Andai Tragedi 1258 M Tidak Terjadi

Andai Tragedi 1258 M Tidak Terjadi

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“BAGHDAD Madinah Al-Salam, betapa tragis nasibmu!”

Demikian seru bibir saya. Kemarin siang. Seruan yang diwarnai kepedihan, karena benak saya tiba-tiba teringat kembali dengan peristiwa tragis yang pernah menimba sebuah kota yang pernah menjadi pusat peradaban Islam tingkat dunia itu.

Ingatan perih yang demikian itu tiba-tiba “menyeruak cepat” dalam benak saya, ketika kemarin siang saya sedang menyimak perjalanan hidup Syeikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani (470-561 H/1078-1166 M), seorang sufi kondang yang berpulang di ibukota Irak itu. Seorang sufi kondang yang besar pengaruhnya terhadap kaum Muslim Indonesia.

Kini, bagaimanakah kisah tragis yang menimpa Baghdad pada 656 H/1258 M itu?

Hari itu, Baghdad Madinah Al-Salam sedang bermuram durja. Seorang penguasa yang memerintah kala itu berpulang. Ia kemudian digantikan oleh puteranya, Abu Ahmad ‘Abdullah.

Selepas menjadi orang nomer satu di Baghdad, Abu Ahmad bergelar Al-Mu‘tashim Billah. Mungkin, ketika mulai menduduki jabatan itu, Abu Ahmad tidak mempunyai firasat bahwa ia adalah penguasa terakhir Dinasti ‘Abbasiyah.

Juga, menjadi saksi keruntuhan Baghdad, salah satu pusat peradaban dunia kala itu. Sebuah kota yang dibangun oleh Abu Ja‘far Al-Manshur, penguasa ke-2 dinasti itu, pada 145 H/762 M.

Ya, Abu Ja’far Al-Manshurlah, penguasa ke-2 Dinasti ‘Abbasiyah, yang membangun Baghdad Madinah Al-Salam. Lembaran sejarah menorehkan, pembangunan Baghdad, yang dimulai pada Senin, 7 Jumada Al-Ula 145 H/2 Agustus 762 M dan kemudian menjadi ibukota pemerintahan pada 149 H/766 M, menandai keberhasilan Abu Ja‘far Al-Manshur dalam memantapkan kekuasaan Dinasti ‘Abbasiyah.

Kota dirancang berbentuk bundar oleh seorang arsitek Persia, dengan dikitari parit dan benteng serta dilengkapi dengan empat pintu gerbang utama: Pintu Gerbang Kufah di sebelah utara, Pintu Gerbang Bashrah di sebelah selatan, Pintu Gerbang Khurasan di sebelah timur, dan Pintu Gerbang Syam di sebelah barat.

Di pusat kota bundar ini, yang pembangunannya memakan waktu selama sekitar empat tahun, dibangun istana sang penguasa yang disebut Al-Qubbah Al-Khadhrâ’ (Kubah Hijau).

Ini karena istana ini memiliki kubah berwarna hijau yang tinggi menjulang. Di samping istana tersebut terdapat sebuah masjid megah yang mengikuti langgam arsitektur Masjid Umawi, Damaskus, Suriah dengan shahnnya yang tanpa atap. Dan, kota bundar ini dihubungkan jalan-jalan yang disebut sikak.

Yang tinggal di kota ini, kala itu, adalah para pegawai dan serdadu sang penguasa. Lokasi kota ini baru ini tidak jauh dari Kota Mada’in (Ctesiphon).

Nah, ketika Al-Mu‘tashim Billah mulai bertugas sebagai penguasa, nun jauh di Asia Tengah sedang tumbuh suatu kekuatan. Yang membuat gentar seluruh penghuni bumi kala itu.

Suatu kekuatan berkuda jempolan yang mampu bergulir cepat laksana air bah dan tidak mengenal perikemanusiaan. Nasib malang dan memilukan senantiasa menimpa kawasan yang mereka duduki.

Pada 615 H/1218 M, pasukan berkuda itu melabrak kawasan-kawasan Transoxiana, Khurasan, dan Persia. Lebih dari sejuta serdadu yang ganas itu memorakporandakan negeri-negeri yang kala itu memiliki peradaban yang tinggi.

Dua tahun kemudian, giliran Urganj yang diserbu. Bumi hangus dan genosida mewarnai kota itu. Kota itu mereka luluhlantakkan dengan membobol dam-dam Oxus. Di Nessa, mereka memanggang 70.000 anak manusia.

Nishapur, ibukota Dinasti Thahiriyah kala itu, menerima gilirannya pada Shafar 618 H/April 1221 M. Kota itu digilas dan diratakan dengan tanah. Ya, diratakan dengan tanah.

Kemudian, seluruh penjuru kota itu dihampari onggokan jerami. Api pun dinyalakan dan bara api pun membakar kota itu. Selama berhari-hari.

Menurut catatan Mirkhond, seorang sejarawan yang mengikuti gerak pasukan itu, pesta api yang membakar kota itu menelan korban “hanya” sekitar 1.747.000 orang. Duh!

Selanjutnya, gerak pasukan itu menuju Herat. Di sini, pembantaian terhadap anak-anak manusia terulang kembali. Sekitar 1.600.000 anak manusia dibunuh.

Namun, kala pasukan itu bergerak ke Baghdad, Al-Mustanshir, penguasa yang digantikan oleh Abu Ahmad, yang bergelar Al-Mu‘tashim Billah, berhasil memukul mundur pasukan ganas itu.

Kesempatan untuk membalas dendam baru muncul pada masa pemerintahan Al-Mu‘tashim Billah yang kurang mampu memegang kendali pemerintahan. Berbagai pergolakan dan kegoncangan mewarnai masa pemerintahannya.

Mungkin tak tahan melihat keadaan yang demikian, seorang menteri sang penguasa mengundang pasukan Tartar itu agar datang ke Baghdad. “Pengkhianat,” demikian komentar Ibn Khaldun, Abu Al-Fida’, Al-Maqrizi, dan Al-Sayuthi tentang tindakan sang menteri.

Undangan tidak terduga itu diterima oleh Hulagu Khan, wakil panglima pasukan Tartar dan saudara lelaki Kaisar Mangu Khan. Kala itu, ia sedang berada di Persia. Ia pun segera menggerakkan pasukannya menuju Tabriz.

Dari kota itu, ia mengirim sepucuk surat kepada Al-Mu‘tashim Billah. Tulis Hulagu Khan, “Ketika kami bertempur melawan Rudwar, kami meminta bantuan kepada Anda. Anda kala itu berjanji akan mengirimkan bala bantuan. Nyatanya, bala bantuan itu tidak kunjung tiba. Kini, kami meminta Anda agar memerbaiki perilaku Anda. Anda jangan bertingkah. Taruhannya adalah kerajaan dan harta karun Anda!”

Al-Mu‘tashim Billah melawan. Amarah Hulagu Khan pun membara. Selepas Baghdad Madinah Al-Salam dikepung selama sekitar 40 hari, kota itu akhirnya bertekuk lutut.

Sulit diuraikan tindakan brutal dan ganas apa yang dilakukan oleh Hulagu Khan dan pasukannya kala kota itu jatuh ke tangan mereka pada Ahad, 4 Shafar 656 H/10 Februari 1258 M.

“Penghancuran Baghdad oleh Hulagu Khan memerlukan pena seorang pakar seperti halnya Edwrd Gibbon,” begitu tulis Ameer Ali dalam A Short History of the Saraccens tentang tragedi Bagdad itu.

Banyak analisis telah disajikan tentang kejatuhan Baghdad Madinah Al-Salam itu. Kerap dikemukakan, kejatuhan kota itu di tangan pasukan Tartar merupakan awal kemunduran kaum Muslim.
Saya sendiri kerap merenung, andai tragedi itu tidak terjadi, apa yang akan terjadi? Akankah Dunia Islam dan kaum Muslim tidak akan mengalami kemunduran? Akankah “harta karun” ilmu pengetahuan yang dibakar dan dibuang ke Sungai Eufrat dan Tigris akan tetap ditelaah dan dikaji orang? Akankah, akankah, dan akankah?

Wallahu a‘lam bi al-shawab.