Asap Kebakaran Hutan di AS Mencapai Eropa

Asap Kebakaran Hutan di AS Mencapai Eropa
Api dari kebakaran hutan akibat sambaran petir di California, Amerika Serikat, menjalar sampai ke dekat jalan tol. Jalan itu langsung ditutup total tak lama setelahnya, pada Rabu (19/8/2020). (AP)

LOS ANGELES, SENAYANPOST.com - Kebakaran hutan di California makin parah. Dilaporkan Asap dari kebakaran hutan itu bahkan mencapai ke Eropa.

Pihak berwenang memperingatkan pada Rabu 16 September 2020, dengan angin kencang dan panas kering diperkirakan akan menyalakan api dari belasan titik panas api yang mengamuk di seluruh negara bagian.

Gubernur California Gavin Newsom mengatakan, meskipun petugas pemadam kebakaran telah membuat kemajuan dalam pertempuran mereka untuk menahan lebih dari 20 kebakaran hutan besar. Mereka khawatir angin Santa Ana dapat memicu kobaran api tanpa henti.

"Dengan kejadian angin yang dialami saat ini dan apa yang antisipasi dalam beberapa hari mendatang, kami harus berhati-hati. Bahkan dengan jumlah penahanan yang tinggi, api sepertinya terus berada di belakang kami," kata Newsom, seperti dikutip AFP, Kamis (17/9/2020).

Menyoroti skala bencana yang sedang terjadi, Newsom mengatakan, California sejauh ini tahun ini telah mengalami 7.606 kebakaran dibandingkan dengan 4.972 pada 2019.

Dia mengatakan api telah melahap hampir 2,3 juta hektar lahan dengan 1,5 juta di antaranya sejak pertengahan Agustus. Angka ini meningkat tajam dibandingkan dengan 118.000 tahun lalu.  

Newsom juga mengecam Presiden AS Donald Trump, yang mengunjungi negara bagian itu awal pekan ini. “Dia tidak memiliki kesabaran untuk penyangkal perubahan iklim yang menolak bukti ilmiah yang semakin meningkat. Bahwa peristiwa cuaca ekstrem terkait dengan pemanasan global,” ujar Newsom.

Trump selama kunjungannya meremehkan kekhawatiran iklim atas kebakaran hutan. Dia mengatakan bahwa pemanasan global akan berbalik dengan sendirinya.

Sementara ilmuwan senior dan pakar kebakaran di Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) Eropa, Mark Parrinton, skala dan besarnya kebakaran ini berada pada tingkat yang jauh lebih tinggi daripada 18 tahun yang dicakup data pemantauan kami sejak 2003.

“Api mengeluarkan begitu banyak polusi sehingga asap tebal terlihat lebih dari 8.000 kilometer jauhnya di Eropa utara,” tutur Parrington.

Asap terberat dari kebakaran tetap ada di Pantai Barat AS, dengan kota-kota seperti Los Angeles dan San Francisco mencatat beberapa kualitas udara terburuk di dunia.


Pusat Kebakaran Antar Lembaga Nasional mengatakan, petugas pemadam kebakaran yang kelelahan sekarang sedang memerangi 79 kebakaran besar, dengan "kemungkinan cuaca kritis" diperkirakan terjadi di timur laut California.

"Dengan tidak ada curah hujan signifikan yang terlihat, California tetap kering dan siap menghadapi kebakaran hutan," kata badan pemadam kebakaran negara bagian Cal Fire.  

Salah satu kobaran api di dekat Los Angeles, yang dijuluki Bobcat Fire, ditutup di sebuah observatorium bersejarah pada Selasa tetapi kru berhasil melindungi struktur tersebut.

Selain California, yang telah menanggung beban terbesar dari total korban tewas lebih dari 30, negara bagian Oregon dan Washington juga mengalami rekor kebakaran yang telah merambah pusat populasi utama.

Di Oregon, 10 orang tewas dalam kebakaran yang dipicu oleh kondisi kering. Hujan diharapkan membawa bantuan yang sangat dibutuhkan untuk beberapa bagian Oregon dan Washington pada Rabu.

Api di sepanjang Pantai Barat  sejauh ini telah menghanguskan lebih dari dua juta hektar dan memaksa puluhan ribu orang mengungsi.

Bencana tersebut telah membawa isu pemanasan global ke garis depan kampanye kepresidenan AS, dengan waktu kurang dari dua bulan sebelum pemilu.

Secara historis sulit untuk membuktikan hubungan antara peristiwa cuaca ekstrim individu dan perubahan iklim. Namun, ada bukti yang berkembang yang menunjukkan kobaran api seperti yang terjadi di AS tidak akan begitu kuat dan meluas tanpa pemanasan yang disebabkan umat manusia di Bumi selama era industri.

Secara umum, perubahan iklim telah terbukti meningkatkan kekeringan yang mengeringkan daerah, menciptakan kondisi ideal untuk kebakaran hutan. Sedangkan dampak ekonomi dari kebakaran tahun ini diperkirakan akan mengejutkan, dengan seorang ahli memperkirakan kerusakan lebih dari USD20 miliar.

Pihak berwenang juga telah memperingatkan bahwa asap dari kebakaran dapat memperburuk pandemi virus korona, karena orang-orang yang terpaksa mengungsi mencari perlindungan di akomodasi bersama. Menghirup asap dan abu juga bisa semakin melemahkan paru-paru orang yang terinfeksi virus dan merusak sistem kekebalan.