Opini

Antara Terbuang dan Keberuntungan

Kado 50 Tahun Harian Media Indonesia

BESOK, 29 Januari 2020 Harian Media Indonesia (MI) berulang tahun. Pernah bekerja di sana selama 14 tahun, saya ingin menyampaikan kado ulang tahun melalui tulisan ini.

Saya masuk Media Indonesia (1990) awalnya bukan karena ingin bekerja di situ, tapi mungkin karena dibuang akibat dianggap gagal mengelola Harian Yogya Post, koran bentukan PT Surya Persindo di Yogyakarta akhir 1989. Padahal menurut saya susah berkembangnya Yogya Post bukan karena semata kegagalan redaksional. Terbukti setelah saya dibuang ke MI dan untuk menggantikan saya didrop tokoh-tokoh redaktur terbaik dari MI, Yogya Post semakin anjlok dan akhirnya bubar.

Tapi sudahlah itu masa lalu. Pembuangan saya justru ada hikmahnya. Saya diberi kesempatan belajar di koran nasional di ibukota negara. Meski dengan hati pedih karena berpisah dengan keluarga, bangga juga menghadapi tantangan baru.

Ternyata tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan MI di Godila. Tugas tak jelas. Di struktur redaksi tertulis resmi saya disebut sebagai Reporter Senior, diberi tugas membantu editing di halaman luar (Polkam) Redakturnya Laurens Tato, Asisten Gantyo Koespradono. Dua sobat ini saya anggap mentor saya awal bekerja di MI.

Banyak hambatan bekerja sebagai anak buangan. Orang-orang MI sudah pasti memandang kehadiran saya dengan sebelah mata, karena melekat cap orang gagal. Saya juga mesti berpisah dengan keluarga dengan tiga anak balita yang tetap tinggal di Yogya. Secara teknis juga harus belajar menyesuaikan diri dengan penggunaan komputer dan cara kerja orang Jakarta.

Tapi saya punya tekad, apapun jalannya harus survive. Semua hambatan mesti dapat diatasi. Semua job yang diberikan redaktur selalu saya kerjakan sebaik-baiknya. Kawan-kawan yang awalnya nyuekin saya pun saya dekati dengan baik-baik. Dalam waktu tak terlalu lama saya mampu menyatu dalam satu tim. Saya tak lagi merasa sebagai anak buangan, terus bekerja dan bekerja. Jabatan di Redaksi pun mendaki dari Reporter, Asisten Redaktur, Redaktur, Asisten Redaktur Eksekutif sampai Redaktur Eksekutif dalam waktu 10 tahunan.

Memahami karakter awak MI juga perlu waktu dan kesabaran. Maklum latar belakang kawan-kawan sangat beragam, dari segi pendidikan, ras, suku dan agama. Mereka umumnya jebolan dari penerbitan pers. Awalnya saya ditugasi cari bahan untuk rubrik “Sosok” dari AFP/Rtr sambil memperlancar mengetik di komputer. Lalu mengedit satu dua berita, mengenali satu persatu redaktur, asred, reporter, sekred, bagian produksi.

Tak terasa tiga-empat bulan, paham semua langgam dan karakter personel komunitas Godila. Siapa yang suka dugem cari hiburan malam setelah pekerjaan selesai, siapa yang kerja cepat, kerja lambat, pintar cari rejeki dan seterusnya. Juga mulai paham watak MI sebagai institusi dengan SP sebagai Pangtinya.

Hebatnya meski berasal beragam latar belakang, semuanya berwatak sama: watak ideologis MI yang nasionalistis-Pancasilais. Walaupun demikian saya juga masih menyaksikan beberapa kawan yang kadang melayani kepentingan pihak-pihak di luar yang mengganggu semangat independensi MI sebagai institusi.

Sebagai contoh suatu hari saya sebagai Redaktur Polkam mesti menerima laporan dan menjahit berita Kongres PDI di Medan. Isi berita dan judul beberapa hari sevelum dan saat pelaksanaan Kongres saya sesuaikan dengan policy redaksi, menuangkan fakta apa adanya di dalam dan di luar Kongres. Tapi, ternyata pihak “keamanan” waktu itu sangat terganggu dengan pemberitaan MI tentang Kongres PDI. Maklum zaman Orde Baru. Pers masih dalam kendali penguasa. Telepon di meja saya pun berdering dan seorang kawan dari MI yang berada di Medan menyapa saya dan memberikan telpon kepada seorang perwira tinggi TNI. Tanpa ba dan bu lagi sang perwira berbintang satu pun memaki-maki saya, keras, kasar, dan intimidatif.

Tentu saya tak bisa apa-apa selain hanya bilang “Siap jenderal”. Walaupun pada akhirnya berita yang saya turunkan tetap sesuai kesepakatan di Redaksi dan tak sesuai dengan “perintah” jenderal berbintang satu itu. Itulah contoh keberanian yang saya dapatkan dari MI dan tentu sesuai garis Bang Surya Paloh…

Dari MI saya dan kawan-kawan belajar banyak hal, menimba pengalaman, berkesempatan bergaul
Dari MI saya dan kawan-kawan belajar banyak hal, menimba pengalaman, berkesempatan bergaul dan bersahabat dengan tokoh-tokoh politik. Ketika saya pamit mundur dari MI (2004) sama sekali bukan karena ketidakcocokan ideologi, kenyamanan bekerja, maupun tingkat kesejahteraan, melainkan karena merasa sudah beruntung mendapat cukup bekal memasuki dunia politik. Banyak bahan-bahan menarik yang saya dapat di balik berita yang tidak dipublish. Juga diskusi antar awak MI sangat memperkaya berbagai ilmi dan pengetahuan.

Saya sepakat dengan pendapat kawan bahwa MI itu sesungguhnya sebuah universitas kehidupan. Lima tahun menjadi anggota DPR-RI (2004-2009) , setahun meminpin sebuah perusahaan pertambangan (2009-2010), kemudian lima tahun menjabat sebagai Komisioner Komisi Yudisial (2010-2015), semuanya karena ilmu dan pengalaman selama di MI. Bekerja di MI juga memotivasi saya untuk terus ingin belajar. Walhasil saat di DPR saya ambil S2 di UGM, dan di KY saya selesaikan S3 di Unpad. Alhamdulillah.

Terima kasih Bang Surya Paloh, Sang Panglima Besar Media Indonesia., motivator dan inspirator ulung…

*Tulisan di atas sudah dimuat di Buku Meniti Tirani Jurnalisme Media Indonesia.

KOMENTAR
Tag
Show More

Check Also

Close
Back to top button
Close
Close