Lawan China, AS Kirimkan Puluhan Jet Siluman F-22 ke Pasifik

Lawan China, AS Kirimkan Puluhan Jet Siluman F-22 ke Pasifik
F-22

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) mengirimkan lebih dari dua lusin jet tempur siluman F-22 ke perairan Pasifik sebelah barat. Pengerahan jet-jet tempur canggih ini bertujuan untuk mengikuti misi latihan yang digelar bulan ini.

Seperti dilansir CNN, Jumat (16/7/2021), pengerahan besar-besaran yang tergolong tidak biasa ini, dinilai oleh para pakar akan mengirimkan pesan kuat kepada China yang tengah bersitegang AS.

Angkatan Udara Pasifik di Hawaii pada pekan ini menyatakan bahwa sekitar 25 jet tempur siluman F-22 Raptor dari Garda Nasional Udara Hawaii dan dari Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson di Alaska, pada bulan ini akan dikerahkan ke Guam dan Kepulauan Tinian untuk Operation Pacific Iron 2021.

"Kami tidak pernah mendapati Raptor sebanyak ini dikerahkan bersama di area operasional Angkatan Udara Pasifik," Komandan Angkatan Udara Pasifik, Jenderal Ken Wilsbach, kepada CNN.

F-22 merupakan jet tempur generasi kelima yang diklaim sebagai pesawat tempur tercanggih di dunia, yang menggabungkan teknologi siluman dan menghubungkan sistem sensor ob-board dengan sistem informasi off-board untuk memberikan pilot pandangan detail soal ruang pertempuran.

Pengamat pertahanan yang berbasis di Hawaii, Carl Schuster, menilai bahwa pengerahan sejumlah besar jet tempur F-22 untuk misi latihan memberikan pesan segera kepada China saat hubungan tegang terkait titik rawan konflik di Pasifik, seperti Taiwan dan Laut China Selatan.

Schuster yang juga mantan direktur operasional Pusat Intelijen Gabungan pada Komando Pasifik AS ini menyebut bahwa pengerahan F-22 normal biasanya hanya terdiri atas 6-12 jet tempur.

"Angkatan Udara Pasifik menunjukkan bahwa pihaknya bisa mengerahkan sebanyak mungkin atau lebih pesawat generasi kelima ke zona dalam waktu singkat dibandingkan yang kini dimiliki (China) dalam armada keseluruhan," sebut Schuster.

Angkatan Udara China, sebut Schuster, diketahui memiliki sekitar 20-24 jet tempur generasi kelima yang aktif. Namun dia menekankan bahwa kemampuan militer China berkembang secara pesat.

Statistik Angkatan Udara menyebut bahwa Angkatan Udara AS sendiri memiliki sekitar 180 unit F-22 dalam armadanya, meskipun hanya separuhnya yang bisa menjalankan satu misi pada satu waktu karena persyaratan pemeliharaan.

Dengan demikian, AS akan mengirimkan sekitar 25 persen dari armada jet tempur F-22 yang beroperasi untuk latihan Pacific Iron.

Karena kemampuannya menghindari pendeteksian radar, jet tempur F-22 diperkirakan akan menjadi salah satu senjata utama yang digunakan dalam konflik apapun, dengan tugas menghancurkan pertahanan udara musuh di antara misi lainnya.

"AS secara aktif mempraktikkan pengerahan yang akan dilakukan jika terjadi krisis atau perang besar. AS menanggapi China dengan sangat serius dan mengembangkan postur kekuatan dan melatih pasukannya agar mampu bergerak cepat ke posisi," ujar Peter Layton yang merupakan mantan perwira Angkatan udara Australia yang kini menjadi pengamat pada Griffith Asia Institute.

Untuk Operation Pacific Iron, menurut Angkatan Udara Pasifik, nantinya 10 unit jet Strike Eagle dari Mountain Homes Air Force Base di Idaho dan dua unit pesawat transpor C-130J Hercules dari Pangkalan Udara Yokota di Jepang akan bergabung dengan jet-jet tempur F22 itu mengisi armada udara dalam operasi yang disebut sebagai Agile Combat Employment, yang juga merujuk pada operasi tempur menyebar.

Disebutkan bahwa latihan ini sejalan dengan Strategi Pertahanan Nasional tahun 2018. "Yang menyerukan militer untuk menjadi kekuatan yang lebih mematikan, adaptif dan tangguh," demikian disampaikan dalam pernyataan Angkatan Udara Pasifik.

Lebih lanjut, Wilsbach menyebut Operation Pacific Iron sebagai 'salah satu pengerahan paling rumit yang pernah kami rancang'.

"Kami bisa menggerakkan pasukan dan kemampuan di seluruh dunia sesuai keinginan, tapi apa yang akan terjadi jika kita menyatukan kemampuan-kemampuan ini menjadi yang paling penting," sebutnya. (Detik)