Opini

Anies Baswedan Calon NasDem 2024?

APA pertemuan dengan Anies Baswedan ini berarti dukungan NasDem untuk Capres 2024?” tanya seorang wartawan.

Surya Paloh, Ketua Umum NasDem ketawa, “Sudah pasti dukunganlah. Dukungan lahir dan batin,” katanya. Dan semua tertawa. Ada yang ketawa senang, ketawa pahit juga ada.

Bisa dibilang ini guyonan khas Surya Paloh, politikus senior, yang sudah banyak makan asam garam di dunia politik. Sulit menerka apa maksud Surya Paloh dalam sebuah gerakan politik, sesulit menghitung berapa kilometer per jam kecepatan ocehan Fahri Hamzah kalau sedang berada di depan publik.

Seorang teman berkata, “Pak SP sedang memainkan politik belah bambu. Dengan mendekati Anies dan berkata akan mencalonkannya saat Pilpres 2024 ini, itu seperti mengusir kelompok radikal yang sedang menyerbunya sesudah Prabowo berkhianat. Kelompok radikal ini seperti lalat yang tahu aja di mana ada bangkai.” Aku ketawa mendengar analoginya.

Ada lagi teman yang berkata, “Pak SP sedang menghitung kekuatan ke depan jika ia bermain sendirian dengan mengajak Anies Baswedan. Anies baginya adalah bintang baru yang bisa dijual ke mana-mana untuk mengumpulkan biaya kelak saat pencalonan.

2024 adalah ruang terbuka dan cair karena tidak ada lagi Jokowi sebagai petahana.Apalagi Pak SP curiga, PDIP dan Gerindra bisa bersatu kembali di 2024 sama seperti yang mereka lakukan di 2009. Kalau dua partai besar itu bergabung, NasDem bisa ditinggal.”

Menarik melihat manuver-manuver politik yang sudah dilakukan bahkan saat Jokowi belum dilantik sebagai pemenang. 2024 adalah ruang terbuka dan cair karena tidak ada lagi Jokowi sebagai petahana. Siapa pun bisa menjadi calon presiden dengan kendaraan partai. Apalagi NasDem yang tidak punya calon untuk maju ke depan.

“Dalam politik itu tidak ada musuh abadi, maupun kawan abadi,” kata temanku sekali lagi. “Bisa saja kita yang di 2019 sama-sama cebong, terpisah dan berantem di media sosial karena berbeda pilihan. Dan bisa saja, para kampret yang dulu musuhan menjadi teman kita karena berada di satu barisan.”

Aku menyeruput kopiku. “Benar juga,” pikirku.

“Tapi satu yang harus kita lawan bersama,” kata temanku lagi. “Apa itu?” tanyaku penasaran.

“Spesies baru bernama kadal gurun. Ini kadal berbisa, berbahaya. Apalagi kadal yang sudah pernah minum kencing onta.” Temanku tertawa.

Aku juga ketawa membayangkan kadal gurun yang pernah minum kencing onta. Itu seperti Obelix, sahabat Asterix, yang selalu ditolak dukun Panoramix karena pernah tercebur di tungku ramuan ajaib.

Seruputtt….

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close