Peristiwa

Arkeolog Temukan Kompleks Megalit Baru Berusia 2.000 Tahun di Pagaralam

PAGARALAM, SENAYANPOST.com – Tim Arkeolog Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan, menemukan sebanyak 13 megalit sekaligus di lokasi yang sama di Dusun Benua Keling, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam.

Kota Pagaralam, satu daerah di Sumatera Selatan yang banyak peninggalan sejarah megalitikum. Berbagai megalit ada di Pagaralam, mulai dari arca manusia sampai batu berukir.

Temuan kali ini merupakan penemuan pertama megalit dengan jumlah banyak di lokasi yang sama dan komplek megalitik terbaru. Usia megalitik tersebut diperkirakan 1500-2000 tahun lalu.

Tim Survei Disdikbud menyebutkan, kawasan itu merupakan kampung megalitik. Untuk itu, penemuan ini dilaporkan agar dapat didata dan dijaga. Temuan kali ini adalah kompleks megalitik terbaru.

Arkeolog Pagaralam, Ronaldi mengatakan, temuan ini berdasarkan informasi dari seorang warga bernama Beben (28), yang melihat batu besar berukiran seperti arca di kebun kopi.

Setelah ditelusuri di lapangan dapat dibenarkan temuan tersebut merupakan arca.
“Selain arca ditemukan juga dolmen, meja batu, tetralith dan banyak bentuk lainnya,” kata Ronaldi, di Pagaralam, Sumsel, Minggu (16/12/2018).

Temuan situs megalit terbaru di Benua Keling ini sangat menambah panjang daftar situs megalitik di Kota Pagaralam. Tim survei Disdikbud setelah dapat laporan langsung bergerak ke lapangan.

“Temuan situs megalit ini termasuk lengkap dan bisa dikategorikan sebagai kampung megalitik setara dengan Situs Tegur Wangi. Namun disini belum ditemukan kubur batu” jelasnya.

Dikatakannya, sangat jarang terdapat arca dalam satu area dalam jumlah lebih dari tiga di Kota Pagaralam. Kampung megalitik ini ditemukan 5 Arca, 2 dolmen, 4 meja batu, 2 tetralith, dan 1 lumpang batu.

Arca yang ditemukan memiliki bentuk manusia yg sedang menunggang gajah dan rata-rata sudah tidak utuh di bagian kepala, kemungkinan rusak oleh proses alam atau manusia. Dilihat dari bentuk dan motif ukiran, termasuk sezaman dengan Situs Batu Gong dan Situs Tanjung Aro.

Untuk menjaga temuan terbaru di Benua Keling ini, jelas dia, peran jupel (juru pelihara) sangat dibutuhkan. Mengingat, masyarakat belum banyak mengerti penting situs megalitik.

“Tim survei Disdikbud akan melaporkan kepada BPCB Jambi dan Balar Palembang agar nantinya dapat di data dan diteliti lebih lanjut,” jelasnya. (AF)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close