Opini

Apakah Wabah Corona Adzab Kepada Suatu Bangsa?

Oleh: Prof. Dr.. Syihabuddin Qolyubi

NAMA virus corona diambil dari bentuknya yang menyerupai mahkota/crown (corona) ketika dilihat di bawah mikroskop. Pada umumnya, virus ini tidak berbahaya, mereka hanya menyebabkan sakit pernapasan sedang seperti flu biasa. Namun beberapa jenis coronavirus memang bisa membawa bibit penyakit yang berbahaya dan mematikan. Salah satunya adalah yang sedang menyebar di Wuhan Tiongkok saat ini.

Sebagai ibukota provinsi, Wuhan termasuk kota tersibuk di Cina. Tak hanya itu, terdapat 96 institusi penelitian dan pengembangan yang berlokasi di Wuhan serta 21 laboratorium vital milik negara. Dari posisi yang cukup tinggi ini, banyak orang bepergian dari dan menuju Wuhan. jumlah penumpang udara internasional di Wuhan terbilang sangat tinggi. Sebagai contoh untuk satu bulan saja, rata-rata 16.202 penumpang internasional di bandara Wuhan menuju Bangkok, dan rata-rata ada 2.432 penumpang asal Wuhan yang terbang ke Denpasar, belum lagi ke kota-kota lainnya.

Jika ditilik dari persebaran wabah penyakit global Virus Corona wa akhwatuha seperti SARS, MERS, hingga Ebola, Indonesia memang kerap tak terjangkit atau mengalami jeda yang cukup lama untuk terjangkit. Ini menjadi tantangan para peneliti kenapa hal ini bisa terjadi. Ada peneliti yang mengatakan penyebabnya adalah karena konektivitas Indonesia dengan dunia luar relatif rendah di banding negara-negara di sekitarnya.

Virus Corona tidak ada kaitannya dengan kutukan kepada pemeluk suatu agama tertentu atau bangsa tertentu, wabah seperti ini bisa terjadi dimana saja dan kepada siapa saja yang Allah swt kehendaki, sebagai manifestasi dari Kemahakuasaan Allah yang insyaa Allah ada hikmah di balik itu semua. Dalam tradisi Islam dikenal ada tiga diksi yang maknanya berhimpitan, yaitu: musibah, bala, dan adzab. Musibah adalah malapetaka yang diderita manusia pada umumnya, tanpa melihat bangsa atau pemeluk agama, al-bala bermakna ujian positif ataupun negatif, sedangkan adzab adalah siksaan khusus kepada orang yang tidak beriman. Dalam kasus Corona yang sedang merebak sekarang ini termasuk musibah karena malapetaka itu bisa mengenai siapa saja tanpa mengenal bangsa ataupun agama, sebagaimana virus MERS yang pernah terjadi di Saudi Arabia (th 2012) yang menelan korban 585 orang meninggal dunia. Dalam sejarah disebutkan bahwa Nabi Ayyub as seorang nabi yang taat dan penyabar, pernah menderita penyakit kulit sampai belasan tahun.. Pada masa Rasulullah saw pun pernah terjadi wabah, salah satunya kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya.

Sekarang muncul pertanyaan bagaimana Islam mengajari kita menghadapi wabah itu? Ada beberapa langkah untuk menghindari virus corona:
Pertama: Banyak berdo’a agar terhindar dari wabah.

Doa merupakan senjata orang beriman. Rasulullah saw telah mengajarkan doa agar terhindar dari penyakita wabah
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ الأَسْقَامِ
“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari kusta, kegilaan, kaki gajah, dan penyakit jahat.” (HR Abu Daud).

Kedua: Menjaga kebersihan badan pakaian dan lingkungan kita. Empat belas abad yang lalu Alquran mengajari kita untuk menjaga kesucian sebagaimana tertera dalam al-Mudatstsir
و ثِيابَك فطهّر
“ Dan bajumu sucikanlah”
Ayat ini mengandung pengertian sucikanlah apa yang melekat pada diri kita, termasuk juga dalam perintah itu membersihkan lingkungan. Hal ini selaras dengan hadits Nabi Muhammad saw:
النظافة من الإيمان
“Kebersihan itu bagian dari iman”

Penyakit sering muncul disebabkan badan, pakaian, dan lingkungan yang tidak bersih
Ketiga: Tidak mendekati atau melihat orang yang mengalami penyakit wabah. Rasulullah saw melarang para sahbatnya melihat orang yang menderita lepra atau leprosy, sebagaimana sabdanya:
لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ‏
“Janganlah kamu terus menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta.” (HR Bukhori).
Keempat: Makan makanan yang halal dan thayyiban. Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (al-Baqarah/2: 168)

Pada dasarnya kita diperbolehkan menyantap makanan dan minuman apa saja yang ada di bumi, karena Dia (Allah) menciptakan segala apa yang di bumi untukmu (al-Baqarah/2: 29), namun hukum dasar itu dibatasi al-Baqarah/2: 168 dengan 4 variabel yaitu: 1. Al-nas 2. Halalan 3. Thayyiban 4. La tattbi’u khuthuwatisy syathan.

Penyebutan kata al-nas mengandung makna bahwa imbauan makan pada ayat itu berimplikasi kepada umat manusia tidak terbatas kepada orang perorang atau umat agama tertentu saja tetapi umat manusia secara keseluruhan, seperti kasus virus Corona ini, yang berbuat orang Wuhan tapi efek dari perbuatannya diderita oleh seluruh manusia tanpa perbedaan agama atau bangsa.

Kata halalan menurut Mu’jam al-Wasith adalah barang yang tidak haram, dan mengonsumsinya tidak dilarang agama. Setidaknya, keharaman bisa dibagi menjadi dua aspek.

Pertama, haram secara dzat atau haramun li dzatihi yakni secara materi telah dinyatakan haram oleh syariat, seperti babi, bangkai, dan darah. Kedua, haram bukan secara dzat-nya atau haramun li ‘aridlin, yakni secara materinya halal namun cara membeli, memperoleh, atau mengolah barang tersebut bertentangan dengan ajaran Islam.

Sedangkan thayyiban menurut Ibn Katsir dalam kitab al-Tafsir al-Quran al-‘azhim adalah sesuatu yang baik, tidak membahayakan tubuh dan pikiran”.

Sedangkan yang terakhir dari ajaran tentang makanan ini larangan untuk mengikuti langkah-langkah syaitan (La tattbi’u khuthuwathisy syaitan) termasuk di dalamnya makan untuk gagah- gagahan, dan apa yang disebut dengan makanan ekstrem yaitu makan hewan liar, hewan yang masih hidup dan makan lainnya yang dilarang agama Islam sebagaimana yang banyak terjadi di pasar Hunan Wuhan yang menurut informasi di sana dijual sekitar 112 jenis hewan liar.

Kelima: Perlunya menjaga pola hidup yang teratur. Fisik dan pskis memiliki hak untuk diperhatikan. Terkadang pekerjaan dan kesibukan mengabaikan hak keduanya, sehingga muncullah kelelahan fisik atau kelelahan psikis. Maka kondisi seperti ini sangat rentan masuknya berbagai penyakit.

Keenam: Jika virus berbahaya sudah masuk ke suatu tempat Rasulullah saw mengajarkan sebagaimana disebutkan dalam hadits:
أَنَّ عُمَرَ، خَرَجَ إِلَى الشَّام، فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّامِ، فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ ‏”‏‏
“Umar ra sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilayah bernama Sargh, Umar ra mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Kemudian Abdurrahman bin Auf berkata kepada Umar bahwa Nabi Muhammad SAW pernah berkata, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhori).

Keputusan Umar ra untuk tidak jadi masuk Syam (Syiria) sempat disangsikan Abu Ubaidah bin Jarrah. Dia adalah pemimpin rombongan yang dibawa Khalifah Umar. Menurut Abu Ubaidah, Umar tak seharusnya kembali karena bertentangan dengan takdir/ketentuan Allah SWT. Umar menjawab bahwa dia tidak melarikan diri dari takdir/ketentuan Allah SWT, namun menuju takdir/ ketentuanNya yang lain. Jawaban Abdurrahman bin Auf ikut menguatkan keputusan khalifah untuk tidak melanjutkan perjalanan karena wabah penyakit.

Hadits ini mengajarkan kita tentang sistem karantina, isolasi dan sterillisasi agar wabah itu tidak menyebar ke luar daerah. Bahwa kita dilarang masuk ke daerah wabah, dan jika kita berada di tempat wabah kita dilarang keluar sampai ditemukan obatnya. Jk ternyata sampai meninggal di tempat wabah, maka yang bersangkutan termasuk mati syahid, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari.
الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ
“Kematian karena wabah adalah syahid bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya). (HR Bukhori).”

Semoga kita terhindar dari berbagai macam wabah, sehingga diberi kekuatan untuk beribadah hanya kepada-Nya. Amin

*Prof. Dr. Syihabuddin Qolyubi Lc, M. Ag, , Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close