Kesehatan

Antiseptik untuk Tubuh Manusia dan Disinfektan untuk Benda Mati

YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com – Di kalangan masyarakat muncul fenomena penyemprotan disinfektan secara massif pada berbagai tempat, bahkan dilakukan langsung ke tubuh manusia.

Peneliti Fakultas Farmasi UGM, Endang Lukitaningsih, Senin (6/4/2020), menjelaskan disinfektan adalah bahan kimia yang dipakai untuk menghambat atau membunuh mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan jamur kecuali spora bakteri pada permukaan benda mati seperti lantai, furniture, dan ruangan.

“Disinfektan tidak digunakan pada kulit ataupun selaput lendir karena berisiko mengiritasi kulit dan berpotensi memicu kanker. Hal ini berbeda dengan antiseptik yang memang ditujukan untuk disinfeksi pada permukaan kulit dan membran mukosa,” katanya.

Menurut dia, cara menggunakan disinfektan adalah membersihkan permukaan benda dengan mengusapkan larutan disinfektan di bagian terkontaminasi, misalnya lantai, dinding, tombol lift, permukaan meja, daun pintu, dan lainnya.

Pemakaian disinfektan dengan teknik spray atau fogging katanyam digunakan untuk mengendalikan jumlah antimikrobia dan virus di ruangan yang berisiko tinggi.

“Untuk ruangan yang sulit dijangkau biasanya digunakan sinar UV dengan panjang gelombang tertentu. Proses ini akan mencegah penularan mikroorganisme patogen dari permukaan benda ke manusia.” katanya.

Apabila ingin menggunakan disinfektan, kata Endang ada beberapa produk yang direkomendasikan untuk disinfeksi.

Ia kemudian menyontohkan disinfektan yang direkomendasikan itu antara lain sodium hipoklorit, amonium kuartener (sejenis deterjen kationik), alkohol 70% dan hidrogen peroksida.

Kendati begitu dia menghimbau masyarakat untuk selalu memperhatikan petunjuk penggunaan pada label agar produk dapat digunaan dengan aman dan efektif.

“Konsentrasi disinfektan yang dipakai perlu diperhatikan. Selain itu waktu kontak antara objek dengan disinfektan antara 1-10 menit tergantung jenisnya, serta gunakan sarung tangan dan pastikan ventilasi yang baik untuk mengurangi paparan saat penggunaan,” urainya.

Antiseptik

Sedangkan antiseptik, katanya, merupakan senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan yang hidup antara lain permukaan kulit dan membran mukosa.

“Tujuannya untuk mengurangi kemungkinan infeksi, sepsis atau pembusukan,” ujarnya.

Beberapa antiseptik adalah germisida sejati yang mampu menghancurkan mikroba. Sedangkan yang lain bersifat bakteriostatik dan hanya mencegah atau menghambat pertumbuhannya.

Antiseptik jelasnya sering digunakan untuk membersihkan luka, mensterilkan tangan sebelum melakukan tindakan yang memerlukan sterilitas, misalnya povidon iodin, kalium permanganat, hidrogen peroksida, dan akohol.

“Hand sanitizer umumnya adalah mengandung antiseptik seperti alkohol 60-70%. Kadar bahan aktif pada antiseptik jauh lebih rendah daripada disinfektan,” tuturnya.

Sementara peneliti Fakultas Farmasi lainnya, Ika Puspita Sari, memaparkan virus Covid-19 memiliki lapisan dinding virus yang tersusun dari amplop glikoprotein yang membungkus RNA (ribonucleic acid)dibagian dalamnya.

Supaya virus ini bisa mati, katanya, maka dibutuhkan bahan yang mampu merusak amplop dan material di dalamnya. “Ampop ini tidak akan hancur dengan air saja sehingga perlu bahan lain yakni alkohol atau srufaktan (sabun) sesuai saran WHO,” jelasnya.

Ika menjelaskan lagi, Enviromental Protection Agencies (EPA) telah merilis 351 sediaan yang dapat digunakan sebagai disinfektan untuk membunuh virus termasuk virus corona dengan waktu kontak yang efektif.

Ia menyebutkan salah satu sediaan yang dimaksud adalah etanol dengan konsentrasi minimal 60%. Dengan konsentrasi tersebut diketahui dapat melarutkan bagian apolar dari dinding virus, sehingga virus akan rusak.

Selain itu bahan golongan klorin (klorin dioksida, sodium hipoklorit, dan asam hipoklorit) bisa membunuh virus dengan jalan masuk menembus dinding virus dan akan merusak bagian dalam virus.

Contoh sediaan lainnya adalah benzalkonium klorida yang termasuk dalam golongan surfaktan kationik yang saat ini banyak digunakan pada cairan disinfektan. Kendati begitu, kedua bahan ini mudah menguap sehingga berisiko mengganggu pernafasan jika terhirup.

“Ada juga hidrogen peroksida merupakan senyawa oksidator kuat yang bisa merusak dinding virus dan material didalamnya. Namun penggunaan berlebih akan mengakibatkan iritasi hingga kerusakan kulit,” ucapnya.

Ganggu Ekosistem

Sementara Dekan Fakultas Farmasi, Agung Endro Nugroho, tidak menyarankan penyemprotan disinfektan langsung pada manusia dan makhluk hidup. Selain tidak efektif, hal itu dikhawatirkan akan mengganggu ekosistem.

Pengunaan bilik (chamber) penyemprotan dengan disinfektan langsung pada manusia juga tidak disarankan, kecuali memakai cairan antiseptik yang sudah dipastikan aman dan melindungi bagian tubuh yang terbuka terhadap paparan.

“Untuk manusia, pencegahan terhadap penularan virus bisa dilakukan dengan sering mencuci tangan memakai sabun atau hand sanitizer, menjaga pola makan dan pola hidup sehat untuk menjaga imunitas,” tandasnya.

Menurutnya, penyemprotan disinfektan terhadap lingkungan juga perlu dipertimbangkan kembali. Penyemprotan dapat dilakukan dengan membatasi jumlah dan daerah yang disemprot. Misalnya, ruangan yang membutuhkan sterilitas di rumah sakit dan ruangan yang terdapat PDP.

“Cara terbaik menggunakan disinfektan adalah langsung mengelap/mengusap pada benda-benda yang diperkirakan rentan tertempel virus Cocud-19,” pungkasnya. (AS)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close