Apa Makna 'Bulan Warisan Budaya Hispanik' Bagi Diaspora Indonesia?

Apa Makna 'Bulan Warisan Budaya Hispanik' Bagi Diaspora Indonesia?
Diaspora Indonesia

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Setiap tahun, masyarakat AS memperingati Bulan Warisan Budaya Hispanik, atau Hispanic Heritage Month, mulai dari 15 September hingga 15 Oktober. Ini merupakan bulan untuk merayakan sejarah, budaya, dan kontribusi warga AS yang nenek moyangnya berasal dari Spanyol, Meksiko, Karibia, serta Amerika Tengah dan Selatan. Diaspora Indonesia juga turut merayakannya bersama keluarga mereka yang berasal dari komunitas keturunan Hispanik.

Banyak tanggal penting yang diperingati selama Hispanic Heritage Month. Tanggal 15 September merupakan hari peringatan kemerdekaan bagi beberapa negara Amerika Latin, mulai dari Kosta Rika, El Salvador, Guatemala, Honduras, hingga Nikaragua. Sementara itu, Meksiko dan Chili merayakan hari kemerdekaan masing-masing pada tanggal 16 September dan 18 September. Selain itu ada pula Hari Columbus atau Día de la Raza setiap 12 Oktober untuk memperingati pendaratan pertama Christopher Columbus di tanah Amerika.

Sebelum pandemi, masyarakat AS biasanya meramaikan Hispanic Heritage Month dengan berbagai kegiatan, mulai dari pergelaran kesenian, festival budaya hingga parade. Di sekolah, sejumlah guru memperkenalkan buku-buku yang ditulis dan diilustrasikan oleh penulis dan seniman Hispanik dan Latino. Kawula muda juga antusias mengajak teman dan keluarga menikmati makanan dan minuman seperti taco, empanada, mole, paella, margarita dan mojito sambil menikmati musik dan lagu-lagu Latino.

Agustina Lumban Gaol yang tinggal di Austin, Texas, bersuamikan keturunan campuran Hispanik dan Vietnam. Pada Hispanic Heritage Month ini, ia merayakannya bersama komunitas tersebut di gerejanya dengan berbagai macam makanan khas Hispanik. Ada beberapa hal yang menurutnya mirip dengan apa yang ia temukan di Indonesia. Misalnya, cita rasa pedas, kostum, tari-tarian dan kekerabatan dalam budaya Latino, yang seperti orang Indonesia juga.

Alexander Riyanto menikah dengan perempuan Mixteca Oaxaquena, salah satu suku asli Meksiko. Ia sudah bermukim di Meksiko selama 7 tahun, dan telah dua kali mengikuti perayaan Bulan Warisan Budaya Hispanik di AS.

Kepada VOA, pria keturunan Jawa yang memiliki seorang putra berusia 4 tahun itu mengungkapkan sejumlah kemiripan dengan orang Indonesia dalam hal masih melekatnya budaya asal mereka ke manapun mereka pergi. Misalnya, orang Jawa dengan gamelannya, orang Bali dengan tari-tariannya atau orang Minang dengan masakan Padangnya.

“Orang Hispanik juga begitu. Dia yang merasa modern akan membawa (band khas Meksiko) Mariachi-nya. Terus orang suku Aztec akan membawa tari-tarian tradisional, seperti tari untuk mengusir setan,” tutur Alexander.

Pada awal September lalu, kata Alexander, masyarakat Indonesia di Meksiko berkolaborasi membuat hidangan dengan menggabungkan bumbu dasar masakan dari kedua negara. Acara ini adalah dalam rangka memperingati 200 tahun Chile En Nogada, makanan turun-temurun Meksiko.

Hispanic Heritage Month juga menandai kontribusi komunitas Hispanik dalam perekonomian AS. Menurut Pew Research Center, ada 62,1 juta orang keturunan Hispanik di AS pada tahun 2020, naik dari 40,4 juta pada tahun 2010. California, Texas dan Florida merupakan tiga negara bagian yang mengalami peningkatan populasi lebih dari 1 juta orang keturunan Hispanik selama sepuluh tahun terakhir.

Peran komunitas multiras itu signifikan dalam dunia pekerjaan. Mereka antara lain bekerja di ladang-ladang pertanian, jelas Hana Pangestu, diaspora Indonesia di Austin, Texas. Ibu satu anak yang bersuamikan keturunan Hispanik ini giat memperjuangkan kesetaraan hak-hak para pekerja migran.

“Di sini, karena masih banyak yang belum legal, mereka kadang-kadang tidak punya hak untuk bisa mendapat gaji yang cukup. Seperti (pada pekerjaan) bercocok tanam. Di sini banyak sekali yang sebenarnya dipanen oleh imigran ilegal, karena banyak warga AS yang tidak mau bekerja di ladang pertanian because it's very very hard work (karena pekerjaannya sangat berat),” ujar Hana.

Baik Agustina maupun Alexander sama-sama mengharapkan masa depan yang lebih baik bagi anak mereka yang merupakan bagian dari komunitas Hispanik.

“Saya berharap anak itu lebih sukses dari orang tua, Anak pasti akan memilih masa depannya sendiri. Kita hanya bisa mendukung,” ujar Alexander seperti dikutip VOA Indonesia.

Agustina tidak ingin mengikuti jejak sebagian keluarga Hispanik yang tidak menanamkan budaya Hispanik terlalu dalam pada anak-anak mereka karena takut mereka tidak bisa membaur dengan orang Amerika. Agustina berupaya agar putranya yang berusia 4 tahun tidak menyesal seperti ayahnya, yang tidak dapat berbahasa Spanyol maupun Vietnam.

“Jadi, saya minta kepada keluarga suami saya yang Hispanik. Saya bilang, kalau bisa tolong anak saya, walau masih kecil, ajarkan budaya Hispanik ke anak saya,” tukasnya.

Hana Pangestu, yang kini mampu memasak hidangan tamale sesuai resep keluarga dan arahan mertuanya, berharap dapat memperjuangkan kesetaraan hak pekerja imigran dan akses untuk mencoblos dalam pemilu bagi anggota komunitas Hispanik yang telah menjadi warga negara di AS.

“Equal rights, equal pay di tempat pekerjaan. To vote kalau mereka sudah legal dan kalau sudah menjadi citizen di US seharusnya mereka tidak dipersulit untuk voting di dalam pemilu,” harapnya.

Peringatan itu diawali pada tahun 1968 sebagai Pekan Warisan Hispanik pada masa kepresidenan Lyndon Johnson. Presiden Ronald Reagan kemudian memperluasnya menjadi 30 hari pada tahun 1988. Hispanic Heritage Month ditetapkan berdasarkan undang-undang yang disahkan pada tanggal 17 Agustus 1988. (VOA Indonesia/SP)