Artijo dan Kasim

Artijo dan Kasim
Artidjo dan Kasim | Ilustrasi

Oleh: Bayu Krisnamurthi 

INDONESIA memang kaya. Bukan hanya karena emas dan sawit, batubara dan mutiara; tetapi terutama karena putra-putri negerinya yang istimewa. Sebut saja: Artijo dan Kasim; Artijo Alkostar dan Kasim Arifin.

Yang satu, penyuluh dan pemberi cahaya harapan di bidang hukum, yang satunya penyuluh dan memberi cahaya harapan dalam membangun desa dan pertanian. Kedua ‘berlian’ tak ternilai harganya justru karena tidak minta dihargai. Artijo awalnya berkantor di bangunan berdinding ‘gedek’ bambu di pinggiran Jogja, dan dikabarkan memecat asistennya karena menagih fee jasa hukum kepada klien yang kasusnya telah dimenangkan. “Kalau mau bayar, ya bayar saja seikhasnya; jangan ditagih”. Begitu katanya. 

Kasim juga tidak dibayar. Tinggal di rumah kayu kecil sederhana di tengah hutan, dan hanya punya satu dua baju. Jika warga desa panen, dia ikut makan; jika panen gagal, dia pun puasa, dan tak meminta apa-apa. Artijo berdiri tegak, meski terlihat ‘ringkih’ dan sering sendirian, tetapi membuat gentar para koruptor dan pelanggar hukum, bahkan termasuk aparat penegak hukum sendiri. Kasim yang muda, bertubuh kurus, memasuki gelap hutan, mendampingi warga transmigran, 15 tahun lamanya, membuat rakyat desa menghormati dan menganggapnya sebagai Antua, seseorang yang ‘dituakan’.

Bagi Artijo hukum bukan sesuatu yang pantas dirundingkan, apalagi dengan tawar menawar. Bagi Kasim mengabdi dan mendampingi masyarakat bukan sesuatu yang diawali dengan pembicaraan, tetapi dengan dilakukan dan ditekuni.  

Memasuki belantara hukum Ibukota Artijo tidak membawa apa-apa, tidak koneksi, tidak juga ‘backing’ kekuatan apapun selain integritas diri, keyakinan akan hukum dan keadilan, dan ilmu hukum yang diperolehnya dari pendidikan dan pengalaman. Sama, memasuki belantara Waimital, Seram, Kasim juga tidak membawa apa-apa, tidak program pemerintah, tidak juga dukungan dari siapa-siapa. Kasim hanya membawa kepedulian, tekad, dan sedikit ilmu pertanian yang diperolehnya dari IPB.

Keduanya adalah mutiara keikhlasan, kejujuran, kesederhanaan, kesungguhan, ke-tak-putus-asaan. Bagi mereka, pekerjaan adalah pengabdian, adalah ibadah. Bagi mereka sholat dan sabar benar-benar sudah lebih dari syariat di atas sajadah. Sudah menjadi detak jantung dan gerak langkah.

Artijo berpulang tanpa ada yang mengetahui, sendirian, dalam kamar sewaan yang disediakan negara sebagai pensiunan Hakim Agung yang mendapat tugas menjadi anggota Dewan Pengawas KPK. Kasim datang dipulau terpencil sebagai mahasiswa, tidak punya apa-apa. Dan ketika berpulang, juga tidak meninggalkan apa-apa, bahkan juga tanpa rumah sendiri sekedar untuk bernaung istri dan ketiga anaknya.

Artijo dan Kasim berada dalam waktu dan ruang pengabdian yang berbeda, tetapi keduanya memberi cahaya bagi Indonesia, bahkan setelah pun keduanya tiada. Semoga, dengan ijin Allah SWT, Artijo dan Kasim dapat bertemu, di Surga.  Dan keduanya kemudian tersenyum bangga karena ada banyak ‘Artijo’ dan ‘Kasim’ muda, yang terus membawa cahaya, dan terus berusaha membuat Indonesia menjadi lebih baik.

Aamiin. AlFatihah.