Sebuah Kisah Tercecer dari Timur Tengah

Antara Cinta dan Menjaga Marwah

Antara Cinta dan Menjaga Marwah

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“GUBERNUR. Kami baru saja berhasil menangkap seorang anak muda yang melakukan pencurian. Izinkan kami menghadapkan anak muda itu kepada Gubernur!”

Demikian ucap seorang komandan pasukan pengawal  Khalid bin ‘Abdullah, seorang Gubernur Basrah, Irak pada masa pemerintahan Dinasti Umawiyah. Sang gubernur, kala itu, sedang berbincang dengan beberapa pejabat. 

“Silakan!”  jawab sang gubernur.

Tidak lama kemudian, muncul beberapa orang yang menyeret seorang anak muda. Ketika orang-orang itu telah berada di hadapan sang gubernur, segera Khalid bin ‘Abdullah melihat, ternyata anak muda yang mereka seret berwajah tampan, berpakaian mewah, dan berpenampilan keren. Tak lama kemudian, salah seorang di antara orang-orang itu melaporkan dengan nada suara penuh kegeraman, “Gubernur. Semalam, anak muda ini  melakukan pencurian. Di rumah kami!”

Menerima laporan demikian, sang gubernur pun memandangi anak muda itu. Lama. Segera, ia terpikat dengan ketampanan, penampilan, dan ketenangan anak muda tersebut dalam menghadapi masalah yang sedang menerpa dirinya. Sulit ia bayangkan, anak muda itu telah melakukan pencurian. Lalu, perintahnya kepada orang-orang yang menangkap anak muda itu, “Lepaskan anak muda ini! Biarkan ia di sini!”

Selepas  orang-orang yang menangkap anak muda itu berlalu, Khalid bin ‘Abdullah lantas menyapa ramah anak muda itu, “Anak muda! Apa yang mendorong kau melakukan pencurian? Padahal, tampilanmu keren dan tampaknya kau berpengetahuan?”

“Keserakahan terhadap dunia, Gubernur. Itulah yang mendorong saya melakukan pencurian. Sebagai balasannya, Allah Swt. kini mempermalukan aku,” jawab anak muda itu. Sambil menundukkan kepala. 

“Memalukan! Apa gunanya ketampananmu dan ilmumu!” bentak Khalid bin ‘Abdullah. Sambil menahan amarahnya.

“Gubernur. Saya mohon, lupakan semua itu. Lebih baik, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah Swt. kepada kita. Ini,  memang, hukuman yang semestinya saya terima. Allah Swt.  tidak akan berbuat aniaya kepada hamba-hamba-Nya,” jawab anak muda itu. Dengan nada suara tegas dan lugas.

Mendengar jawaban yang demikian,  Khalid bin ‘Abdullah merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia merasa, anak muda itu tidak bersalah. Sejenak, ia memandangi kembali dengan cermat anak muda itu. Lantas, ucapnya, “Anak muda. Pengakuanmu yang begitu cepat malah membangkitkan syak wasangkaku terhadap dirimu. Menurut perasaanku, kau bukan pencuri. Bukankah demikian, anak muda?”

“Gubernur!” sahut anak muda itu. Lugas. “Saya ini benar-benar telah melakukan pencurian. Tadi malam, saya memasuki rumah salah seorang di antara orang-orang yang menyeret saya ke sini  tadi dan mengambil beberapa helai baju. Namun, sebelum saya lari, mereka berhasil menangkap saya. Lalu, mereka membawa saya ke mari.”

Karena anak muda itu tetap  tidak mengakui sebagai pencuri, Khalid bin ‘Abdullah kemudian memerintahkan supaya anak muda tersebut ditahan. Di samping itu, ia juga memerintahkan seorang pejabat untuk mengumumkan ke seluruh penjuru Basrah: “Barang siapa ingin menyaksikan hukuman yang akan dijatuhkan atas diri seorang pencuri berwajah tampan dan berpengetahuan luas, hendaklah besok datang menyaksikannya di halaman Masjid Basrah!”

Ketika anak muda itu telah dimasukkan ke dalam sel, sementara rantai besi berat membelenggu kedua tangan dan kakinya, ia pun menarik napas. Lama dan lega. Seakan, ia baru saja terlepas dari beban berat yang ia sangga. Lalu, dengan suara merdu ia mendendangkan sebuah puisi:

Khalid mengancam akan menghukum aku

Pabila aku mau menuturkan kisah cintaku

Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak akan mengaku

Hukuman berat bagiku terasa lebih ringan

Ketimbang kisah cintaku kepada kekasihku terungkapkan

Ternyata, dendang puisi itu terdengar oleh penjaga yang menjaga sel anak muda itu. Penjaga itu pun lantas memberitahu Khalid bin ‘Abdullah tentang puisi yang didendangkan anak muda itu. 

Ketika malam tiba, Khalid bin ‘Abdullah pun memerintahkan supaya anak muda itu dibawa menghadap kepadanya. Ketika anak muda itu telah berada di hadapannya, Khalid pun mengajak berbincang-bincang anak muda itu dan menikmati hidangan lezat yang disajikan. Lewat perbincangan itu Khalid kian yakin anak muda itu tidak bersalah. Menurut ia, anak muda yang ramah, berpengetahuan luas, dan keren itu tidak mungkin melakukan pencurian hanya beberapa helai baju. Seperti yang dituduhkan orang-orang yang menangkap anak muda itu.

Selepas lama terlibat dalam perbincangan dengan anak muda itu, Khalid bin ‘Abdullah lantas berkata, “Anak muda! Aku tahu, kau bukan seorang pencuri. Karena itu, besok, ketika orang-orang dan para hakim telah datang serta aku bertanya kepada kau apakah kau benar-benar telah melakukan pencurian, kemukakanlah suatu alasan yang menimbulkan keraguan atas tuduhan yang ditujukan kepadamu. Dengan demikian, kau akan terlepas dari  hukuman. Bukankah Nabi Saw. berpesan, ‘Hukuman batal dengan sesuatu yang menimbulkan keraguan.’ 

Seusai berpesan demikian, Khalid bin ‘Abdullah lantas meminta anak muda itu kembali ke dalam selnya.

Hari berikutnya, orang-orang datang berduyun-duyun ke Masjid Basrah. Untuk menyaksikan hukuman yang bakal dijatuhkan atas diri anak muda itu. Kemudian, ketika matahari telah tinggi, Khalid bin ‘Abdullah dan rombongan  pun tiba. Tidak lama kemudian, Gubernur Basrah itu memerintahkan supaya anak muda itu dibawa menghadap.

Ketika anak muda itu datang, tiba-tiba di antara kaum perempuan yang hadir terjadi kegaduhan. Mereka meratapi nasib yang akan menimba diri anak muda itu. Sang  gubernur pun memerintahkan mereka supaya tidak gaduh. Setelah suasana tenang, sang gubernur lantas berpaling kepada anak muda itu dan bertanya kepadanya, “Anak muda. Orang-orang menuduh kau memasuki rumah seorang di antara mereka dan mencuri beberapa helai baju. Benarkah?”

“Benar, Gubernur! Saya memang telah memasuki rumah salah seorang di antara mereka dan mengambil beberapa helai baju. Karena itu, mereka menangkap saya!” jawab anak muda itu.

“Mungkin nilai beberapa helai baju yang kau curi  kurang dari jumlah yang dapat membuat kau dijatuhi hukuman?”

“Tidak! Malah, lebih!”

“Mungkin sebagian baju-baju itu milikmu?”

“Tidak! Baju-baju itu sepenuhnya milik orang yang rumahnya saya masuki. Saya tidak berhak sama sekali atas baju-baju tersebut!”

Amarah Khalid bin ‘Abdullah pun meledak. Ia merasa dipermainkan dan dipermalukan oleh anak muda itu. Sebab, setiap kali ia memberikan kesempatan kepada anak muda itu untuk membebaskan diri dari hukuman yang bakal dijatuhkan, anak muda malah mengukuhkan pencurian yang ia lakukan. Akhirnya, Khalid pun menjatuhkan hukuman potong tangan atas diri anak muda itu. 

Ketika petugas yang bertugas akan melaksanakan hukuman muncul dan siap mengayunkan pedangnya, tiba-tiba seorang cewek cantik muncul dan menyeruak dari kaum perempuan yang hadir di situ. Cewek tersebut kemudian menjatuhkan diri dan menangis tersedu-sedu di hadapan Khalid bin ‘Abdullah. 

Suasana pun menjadi hening. Beberapa saat kemudian,  suara cewek itu memecah ruang, “Gubernur. Saya mohon, kiranya Anda tidak menjatuhkan hukuman atas diri anak muda itu sebelum Anda membaca puisi yang tertulis dalam lembaran kertas ini.”

Seusai berucap demikian, cewek itu lantas menyerahkan sebuah gulungan kertas indah kepada Khalid bin ‘Abdullah. Begitu gulungan kertas itu dibuka Khalid, di situ tertulis puisi:

Duh Khalid! Di tanganmu kini nasib seorang anak muda

Terbuai cinta kepada cewek yang menawan hatinya

Bukan karena mencuri ia datang ke rumahnya

Namun, karena ingin menjaga kehormatan kekasihnya membuat ia

Tak mau mengakui perbuatannya yang sebenarnya.

Selepas rampung membaca puisi tersebut, Khalid bin ‘Abdullah lalu menanya cewek itu mengenai kisah dirinya dengan anak muda itu. Cewek itu pun menuturkan bahwa di antara ia dan anak muda itu terjalin kisah cinta. 

“Malam ketika anak muda itu ditangkap,” tutur cewek itu. Dengan suara pelan dan menahan tangisnya, “anak muda itu sejatinya bermaksud menemui saya. Ketika anak muda itu berhasil naik ke atas tembok dan berada di atas atap rumahnya, anak muda itu lantas melemparkan kerikil kecil untuk memanggil saya. Kebetulan, saat itu, ayah saya sedang lewat di situ. Ayah pun memanggil para tetangga,  karena mengira anak muda itu pencuri. Anak muda itu, melihat dirinya terkepung, ia lantas segera turun dari atap dan mengambil beberapa helai baju saya. Sebagai ‘kamuflase’ maksudnya yang sebenarnya. Jadi, sejatinya anak muda itu bukan pencuri. Ia tidak  mau mengungkapkan maksudnya yang sebenarnya supaya keluarga saya tidak malu. Ia memilih dijatuhi hukuman untuk melindungi marwah saya.”

Mendengar kisah yang demikian, Khalid bin ‘Abdullah pun memerintahkan supaya ayah si cewek dibawa menghadap. Ketika ayah si cewek telah menghadap, Khalid pun berkata kepadanya, “Tuan. Seperti  Anda ketahui, sebelum ini kami bermaksud melaksanakan hukuman atas diri anak muda itu. Namun, Allah Swt. menyelamatkan nyawanya, karena ia sejatinya bukan pencuri. Ia mengaku sebagai pencuri dengan maksud untuk menjaga marwah keluarga Anda. Sebagai hadiah atas tindakannya, saya akan memberikan hadiah kepadanya sebesar 10.000 dirham. Saya juga akan memberikan hadiah yang sama kepada putri Anda. Dan, kini, izinkanlah saya menikahkan kedua anak muda itu.”

Sejenak, ayah cewek itu ragu untuk memberikan izin. Namun, kemudian, ia mengiyakan. Begitu mendapatkan izin tersebut, Khalid bin ‘Abdullah pun mengumumkan pernikahan anak muda itu dengan cewek tersebut. Keputusan sang gubernur tersebut disambut meriah oleh orang-orang yang hadir di situ. Segera, selepas dinikahkan, kedua sejoli itu pun mereka iring pulang. Mereka sangat gembira melihat anak muda yang tidak berdosa tersebut tidak jadi mengorbankan dirinya: dijatuhi hukuman sebagai pencuri!