Apa saja Dampak Bahaya Es Kutub Mencair?, Pencemaran Limbah Nuklir hingga Virus Baru

Apa saja Dampak Bahaya Es Kutub Mencair?, Pencemaran Limbah Nuklir hingga Virus Baru
Bahaya Es Kutub Mencair

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Permafrost atau tanah beku di Arktika Kutub yang mencair secara cepat dikabarkan bisa melepaskan limbah radioaktif dari kapal selam nuklir Perang Dingin, bakteri resisten antibiotik, sampai virus baru.

Penelitian baru yang terbit di jurnal Nature Climate Change, tanah beku yang mencair telah berkontribusi sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca karena simpanan besar karbon yang dilepaskan ke atmosfer.

Namun, peneliti menemukan implikasinya lebih luas, yakni potensi pelepasan limbah nuklir dan radiasi, virus yang tidak diketahui, dan bahan kimia lain yang menjadi perhatian.

Sejarah mencatat, Uni Soviet (sekarang pecah menjadi Rusia dan negara sekitarnya) pernah melakukan 130 uji coba senjata nuklir di kepulauan Novaya Zemlya, lepas pantai barat laut Rusia, antara 1955 dan 1990.

Pengujian tersebut melepaskan sekitar 265 megaton energi nuklir, serta lebih dari 100 kapal selam nuklir nonaktif ditenggelamkan dan menjadi bangkai di laut Kara dan Barents yang dekat dengan Novaya Zemlya.

Baca Juga

Meskipun pemerintah Rusia telah meluncurkan program bersih-bersih nuklir, riset menyebutkan daerah tersebut masih terdeteksi memiliki zat radioaktif sesium dan plutonium yang terletak di antara sedimen bawah laut, vegetasi, dan lapisan es, menurut laporan BBC.

Camp Century, fasilitas penelitian bertenaga nuklir milik AS yang terletak di Greenland, juga memperkeruh situasi ini karena menghasilkan limbah nuklir dan diesel yang cukup besar.

Ilsutrasi ledakan nuklir. Foto: commons.wikimedia.org© Disediakan oleh Kumparan Ilsutrasi ledakan nuklir. Foto: commons.wikimedia.org
Di sisi lain, lebih dari 100 mikroorganisme yang ditemukan di lapisan es permafrost sedalam tiga meter di Siberia memiliki kemampuan resisten terhadap antibiotik.

Ketika es mencair, ada potensi bakteri ini tercampur dengan air lelehan dan menciptakan strain baru kebal antibiotik dari virus yang ada.

Virus yang bangkit ketika es Kutub mencair

Salah satu penyakit yang pernah muncul ketika es di Kutub mencair adalah antraks, yang melanda kawanan rusa kutub dan menewaskan lebih dari 2.000 orang di Siberia pada akhir Juli 2016.

Menurut laporan Live Science, pejabat setempat menyebut pelakunya adalah bangkai rusa dari 80 tahun lalu yang tetap terkunci di lapisan es sampai musim panas mencairkan mereka.

Ahli bakteriologi medis di University of Missouri, Amerika Serikat, mengatakan antraks terkenal kuat. Bentuk spora yang menular dikelilingi oleh cangkang protein yang dapat membuatnya tetap aman dalam keadaan mati suri, bahkan selama berabad-abad berada di tanah. Selain antraks, ada juga Phocine Distemper Virus (PDV) yang pernah menjangkiti berang-berang laut di negara bagian Alaska, AS, yang berbatasan dengan Samudra Pasifik.

Mencairnya es telah membuka jalur yang sebelumnya terhalang Lingkar Arktika. Jalur yang terbuka memungkinkan hewan yang terjangkit PDV bisa dengan mudah menyebarkan virus tersebut dari Atlantik Utara menuju wilayah Pasifik Utara.

PDV menyebar melalui cairan pernapasan ketika hewan berada melakukan kontak di darat atau di laut. Banyak spesies anjing laut dan berang-berang rentan terhadap virus ini, meskipun dalam derajat yang berbeda-beda.

Ini tentu perlu diwaspadai, apalagi cukup banyak populasi manusia yang bermukim di Kutub Utara, seperti para ilmuwan dan militer. Jika terkontaminasi, butuh antisipasi yang matang sebelum ia menyebar.