Opini

Antara Dzulqurnain & Alexander Agung

Mutiara Hikmah

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

OM yai! Bisakah saya dikasih pencerahan tentang Dzulqarnain.”

Demikian sebuah pesan masuk ke telpon genggam saya. Pagi ini. Lama, saya menyimak pertanyaan dari seorang saudara sepupu yang meraih gelar Ph.D di bidang teknik komputer dari Perancis itu. Selepas merenung lama, tiba-tiba saya teringat catatan saya tentang Dzulqarnain dan Alexander Agung.

Hari itu, Ahad, 12 Rabi‘ Al-Akhir 1431 H/28 Maret 2010 M, matahari baru menampakkan senyumnya sekitar pukul enam pagi waktu Kairo, Mesir. Karena itu, seusai melaksanakan shalat Subuh dan memersiapkan segala hal yang diperlukan dalam perjalanan ke Alexandria hari itu (hari itu saya mau pergi ke Alexandria bersama istri saya), saya kemudian membuka catatan saya tentang kota yang terletak di tepi Laut Mediterrania itu. Ternyata, dalam catatan itu, ada  satu pertanyaan menarik yang pada 1430 H/2009 M pernah diajukan kepada saya ketika sedang berada di Kairo itu.

Pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut, “Apakah Dzulqarnain yang dikemukakan dalam Al-Quran adalah Alexander Agung?”

Perihal pertanyaan tersebut, seorang ulama terkemuka asal Mesir, Dr. Yusuf Al-Qardhawi memberikan jawaban yang menarik. Jawaban lengkap pemikir Muslim yang lahir  di desa Shafat Turab, Mesir, pada Kamis, 1  Rabi‘ Al-Awwal 1345 H/9 September 1926 M itu, seperti ia kemukakan dalam karyanya Fatwa Al-Qardhawi, adalah sebagai berikut:

Kisah Dzulqarnain dipaparkan  Al-Quran  dalam Surah  Al-Kahfi. Namun, Al-Quran tidak menerangkan siapakah sejatinya   Dzulqarnain,    siapakah    orang-orang    yang didapatinya,   dan  di mana  tempat  terbenam  dan  terbitnya matahari. Semua itu tidak dikemukakan dalam Al-Quran secara rinci  dan  jelas.  Baik mengenai nama maupun lokasinya. Hal ini mengandung hikmah bahwa hanya Allahlah yang mengetahuinya. Tujuan kisah yang ada dalam Al-Quran, baik pada  Surah Al-Kahfi  maupun lainnya, bukan sekadar memberitahu hal-hal yang berkaitan dengan sejarah dan kejadiannya. Tetapi, tujuan utamanya  adalah  sebagai  suri teladan dan pelajaran bagi manusia. Ini sebagaimana difirmankan Allah Swt., ‘Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat  pelajaran bagi orang-orang yang berakal.’ (QS [Yûsuf] 12: 111).

Kisah Dzulqarnain mengandung suri teladan seorang raja saleh yang dikaruniai oleh Allah kekuasaan di bumi. Timur dan Barat.   Meski semua manusia  dan  penguasa  negara  tunduk  atas kekuasaannya, ia tetap pada  pendiriannya  sebagai  seorang yang  saleh,  taat,  dan bertakwa. Ini sebagaimana diterangkan sebagai berikut, ‘Dzulqarnain berkata, ‘Adapun orang  yang  menganiaya,  kelak  kami  akan  mengazabnya,  kemudian  dia  dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan  mengazabnya  dengan  azab  yang tiada taranya.’’ (QS [Al-Kahfi] 18: 87). ‘Sedangkan  orang  yang  beriman  dan orang beramal saleh, maka baginya pahala  yang  terbaik  sebagai  balasan .’  (QS [Al-Kahfi] 18: 88).

Jadi,   apa   yang  diterangkan  dalam  Al-Quran  hanyalah mengenai perginya Dzulqarnain ke arah terbenamnya  matahari. Sehingga,  ia berada  di suatu  tempat  yang  paling  jauh.  Di situ diterangkan,  ia  melihat  matahari  saat terbenam seakan terbenam di mata air tersebut. Sejatinya, matahari  tidak  terbenam  di  laut.  Tetapi,  hanya  bagi penglihatan  kita  saja  yang  seakan  matahari tampak terbenam  (jatuh)  ke  laut.  Padahal, matahari terbit dan sedang menerangi wilayah (bangsa) lain.

Maksud dari ayat tersebut adalah Dzulqarnain telah sampai ke tempat paling jauh, seperti halnya matahari terbenam di mata air  kotor (berlumpur) seperti yang disebutkan di atas. Begitu juga maksud dari ayat tersebut adalah Dzulqarnain telah sampai  di tempat  terjauh, yaitu terbitnya matahari dan sampai bertemu pula dengan kaum Ya‘juj dan Ma‘juj. Dalam keadaan demikian, Dzulqarnain tetap pada  pendiriannya semula. Yaitu,  sebagai  seorang  raja  yang  adil  dan kuat imannya serta tidak  dapat  dipengaruhi  oleh  hal-hal  yang dikuasai,   dan  kekuasaannya  ia perkuat  dengan  membangun  bendungan   besar   yang   terdiri   dari bahan-bahan  besi dan sebagainya. Selain itu, di dunia ini ia senantiasa berkata dan mengakui bahwa segala sesuatu yang ia peroleh merupakan karunia Allah dan rahmat-Nya. Firman Allah Swt. dalam Al-Quran, ‘Dzulqarnain  berkata,  ‘(Bendungan atau benteng) ini adalah suatu rahmat dari Tuhanku. Karena itu apabila  sudah  tiba  janji Tuhanku,  Dia  pun  menjadikannya  rata  dengan bumi (hancur lebur); dan janji Tuhanku  adalah benar.’ (QS Al-Kahfi [18]: 98).

Tujuan  utama  Al-Quran  dalam  uraian  di atas adalah sebagai  suri teladan  tentang  seorang  raja  saleh  yang  dikaruniai kekuasaan  besar  pada kesempatan yang luar biasa dan kekuasaannya mencakup ke seluruh penjuru  dunia  di  sekitar terbit  dan  terbenamnya  matahari.  Dalam keadaan demikian, Dzulqarnain tetap dalam  kesalehan  dan senantiasa konsisten dengan sikapnya tersebut. Firman Allah Swt. ‘Sesungguhnya  Kami telah memberikan kekuasaan di bumi dan Kami telah  memberikan  kepadanya  (Dzulqarnain) jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.’ (QS [Al-Kahfi] 18: 84).

Mengenai  rincian  dari  masalah  tersebut tidak diterangkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah, misalnya  waktu,  tempat  dan kaumnya, dan siapa  sebenarnya  mereka.  Karena  tiada manfaatnya, seyogianya kita berhenti pada  hal-hal  yang diterangkan   saja.   Jika  bermanfaat,  tentu  hal-hal  itu diterangkan dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw.

Dengan kata lain, menurut Dr. Yusuf Al-Qardhawi, Al-Quran tidak memastikan bahwa Dzulqarnain adalah Alexander III dari Macedonia alias Alexander Agung. Juga, tidaklah penting apakah sosok Dzulqarnain adalah Alexander Agung atau Raja Cyrus II. Namun, yang penting dari kisah dalam Al-Quran tersebut adalah tujuan  utamanya. Yaitu, “sebagai  suri teladan  tentang  seorang  raja  saleh  yang  dikaruniai kekuasaan  besar  pada kesempatan yang luar biasa dan kekuasaannya mencakup seluruh penjuru  dunia  di  sekitar terbit  dan  terbenamnya  matahari.  Dalam keadaan demikian, Dzulqarnain tetap dalam  kesalehan dan senantiasa konsisten dengan sikapnya tersebut”.

Kini, biar lebih gamblang, siapakah Alexander Agung?

Lembaran sejarah mencatat, Alexander Agung lahir pada 356 sebelum Masehi (SM). Putera pasangan suami-isteri Raja Macedonia, Filippus II, dan Olympias ini menggantikan kedudukan ayahnya pada 336 SM. Tidak lama selepas naik tahta, ia segera dihadapkan pada sebuah masalah: pemberontakan Athena dan Thebes. Selepas berhasil mengatasi persoalan itu, ia kemudian melakukan ekspansi militer ke berbagai kawasan: Persia, Mesir, dan India.

Ketika berada di Babylonia, Alexander Agung jatuh sakit dan kemudian akhirnya berpulang pada 323 SM, di usia sekitar 33 tahun, dengan meninggalkan wilayah kekuasaan yang membentang luas di tiga benua: Eropa, Asia, dan Afrika. Namun, tiadanya ahli waris, menyebabkan terjadi perpecahan dan pertempuran di antara para jenderal. Kala itu, penasihat spiritual utama Alexander, Aristander, menyatakan bahwa negeri yang menjadi tempat Alexander dikebumikan akan bernasib baik. Ramalan itu ternyata kian memicu persaingan yang membara di antara para jenderal.

Alexander Agung sendiri, sebelum berpulang, berpesan supaya jenazahnya dikebumikan di sebuah kuil dewa utama orang-orang Mesir, Ammon Ra, di ujung oasis Siwa, yang terletak di gurun pasir antara Mesir-Libya. Ia telah mengunjungi makam itu pada 331 SM, selepas berhasil membebaskan Mesir dari tangan pasukan Persia. Para pendeta kuil tersebut, konon mereka telah meramalkan kedatangannya dan menyambutnya sebagai putera Ammon, suatu pengakuan atas kewibawaannya.

Perdiccas, seorang jenderal yang sangat loyal terhadap ayahanda Alexander, Filippus II, dan menaruh perhatian besar terhadap ramalan Aristander, menentang keinginan Alexander. Bukannya membawa jenazah Alexander ke Siwa, Perdiccas memerintahkan supaya jenazah itu dibawa ke Macedonia untuk dikebumikan di Aegea, di lingkungan makam keluarga Kekaisaran Macedonia. Namun, ketika iring-iringan jenazah itu tiba di Issum (kini Iskenderun, Turki), terjadilah “kudeta” tidak berdarah atas iring-iringan itu.

“Ptolemeus, kala itu menjabat penguasa Mesir, datang dengan pasukannya untuk mencegat iring-iringan itu,” urai T. Peter Limber, seorang pakar sejarah Yunani, dalam tulisannya berjudul “Alexander, The Great Mystery” (Saudi Aramco World, Mei/Juni 2001), tentang kisah “kudeta” tidak berdarah itu.  “Ia kemudian memaksa iring-iringan itu beralih arah menuju ke selatan: ke Mesir. Meski sekilas tampak ia bermaksud memenuhi pesan pribadi Alexander, namun Ptolemeus sejatinya tidak ingin mengebumikan Alexander di Siwa. Ia ingin jenazah itu dikebumikan di Alexandria, ibu kota Mesir kala itu. Namun, karena mausoleum untuk sang kaisar belum dibangun di Alexandria, Ptolemeus kemudian mengebumikan jenazah sang kaisar selama beberapa tahun di Memphis, ibu kota lama kerajaan Mesir kuno.

Di Babylonia, reaksi Perdiccas sudah dapat diramalkan: ketika ia menyadari kudeta yang dilakukan Ptolemeus, ia pun bertolak ke Mesir bersama pasukannya untuk menghukum sang pembajak dan membawa kembali jenazah Alexander Agung. Namun, di tengah perjalanan, ia dibunuh beberapa perwiranya yang disuap oleh Ptolemeus. Sedangkan jenderal-jenderal yang lain tidak yang tergerak untuk memindahkan jenazah Alexander dari Mesir. Dan, ketika mausoleum di Alexandria telah siap, jenazah Alexander pun dipindahkan ke kota itu dan dikebumikan di sana.”

Itulah kisah mengapa Alexander Agung dikebumikan dalam sarkofagus keemasan di Sema, pusat Kota Alexandria. Bukan di Macedonia, Yunani!

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close