Angka Gempa Bumi RI Naik, BMKG Ungkap Sebabnya dan Kaitan Tsunami

Angka Gempa Bumi RI Naik, BMKG Ungkap Sebabnya dan Kaitan Tsunami
Ilustrasi gelombang tsunami yang dipicu gempa bumi (foto CNNIndonesia)

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Peningkatan jumlah gempa bumi di Indonesia belakangan diklaim terkait dengan sumbangsih gempa Palu dan Lombok pada 2018.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono menjelaskan gempa bumi susulan di Lombok mencapai lebih dari 3.000 kali. Sedangkan di Palu, gempa bumi yang diikuti dengan likuifaksi dengan 2.500 gempa bumi susulan.

"Intinya dua gempa tersebut juga memberikan penambahan yang signifikan," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (13/10/2020).

Khusus untuk gempa Palu, dia menyampaikan gempa susulan terjadi hingga tahun 2019. Sehingga, gempa bumi susulan itu memberi dampak pada jumlah gempa yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Lebih lanjut, Rahmat memaparkan kenaikan jumlah gempa bumi merupakan hal wajar. Selain sifat gempa bumi yang berulang, Indonesia berada pada zona gempa bumi. Dia memaparkan zona gempa bumi di Indonesia tersebar dari sepanjang pantai barat Sumatera, selatan Jawa, hingga Papua.

"Kalau di situ sudah jelas, di situ lah boleh bilang pasti terjadi gempa, ya pasti. Karena di situ sumber gempa, sumber pertemuan lempeng," ujarnya.

Lebih lanjut Rahmat menyebut peningkatan gempa dalam beberapa tahun terakhir berdasarkan data seismograph yang dikumpulkan oleh BMKG.

Kenaikan jumlah gempa bumi itu berdasarkan data yang sudah terjadi. Memang ada kenaikan yang signifikan mulai 2018-2019," ujar Rahmat.

Korelasi tsunami

Di sisi lain, Rahmat menegaskan gempa bumi yang meningkat tidak memiliki korelasi dengan tsunami. Sebab, dia mengatakan tsunami terjadi jika magnitudonya besar dan adanya deformasi atau robekan dasar laut, serta patahan yang cukup panjang.

Rahmat berkata gempa bumi yang berada di bawah 7 biasanya tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

"Tidak ada kaitannya jika jumlah gempanya besar berpotensi tsunami," ujar Rahmat.

Rahmat menambahkan tidak ada pihak yang bisa memprediksi gempa bumi. Namun, dia mengatakan pihaknya hanya bisa memprediksi lokasi gempa bumi yang ada di Indonesia, terutama di zona pertemuan lempeng.

Lebih dari itu, dia mengingatkan masyarakat tidak panik mengenai informasi mengenai gempa bumi. Justru, dia berharap informasi terkait gempa bumi dijadikan pedoman untuk mitigasi ke depan.

"Masyarakat Indonesia sudah sangat paham tinggal di zona rawan gempa dan tsunami. Tinggal secara bijak harus menyikapinya secara bijak," ujarnya. (ws)