Opini

Anak Zaman Now

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“NANTI, seusai makan siang, Bapak bertugas mencuci piring-piring, ya. Ibu biar beristirahat!”
Demikian ucap anak sulung saya tadi siang, seusai makan siang.

Menghargai si sulung, yang siang ini telah mau menyiapkan makan siang, “perintah” si sulung pun saya laksanakan. Sepenuh hati. Segera, piring-piring itu saya cuci bersih.

“Great! Bapak memang hebat. Mau mencuci piring!”

Bagaimana saya tidak dengan senang hati menerima perintah si sulung: beberapa hari lalu, ketika ibunya mau masuk rumah sakit, untuk dipasang alat pacu jantung, saya pun meminta si sulung untuk pulang ke Bandung.

Segera, permintaan saya ia iyakan. Jakarta ia tinggalkan. Ia tinggalkan pula pekerjaannya sebagai salah seorang top leader di sebuah lembaga riset teknologi. Dengan meminta cuti selama beberapa hari. Baginya, berbakti kepada ibunya merupakan prioritas yang lebih utama baginya ketimbang pekerjaannya.

Kehadiran si sulung, pada saat emergency seperti saat ini, selalu memang membuat saya dan istri tenang. Sejak kecil ia sudah terbiasa merampungkan pekerjaan yang diminta ibunya. Hingga tuntas. Langkahnya cepat dan cekatan. Dan, sejak kecil, ia memiliki banyak teman dan menjadi “komandan” mereka.

“Nanti malam ganti saya yang akan menyiapkan makan malam. Bapak bagian jaga Ibu, ya. Gak usah protes!” demikian perintah si sulung selepas saya rampung mencuci piring-piring. Ia kayaknya, kali ini, lupa kalau ia bukan sebagai top leader. Tapi, sebagai anak.

“Oke,” jawab saya sembari tersenyum. Sadar kalau anak zaman now tidak seperti zaman tahun 1960-an! “Sabar, Rofi’!” Salam takzim. (**)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close