Opini

Apakah Sejarah Selalu Berulang?

KETIKA mendapat kabar bahwa Bulik, adik almarhum Ibu, meninggal dunia karena tertabrak motor, tanggal 3 Maret lalu, ingatan segera kembali ke peristiwa 25 tahun silam. Pada tanggal 1 Maret 1994, Ibu meninggal setelah tertabrak motor yang pengendaranya mabuk. Keduanya meninggal karena mengalami pendarahan di otak.

Keduanya ditabrak di lokasi yang nyaris sama, hanya bergeser sekitar empat meter; bedanya ibu ditabrak petang hari saat mahgrib setelah mengunjungi orang sakit, sedangkan bulik ditabrak pagi hari saat akan belanja sayuran.

Apakah sejarah selalu berulang? Philip Guedalla (1889-1944) yang dikenal sebagai sejarawan dan esais, seorang pop kultur asal Inggris, jauh tahun sudah menjawab pertanyaan itu. Sejarawan kelahiran  Maida Vale, London dari sebuah keluarga Yahudi keturunan  Spanyol ini mengatakan, “Sejarah berulang dengan sendirinya. Sejarawan saling mengulang satu sama lain.”

Pepatah Perancis mengatakan, L’Histoire se Répète, sejarah mengulang dirinya sendiri. Adalah Keny Arkana, seorang rapper Perancis keturunan Argentina yang memberi judul lagunya L’Histoire se Répète.

Santana, sebuah grup band rock—dengan gitaris Carlos Santana– pun dalam lagunya Oye 2014 memulai dengan pertanyaan, Who says history doesn’t repeat itself?Tetapi, untuk apa sejarah selalu mengulang dirinya sendiri? Penyanyi country AS, Buddy Starcher (1906-2001) dalam lagunya History Repeat Itself, mengisahkan peristiwa  aneh tapi nyata yang menegaskan bahwa “sejarah berulang dengan sendirinya.”

Buddy Starcher mengisahkan peristiwa yang terpisah 100 tahun.  Presiden AS Abraham Lincoln (1809-1865) terpilih menjadi presiden pada tahun 1860; dan 100 tahun kemudian, 1960, John F Kennedy terpilih menjadi presiden AS. Kedua presiden sangat peduli terhadap hak-hak sipil.

Yang menarik, keduanya tewas ditembak pada kepala bagian belakang. Keduanya ditembak pada hari Jumat. Penembak Lincoln adalah John Wilkes Booth lahir pada tahun 1839; sementara penembak Kennedy, yakni Lee Harvey Oswald lahir pada tahun 1939. Keduanya adalah orang Selatan.

Jika sejarah berulang, bukankah kita tidak bisa membuat prediksi tentang masa depan?

Bukankah Sang Pengkhotbah sudah mengatakan, nihil sub sole novum, tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Sesuatu yang pernah ada, itulah yang akan ada lagi. Sesuatu yang telah diperbuat, itulah yang akan diperbuat lagi. Tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Barang yang sudah ada itu juga akan yang aka nada; dan barang yang sudah diperbuat itu juga yang akan diperbuat; satupun tiada yang baru di bawah langit ini. Apa yang pernah terjadi, akan terjadi lagi. Apa yang pernah dilakukan, akan dilakukan lagi. Tidak ada sesuatu yang baru di dunia ini.

Apakah “sejarah juga akan mengulang dirinya sendiri” di Indonesia, saat ini? Yang pasti, pertarungan untuk menjadi presiden Indonesia, mengulangi pertarungan Pemilu 2014 yakni antara Jokowi dan Prabowo. Pada tahun itu, Jokowi yang memperoleh mandat rakyat untuk menjadi presiden Indonesia.

Itulah sejarah yang mengulang dirinya sendiri. Dalam rumusan lain  Victor Hugo (1802-1885), pujangga, novelis, dan dramawan Perancis mengatakan, “Pengulangan masa lalu di masa depan; refleksi dari masa depan pada masa lalu.” Et l’histoire se répète…seperti dinyanyikan oleh Keny Arkana; seperti pula yang dialami bulik mengulangi yang dialami ibu.

(Artikel lebih lengkah bisa dibaca di https://triaskun.id/2019/03/09/lhistoire-se-repete/‎)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close