di atmosfer jika asteroid itu mengenai bumi pada sudut yang lebih miring.

Melansir CNN Indonesia, hantaman asteroid seperti itu mungkin melepaskan miliaran ton belerang dan gas-gas lain ke atmosfer, menghalangi matahari dan mengarah ke pendinginan dramatis iklim Bumi.

Collins berkata studi sebelumnya telah menemukan bahwa asteroid itu menabrak pada sudut yang lebih dangkal dan datang dari tenggara.

Temuan itu didasarkan pada interpretasi yang berbeda dari data geofisika dan pengamatan pada waktu itu menunjukkan bahwa ejecta dari kawah asimetris, dengan lebih banyak ejecta di Amerika Utara (ke barat laut) daripada di tempat lain.

“Pengamatan yang lebih baru menunjukkan bahwa distribusi ejecta lebih atau kurang simetris,” kata Collins.

Peneliti diketahui memeriksa bentuk dan struktur kawah dan batu yang diekstraksi dengan menggali ke dalam kawah, yang berisi bukti kekuatan ekstrim yang dihasilkan oleh dampak.

“Meskipun terkubur di bawah hampir satu kilometer batuan sedimen, sungguh luar biasa bahwa data geofisika mengungkapkan begitu banyak tentang struktur kawah, cukup untuk menggambarkan arah dan sudut dampak,” kata Auriol Rae, seorang peneliti pascadoktoral di Universitas Freiburg. (Jo)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close