NasionalPendidikanPolitik

Arek Surabaya Ini Dinilai Layak Jadi Calon Menteri Termuda Jokowi

SURABAYA, SENAYANPOST.com – Wacana Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang hendak menggaet menteri muda dari kalangan milenial dalam kabinetnya periode 2019-2024 nanti, mendapat respon hangat dari warganet Indonesia. Kali ini giliran nama Audrey Yu Jian Hui yang disebut-sebut warganet layak sebagai calon menteri termuda dalam kabinet Jokowi jilid ke-2 nanti.

Sekedar tahu, Audrey merupakan salah satu dari 72 Ikon Berpretasi Indonesia yang terjaring dalam Festival Prestasi Indonesia yang digelar oleh Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi-Pancasila (UKP-P). Semenjak masuk dalam 72 Ikon Berpretasi Indonesia, Audrey yang lahir dengan nama Maria Audrey Lukito di Surabaya pada 1 Mei 1988 ini mulai banyak dikenal masyarakat Indonesia.

“Audrey Yu Jian Hui, arek Suroboyo asli. Kecerdasan dan kepintarannya luar biasa! SD ditempuh 5 tahun, SMP ditempuh 1 tahun, SMA ditempuh 11 bulan, semuanya di Surabaya. Semoga dia bisa masuk jajaran menteri,” papar Teja Kusuma dalam akun facebook.

Seperti diketahui, setelah Jokowi melempar wacana akan menggaet menteri muda dari kalangan milenial, banyak nama bermunculan. Contohnya, Ketua Umum PB HMI Saddam Al Jihad menyebut ada sejumlah mantan ketua organisasi kemahasiswaan dari Kelompok Cipayung yang layak masuk kabinet Jokowi jilid ke-2, seperti Arief Rosyid Hasan (mantan ketua Umum PB HMI), Sahat Martin P. Sinurat (mantan Ketua Umum PP GMKI), dan Twedy Noviady Ginting (mantan Ketua Presidium GMNI).

Pertanyaannya, siapakah tokoh milenial yang akan masuk dalam kabinet Jokowi jilid ke-2 nanti? Mungkinkah Audrey Yu Jian Hui akan jadi menteri muda atau ada tokoh lain yang akan dipilih Jokowi? Lantas seperti apakah kehebatan Audrey Yu Jian Hui jika dibanding dengan para aktivis dari kelompok Cipayung?

Audrey Yu Jian Hui adalah arek Surobaya yang dikenal cerdas karena mampu menyelesaikan studi pendidikan dasar hingga S-2 dengan waktu sangat cepat. Selain menyelesaikan pendidikan SD dalam 5 tahun, SMP dalam waktu 1 tahun, dan SMA dalam waktu 11 bulan, Audrey dapat menyelesaikan studi S-1 dan S-2 dalam waktu 3 tahun di Virginia.

Menurut Teja Kusuma, saat usia 13 tahun Audrey mau masuk universitas di Indonesia tidak bisa karena tidak ada yang mau menerimanya. ” Akhirnya dia memutuskan kuliah di AS tepatnya di Virginia. S-1 dan S -2 ditempuh hanya 3 tahun,” jelas Teja Kusuma.

Dengan ijazah S-2 itu, Audrey sempat ingin masuk ke TNI tapi juga tidak bisa karena usianya kurang dari 17 tahun. Padahal, Audrey punya dua gelar sarjana, yakni Fisika dan Bahasa. Selain itu, Audrey juga aktif menulis buku tentang Indinesia dan jadi best seller. Bukunya yang terkenal adalah “Indonesia Tanah Airku” dan “Aku Cinta Indonesiaku”.

Setelah gagal masuk TNI, Audrey disebut-sebut memutuskan ambil S-3 di Paris kemudian kerja di Badan Antariksa Amerika (NASA) dengan gaji 200 jt/bln.

Ketika bertemu Jokowi dalam acara KTT G-20 di Jepang, Audrey ditawari masuk ke BPPT dan dengan antusias dia terima tanpa mikir berapa gajinya. “Dia hanya bilang Indonesia Love You. Aku datang u/ mengabdi padamu … ” tambah Teja Kusuma.

Sayangnya, sampai sejauh ini informasi yang beredar di media sosial tersebut belum berhasil dikonfirmasi dengan pihak terkait, baik Audrey, NASA maupun Jokowi.

Yang pasti, Audrey memang benar jadi salah satu dari 72 Ikon Berprestasi Indonesia.

Daftar 72 Ikon Prestasi Indonesia

1. A’ak Abdullah Al-Kudus, Aktivis lingkungan hidup
2. Ahmad Arif, lahir Rembang (Jawa Tengah), 1977. Wartawan dan penulis buku.
3. Ahmad Bahruddin, Pendiri lembaga pendidikan alternatif Qoryah Tayyibah bagi anak-anak putus sekolah di Salatiga.
4. Alan Budi Kusuma, Legenda Bulu Tangkis Indonesia.
5. Audrey Yu Jia Hui, Penulis buku Mencari Sila Kelima
6. Baihajar Tualeka, Pendiri Lembaga Pemberdayaan Perempuan & Anak (LAPPAN)
8. Bayu Santosa. Disainer grafis, pemenang kontes disain sampul album Maroon 5 (grup band asal California, AS)
9. Bonifasius Mau Taek. Pendiri Forum Pemuda Pelopor Pembangunan Perbatasan (FP4), NTT.
10. Brigadir Muhammad Saleh, Anggota Polri penggerak pendidikan bagi anak-anak desa di Bombana, Sulawesi Tenggara.
11. Ciciek Farha & Supohardjo, Inspirator anak-anak desa.
12. Chandra Sembiring, dokter Indonesia pertama yang bertugas di pegunungan Everest, Himalaya.
13. Eng Eniya Listiani Dewi, Sukses melakukan rekayasa teknologi sel bahan bakar (fuel cell) sebagai sumber energi alternatif. Penerima ASEAN Outstanding Engineering Achievement Award 2006, dan Habibie Award 2010.
14. Herawati Supolo Sudoyo, Peletak dasar pemeriksaan DNA forensik untuk identifikasi pelaku bom bunuh diri. Pendiri Lembaga Biologi Molekuler Eijikman (1993).
15. Yudi Utomo Imardjoko, ilmuwan nuklir Indonesia
16. Lie A. Dharmawan, dokter ahli bedah
17. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, tokoh bangsa
18. Eka Kurniawan, Novelis muda
19. Eko Supriyanto. Maestro Seni Tari Indonesia. Penari Indonesia yang terlibat dalam tur keliling penyanyi Madonna, Drowned World Tour(2001).
20. Eko Yuli Irawan, atlet angkat besi nasional
21. Franki Raden, musisi dan etnomusikolog. Composer & Music Director.
22. Garin Nugroho, Sutradara dan produser film terkemuka Indonesia.
23 Handi Mulya, Chef spesialis dekor kue
24. Heri Dono, Pelukis dan kreator seni instalasi.
25. Herwin Hamid, Guru SMP 6 Kendari Sultra.
26. I Gusti Kompyang Raka, maestro seni musik Bali
27. Bambang Irianto, inisiator gerakan sosial kampung Glintung Go Green, Malang (Jatim).
28. Joey Alexander, pianis jazz muda
29. Komang Sastrawana, Atlet karate cilik Indonesia.
30. Lia Putinda Anggawa M, aktivis lingkungan hidup.
31. Lilyana Natsir, Atlet bulu tangkis Indonesia.32. Liem Swi King, Legenda Bulu Tangkis Indonesia.
33. Lintang Pandu Pratiwi, ilustrator buku anak.
34. Lisa Rumbewas, Atlet putri angkat besi Indonesia.
35. Luthfi Bima Putra, Peraih medali emas International Mathematics Competition (IMC) di Singapura, 2016.
36. Lynna Chandra, Pendiri Yayasan Rumah Rachel
37. Masril Koto, Inisiator lembaga keuangan mikro agrobisnis (LKMA) Prima Tani38. Muammar ZA. Qori dan hafiz terbaik Indonesia.
39. Michael Gilbert, telah mengoleksi delapan medali emas di berbagai olimpiade sains (matematika, fisika, kimia), di Swiss, Argentina, Bulgaria, dan Hongkong.
40. Muhammad Gunawan, Pendaki gunung41. Muhammad Winesqi Nibras, peraih medali emas Festival Kreativitas Seni, Daijon, Korea Selatan, 2016.
42. Nano Riantiarno. Dramawan senior.43. Nisa Wargadipura & Ibang. Pasangan pendiri dan penggerak Sekolah Ekologi, Pesantren At-Thariq
44. Nyoman Nuarta, pematung45. Oka Rusmini. Sastrawan perempuan Indonesia.46. Hj. Suraidah, bidan yang menjadi inisiator pendidikan anak usia dini (PAUD) di perbatasan Indonesia–Malaysia
47. Tim Robotika, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Memborong medali dalam berbagai kategori pada Fire Fighting Robot Contest 2017 di Trinity College, Hartford, AS.
48. Riri Fitri Sari, Guru Besar Perempuan Termuda di Indonesia
49. Khairol Anwar, Pemegang paten 4G berbasis OFDM.
50. Tim Robotik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Peraih medali emas pada Trinity Collage Robot Competition, 2017.
51. Putu Wijaya. Sastrawan dan dramawan.
52. Rahayu Supanggah, komponis
53.Romo Carolus, pendiri Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS)
54. Romo Kirdjito, Peneliti budaya air.
56. Sabar Gorky, Pemanjat
57. Septianus George Saa, Pemenang Lomba first step to Nobel Prize in Phisics 2004. Sedang melanjutkan S2 di Birmingham, Inggris.
58. Sri Wahyuni. Atlet angkat besi nasional Indonesia.
59. Suraiya Kamaruzzaman, aktivis perempuan.
60. Suryono, satu-satunya petani yang menjadi pembicara dalam Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim PBB di Maroko.
61. Susi Susanti. Legenda Bulutangkis Indonesia.
62. Syahrozad Nalfa Nadia, peraih medali emas Olimpiade Robot Internasional (Singapura, 2016)
63. Tontowi Ahmad, atlet bulutangkis pasangan ganda campuran Liliyana Natsir.
64. Taruna Ikrar, Dokter dan ilmuwan bidang farmasi, jantung, dan syaraf.
65. Taufik Hidayat, legenda bulutangkis Indonesia.
66. TGH Hasanain Juaini, tokoh pendidikan berbasis lingkungan. Penerima Ramon Magsaysay 2011
67. Tiara Savitri, penyintas Lupus, dan penulis buku “Aku dan Lupus” yang sangat memotivasi para Odapus
68. Tim Paralayang Indonesia.
69. Wregas Banutedja, film-maker muda Indonesia,
70. Wuri Wuryani, bekerja sebagai Analytical Chemist Inspector di Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW), Belanda (1997–2008),
71. Yogi Ahmad Erlangga, pemecah rumus matematika Helmholtz.
72. Zaenal Beta, pelukis dengan bahan dari tanah liat pertama di dunia.

KOMENTAR
Show More
Close