Opini

Antara Pembangunan Kota & Fatwa Seorang Pujangga

Mutiara Hikmah

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“Isteriku. Izinkanlah aku untuk membangun sebuah kota istana nan indah dan megah. Untukmu. Kota itu akan kubangun tidak jauh dari Cordoba ini. Sebagai bukti cintaku kepadamu, kota itu akan kuberi nama Medina Al-Zahra’!”

Demikian ucap Abdurrahman III Al-Nashir li Dinillah, penguasa Muslim kondang Andalusia kala itu, pada suatu malam, kepada isteri tercintanya: Al-Zahra’. Tentu, betapa suka cita salah seorang puteri penguasa Granada, Andalusia itu mendengar ucapan suami  tercintanya yang demikian itu.

Segera, penguasa ke-8 Dinasti Umawiyah di Cordoba itu memerintahkan salah seorang puteranya, Al-Hakam II, untuk memimpin proyek pembangunan kota istana itu. Kelak, kota itu akan diberi nama “Medina Al-Zahra’”. Yang secara harfiah berarti “Kota Bunga”. Calon kota itu dirancang  di sebelah  barat  Cordoba. Di  dekat Sungai Guadalquivir, dan di atas  Bukit  Siera Morina. Pembangunan kota ini dimulai pada permulaan Muharram 325 H/Desember 936 M.

Biar pembangunan kota istana itu cepat rampung, dikerahkanlah   tenaga  kerja  yang jumlahnya tidak tangung-tanggung: sekitar 10.000 orang.  Setiap  hari dan berlangsung terus menerus selama 25 tahun. Selain itu, lebih dari 3.000  hewan  dikerahkan.  Untuk mengangkut  berbagai  ragam  bahan bangunan. Dari berbagai belahan dunia. Misalnya, marmer hijau  dan ungu  yang  didatangkan  dari  Carthago dan marmer putih  dari Almeria. Sedangkan beberapa bahan lainnya yang terbuat dari  emas dan perak didatangkan dari Suriah dan Constantinople. Luar biasa!

Kota yang juga disebut dengan nama “Mahkota Pengantin  Puteri” (Tâj  Al-‘Arûs) ini  terdiri dari tiga blok dan   demikian  megah. Blok  pertama  terdiri dari istana-istana,  perumahan,  dan pasar.  Blok  kedua dikhususkan untuk taman  dan  tempat pesiar. Sedangkan blok ketiga untuk toko-toko, pemandian umum, dan tempat satuan   pengamanan.  Karena  demikian  megah,  tidak  aneh   bila pembangunannya  tiap tahunnya menghabiskan biaya sekitar  300.000 dinar.  Tidak  mengherankan  pula,  ketika  kota  itu   rampung dibangun, kota itu mampu menyediakan akomodasi ratusan kamar  dan apartemen,  di samping bangunan-bangunan lainnya, seperti  masjid. Juga, memungkinkan pula ribuan pasukan pengawal tinggal di kota itu.

Sayang, pembangunan kota istana itu, ternyata, membuat penguasa yang lahir di Cordoba pada Ramadhan  277  H/Desember 890 M itu pernah meninggalkan shalat Jumat di masjid. Bukan hanya sekali. Tetapi, sebanyak tiga kali berturut-turut. Mendengar dan mengetahui hal itu, Al-Mundzir bin Sa‘id Al-Baluthi, hakim agung (qâdhi al-qudhah) kondang Andalusia kala itu, bermaksud memberikan nasihat kepada penguasa tersebut. Menurut sang hakim agung, Abdurrahman Al-Nashir sangat lalai: tiga kali meninggalkan shalat Jumat “hanya” karena urusan pembangunan kota dan cintanya kepada sang permaisuri. Duh.

Oleh karena itu, suatu hari, ketika sang hakim agung sedang menyampaikan khutbah shalat Jumat, yang juga dihadiri ‘Abdurrahman III Al-Nashir, ia antara lain mengutip firman Allah Swt. berikut:

Apakah kalian mendirikan pada setiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kalian mendirikan benteng-benteng dengan maksud agar kalian kekal (di dunia)? Dan, manakala kalian menyiksa, kalian menyiksa sebagaimana orang-orang yang kejam dan bengis. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Juga, bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepada kalian sesuatu yang kalian ketahui. Dia telah menganugerahkan kepada kalian hewan-hewan ternak, anak-anak, dan kebun-kebun serta mata air. Sungguh, aku takut kalian akan ditimpa azab hari yang besar.” (QS Al-Syu‘arâ’ [26]: 128-135).

Usai mengutip ayat-ayat Al-Quran tersebut, Al-Mundzir bin Sa‘id kemudian melengkapi khutbahnya yang pedas dan keras itu dengan uraian perihal larangan berlaku boros. Juga, larangan  menghambur-hamburkan harta kekayaan. Meski untuk membangun sebuah kota.

Mendengar khutbah pedas tersebut,  penguasa yang berhasil menjadikan Andalusia  sebagai sebuah  negara  adikuasa yang makmur dan kaum Muslim  sebagai pelopor ilmu pengetahuan di Eropa itu tidak kuasa menahan lelehan air matanya: ia sangat menyesali tindakannya. Ia hanya kuasa menundukkan kepala saja mendengar khutbah pedas dan keras itu. Tak sepatah katapun terucap dari mulutnya.

Kemudian, selepas kembali ke istana, Abdurrahman Al-Nashir berucap kepada puteranya, Al-Hakam II, pemimpin proyek pembangunan Medina Al-Zahra’, “Hakim agung kita sangat keterlaluan dalam mengecam dan menyinggung diriku. Tadi, ketika ia memberikan khutbah dalam shalat Jumat. Demi Allah, aku selamanya tidak akan lagi melaksanakan shalat Jumat. Di belakang hakim agung itu!”

“Amir Al-Mukminin,” sahut Al-Hakam II, “Apa yang membuat ayah tidak mencopot dan memberhentikan orang itu sebagai hakim agung? Keterlaluan ia!”

“Celaka kau, puteraku!” sergah cucu Onneca Fortunes (seorang puteri dari Kerajaan Pamplona, Spanyol) yang pencinta  filsafat  itu, selepas menyadari kembali kekeliruan dirinya. “Apakah tokoh sehebat Al-Mundzir, yang  saleh, memiliki ilmu dan wawasan yang luas, dan berakhlak mulia, harus dicopot demi membela hawa nafsu yang senantiasa menyimpang dari kebenaran, menampakkan kemewahan, dan menempuh tujuan yang tidak benar? Ini tidak boleh terjadi, puteraku. Juga, jangan pernah pula engkau lakukan. Sekalipun! Sungguh, aku akan malu di hadapan Allah Swt. bila aku tidak kuasa menjadikan orang seperti Al-Mundzir bin Sa‘id sebagai penolongku. Di Hari Kiamat kelak!”

Tidak aneh bila penguasa  yang energik, teguh, pemberani, lugas, dan toleran  itu bersikap indah demikian: ia tidak membenci dan mencopot hakim agung yang berani mengkritik pedas terhadap dirinya, karena malu kepada Allah Swt. Apalagi sampai mencopot hakim agung itu dari kedudukannya. Dan, ia berharap kelak, di Hari Kemudian, sang hakim agung dapat menjadi penolongnya di hadapan Tuhannya!

Teladan yang indah!

*Penulis alumnus Universitas Al Azhar, Kairo, pernah nyantri di.Ponpes Al Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Sekarang pemgasuh Ponpes Nun, Baleendah, Bandung.

 

 

 

 

 

 

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close