Ancaman Badai Matahari Ekstrem: Bisa Kiamat Internet hingga Mati Listrik

Ancaman Badai Matahari Ekstrem: Bisa Kiamat Internet hingga Mati Listrik
Ilustrasi badai matahari

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Bagi sebagian besar orang, badai Matahari terdengar menyeramkan. Apalagi fenomena ini memang dianggap sebagai salah satu ancaman dari antariksa selain sampah antariksa dan asteroid. Sebenarnya, badai Matahari tidak perlu ditakutkan karena Bumi kita punya pelindung untuk menangkalnya.

Meski demikian, ada sejumlah hal yang memang akan mengganggu kehidupan manusia di Bumi ketika terjadi badai Matahari. Berikut ini beberapa potensi ancaman badai Matahari ekstrem, seperti dikutip detikINET dari berbagai sumber, Sabtu (11/9/2021).

1. Kiamat internet

Menurut penelitian yang dipaparkan di SIGCOMM 2021, ada kemungkinan badai Matahari ekstrem mengganggu koneksi internet di Bumi. Asisten profesor di University of California, Sangeetha Abdu Jyothi, dalam makalahnya mengatakan, badai Matahari yang ekstrem bisa mengakibatkan 'kiamat internet' yang membuat sebagian besar populasi sulit terhubung ke internet selama berminggu-minggu.

"Apa yang benar-benar membuat saya berpikir tentang ini adalah dengan pandemi kita melihat betapa tidak siapnya dunia. Tidak ada protokol untuk menanganinya secara efektif, begitu pun dengan ketahanan internet. Infrastruktur kita tidak siap untuk fenomena Matahari berskala besar," kata Abdu Jyoth seperti dikutip dari LiveScience.

2. Merusak satelit

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin dalam wawancara dengan detikINET di 2019, pernah menyebutkan bahwa dampak badai Matahari lebih membahayakan pada teknologi di antariksa.

"Membahayakannya bukan pada kehidupan tapi bagi teknologi antariksa. Ketika satelit-satelit terkena badai Matahari, dan jika proteksi satelit gagal mengatasinya, tentu instrumen di satelit itu rusak. Kalau satelitnya rusak, maka layanan-layanan di Bumi yang memanfaatkan satelit itu akan terganggu," ujar Djamal.

Jadi, meski tidak membahayakan makhluk hidup di Bumi, badai Matahari berdampak secara tidak langsung terhadap kehidupan. Pasalnya, layanan berbasis satelit sudah jadi kebutuhan manusia modern. Sebut saja untuk komunikasi, broadcasting dan komunikasi data perbankan misalnya, semua itu sangat bergantung pada satelit.

"Ketika satelit Telkom 1 mengalami gangguan di 2017 misalnya. ATM yang memanfaatkan satelit itu menjadi offline dan sekian banyak pengguna tidak bisa terlayani," ujar lulusan S3 Astronomi Kyoto University ini memberikan contoh.

3. Mati listrik

Gangguan pada medan magnetik Bumi, dapat menyebabkan terbukanya celah medan magnetik Bumi sekitar kutub sehingga partikel bermuatan proton dan elektron dapat masuk ke atmosfer Bumi, membentuk aurora dan dapat bisa menginduksi jaringan listrik.

"Tahun 1989, trafo di Quebec, Kanada terkena induksi hingga terbakar dan mematikan listrik di daerah yang luas. Terbakar karena ada induksi dari partikel-partikel energetik dari badai Matahari," kata Djamal.

Bagaimana dengan di Indonesia? Disebutkan Thomas, induksi terhadap jaringan listrik tidak mungkin terjadi di wilayah ekuator yang berada di lintang rendah seperti di Indonesia.

"Sangat minim kalau ke ekuator karena mengikuti medan magnet Bumi yang mengarahnya ke arah kutub. Jadi kalau di Indonesia sebut saja pelindung medan magnet dan pelindung lapisan ozon itu cukup aman. Badai Matahari di wilayah ekuator aman," ujarnya.

Dia menambahkan, badai Matahari sejak zaman dahulu sudah ada. Tapi karena Bumi punya pelindung yang kuat, Bumi aman. Dua pelindung yang kuat itu yang pertama adalah lapisan magnetosfer atau medan magnet yang melindungi dari partikel energetik atau berenergi tinggi berisi proton dan elektron, sehingga tidak membahayakan manusia di Bumi.

Kedua, ada lapisan ozon yang melindungi radiasi ultraviolet dari Matahari. Karena pada saat badai Matahari terjadi, terjadi peningkatan pancaran partikel energetik atau partikel berenergi dan radiasi dari Matahari. (Jo)