Energi & Tambang

Arab Saudi Pangkas Produksi Minyak, untuk Hentikan Perang Harga

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Dalam upaya untuk membangkitkan ekonominya akibat krisis energi, Arab Saudi mengumumkan langkah mengejutkan dengan memangkas produksi minyak ke level terendah dalam 18 tahun.

Pengumuman itu hanya beberapa jam setelah pemerintah meluncurkan serangkaian langkah penghematan dramatis. Arab Saudi mengatakan akan memangkas produksi minyak sebesar 1 juta barel per hari di atas apa yang telah disepakati dengan sekutu negara OPEC.

Harga minyak untuk perdagangan berjangka naik, sementara Kuwait dan Uni Emirat Arab menindaklanjuti dengan mengurangi lagi produksi mereka.

“Kita harus melakukan antisipasi,” kata Menteri Perminyakan Saudi Pangeran Abdulaziz bin SalmanĀ  dalam sebuah wawancara telepon kemarin seperti dikutip Bloomberg News, Selasa (12/5/2020).

Pemotongan sukarela selanjutnya akan mempercepat proses penyeimbangan kembali, katanya menambahkan.

Langakh itu menunjukkan Riyadh perlu segera menstabilkan pasar minyak karena harga terendah memaksa kerajaan untuk menekan pengeluaran yang tinggi dan menaikan pajak pertambahan nilai tiga kali lipat.

Tindakan itu menandai langkah terakhir mundurnya Arab Saudi dari perang harga yang dimulai pada Maret ketika minyak bergerak membanjiri pasar dengan harga murah setelah pembicaraan dengan sekutu OPEC + macet.

Pemotongan produksi itu terjadi beberapa hari setelah Presiden AS, Donald Trump berbicara dengan Raja Salman lewat telepon. Gedung Putih menyatakan bahwa kedua pemimpin sepakat “tentang pentingnya stabilitas di pasar energi global.”

Trump telah berulang kali memberi tekanan pada Arab Saudi, Rusia dan negara-negara OPEC + lainnya untuk memangkas produksi dalam upaya menyelamatkan industri minyak Amerika Serikat.

Sebelumnya Pemerintah Arab Saudi menghentikan sementara tunjangan biaya hidup dan meningkatkan pajak pertambahan nilai (PPN) sebagai bagian dari langkah untuk mengatasi dampak krisis wabah Covid-19, menurut laporan Saudi Press Agency (SPA) seperti dikutip ArabNews.com, Senin (11/5).

“Biaya hidup akan ditangguhkan pada Juni pertama, dan pajak pertambahan nilai akan dinaikkan menjadi 15% dari 5% pada Juli pertama,” menurut SPA mengutip pernyataan dari Kementerian Keuangan.

Menteri Keuangan Mohammed Al-Jadaan mengatakan kedua langkah itu adalah bagian dari upaya untuk menopang keuangan negara. Pendapatan Arab Saudi terpukul oleh harga minyak yang rendah dan krisis wabah Covid-19 sejak beberapa bulan terakhir.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close