Nasional

As’ad Said Ali: Agama dan Negara Adalah Dua Sodara Kembar

Penulis: Ansor Mu’min

Rabu, 6 November 2019 di Pondok Pesantren Al Hamid Cilangkap digelar Bedah Buku “Islam, Pancasila, dan Kerukunan Berbangsa” yang ditulis oleh KH. As’ad Said Ali, tokoh NU dan juga mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Buku tersebut berkisah tentang Pancasila sebagai buhul tali pemersatu bangsa. Pancasila adalah nilai luhur yang digali dari kearifan lokal bangsa.

Sebagai sebuah warisan budaya yang merupakan inner energy, pancasila bekerja untuk melerai berbagai ketegangan antar aliran.

Di tengah situasi kebangsaan yang terus membutuhkan penguatan, bedah buku ini adalah jawaban bagi pelbagai pertanyaan anak bangsa tentang silang sengkarut ideologis yang terus melanda bangsa ini.

Dalam dialog berdurasi sekitar 2 jam tersebut, Kiai As’ad Ali mengutip ujaran Hujjatul Islam Imam Ghazali di dalam Ihya Ulumuddin Juz 1 halaman 17:

“Agama dan Negara adalah dua saudara kembar yang saling melengkapi. Agama sebagai dasar, sedangkan negara sebagai penjaganya”.

Oleh karena itu menutur Kiai As’ad, nilai nilai Pancasila harus dikuatkan. Ada arus kanan yang menarik pada radikalisasi, dan arus kiri untuk liberalisasi, maka Pancasila adalah Moderasi.

Selain titik temu, ia memiliki fungsi sebagai perekat. Karena itu Pancasila justru tidak boleh dijadikan bahan untuk membangun sekat antar anak bangsa. Akan tetapi justru merekatkan.

Perwakilan dari Polda DKI juga menyampaikan bahwa Pancasila jangan dijadikan untuk membangun garis demarkasi antar anak bangsa.

Misalnya memberikan judgement bahwa alumni 212 dan 411 adalah Radikal. Bangsa ini harus move on dari cara berpikir yang simplistis semacam demikian.

Gus Faiz Syukran Makmun juga secara khusus menyoroti soal toleransi yang sejatinya digali dari kearifan lokal kita.

Ia mengutip isi buku, tentang cerita kenapa Soto Kudus mangkuknya kecil. Ternyata ada tradisi masyarakat Tionghoay kalau makan mangkuknya kecil.

Dalam konteks muamalah, kata Gus Faiz, hal ini banyak contohnya di Indonesia, sebagai bukti bahwa Keislaman, kebangsaan, dan kearifan lokal menyatu dalam satu nafas.

Pada kesempatan yang sama diskusi ini juga dihadiri oleh Gus Faiz Syukran Makmun dan Haji Syaiful Mujab Kakanwil DKI.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close