Internasional

AS Gaduh, Setelah Trump Ucapkan Selamat atas Kemenangan Putin

WASHINGTON, SENAYANPOST.com — Inilah presiden paling gaduh sepanjang sejarah Amerika Serikat (IAS). Trump tiba-tiba mengucapkan selamat atas kemenangan Putin, padahal dua negara ini tengah memanas karena berbagai hal.

Donald Trump dihujat para politisi di Amerika Serikat (AS) setelah menelepon dan mengucapkan selamat kepada Vladimir Putin yang kembali terpilih sebagai Presiden Rusia usai menang pemilu. Tindakan Trump juga membuat gaduh publik AS, termasuk Gedung Putih.

Namun, pemimpin Amerika itu membela diri. Dia berdalih, ingin meminta bantuan Putin dalam menyelesaikan berbagai krisis dari Korea Utara hingga kriris Suriah.

Hujatan terhadap Trump bermunculan dari politisi Partai Republik dan Partai Demokrat. Selain ucapan selamat, klaim bahwa Trump akan melakukan pertemuan dengan Putin juga menuai kecaman.

The Washington Post melaporkan bahwa Trump, dalam makalah briefing-nya, ajudan Trump sejatinya sudah memperingatkan presiden AS itu untuk tidak mengucapkan selamat kepada Putin. Pejabat Gedung Putih tidak membantah laporan itu, tetapi mengatakan siapa pun yang membocorkan hal itu terancam dipecat.

Orang kepercayaan Trump yang meminta untuk tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa Trump marah tentang kebocoran materi briefing tersebut.  Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Kepala Staf Gedung Putih John Kelly ”frustrasi dan sangat kecewa” atas bocornya materi itu.

Melalui Twitter, Trump membela diri atas ucapan selamatnya kepada Putin yang memicu kegaduhan di AS.”Ingin saya mengesampingkannya. Mereka (laporan media) salah! Bergabung dengan Rusia (dan lainnya) adalah hal yang baik, bukan hal yang buruk,” tulis Trump.

”Itu dapat membantu menyelesaikan masalah dengan Korea Utara, Suriah, Ukraina, ISIS, Iran dan bahkan Perlombaan Senjata yang akan datang,” lanjut pembelaan Trump, yang dikutip Kamis (22/3/2018).

Ucapan selamat Trump kepada Putin muncul tak lama setelah AS mendukung Inggris dalam menyalahkan Rusia atas tuduhan mendalangi serangan racun saraf terhadap mantan agen ganda Rusia Sergei Skripal di Inggris selatan.

Para penghujat Trump menilai presiden AS itu terlalu toleransi terhadap pemimpin Rusia. “Kurangnya kredibilitas dalam mempertimbangkan hasilnya,” kecam pemimpin Senat, Mitch McConnell.

Senator John McCain, seorang kritikus Putin, bahkan berkomentar lebih kasar. ”Seorang presiden Amerika tidak akan memimpin dunia yang bebas dengan memberi selamat kepada para diktator atas kemenangan palsu dalam pemilu,” kata McCain.

Para pejabat pemerintah mengatakan tidak jelas apakah presiden telah melihat memo briefing Gedung Putih yang bocor ke Washington Post. (WW)

KOMENTAR
Tags
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close