Opini

Anak dan Bapak

OLEH: RONNY LEUNG

KEMARIN nonton bulutangkis saya kaget, Anthony Ginting pemain bulu tangkis diluar 10 besar dunia bisa membuat Chen Long, 6 besar dunia jungkir balik sampai menyerah 2 set telak.

“Saya ingin tampil juara di depan RI 1, Saya ingin membalas motivasi beliau sewaktu saya cedera pertandingan beregu kemarin,” ungkapnya sesi wawancara wartawan.

Lindsey Kwok tampil hebat merebut emas, hal pertama yang dilakukannya berlari ke tempat Presiden Jokowi seperti anak ingin membanggakan orang tuanya.

Hari ini lebih gila lagi, 10 emas sehari dari berbagai cabang mulai pencak silat sampai panjat tebing para atlet seperti berlomba mencari medali sebanyak-banyaknya untuk bumi pertiwi.

Ada apa ini?
Ada apa di negeri ini?
Ada apa, perubahan besar ini?

Atlet yang dulu tidak diperhatikan, jangankan uang hadiah uang saku kadang disunat. Sudah jadi rahasia umum pelatnas bahkan mirip PNS suap sana suap sini. Nasib atlet mulai dari kanak-kanak dibiasakan budaya membayar, prestasi negeri pun luluh lantak.

Bulu tangkis era Rudy Hartono, Liem Swie King sd Alan, Susi bisa lenyap tenggelam bahkan menghadapi pemain India, Thailand kita menangis.

Ada perubahan ini?

Saya dari kecil sudah biasa melihat tiang pancang tol 20 tahun berdiri tanpa realisasi, sekarang 3 tahun 800 km dari Sabang sampai dengan Merauke. 80 waduk, terminal, stasiun, bandara sampai pelabuhan baru bermunculan. Menjadi rakyat yang pesimis berubah menjadi bangsa yang optimis.

Seakan menjadi negeri yang berbeda, bangsa yang bangkit dari tidurnya.

Bukan seorang pemimpin kekanakan yang suka mengadu domba tapi pemimpin yang memberi contoh bekerja keras untuk berhasil.

Bukan pemimpin arogan yang suka menunjuk tanpa memberi hasil tapi seperti seorang ayah yang memotivasi untuk bangkit.

Bukan orang-orang kebingungan yang sibuk mencari perhatian dengan berita fitnah dan hidup dari kebencian tapi seorang merakyat, membaur dalam perbedaan suku, agama dan bahasa bangsanya.

Hari ini bangsa ini terbagi dua, yang satu bersorak sorai bangga dengan bangkit negerinya, bersyukur atas 22 emas Asian Games malam ini. Sementara yang lain masih sibuk hidup dalam halusinasi, mimpi hidup sektarian dalam negeri plural. Mimpi memimpin tapi tidak jelas prestasi dan mau berbuat apa?

Hari ini Indonesia bersinar, mata dunia melihat kita. Semua rekor kita sudah pecahkan, mulai dari pembangunan sampai olahraga boleh kita banggakan.

Apakah anda akan ikut serta?
Atau tetap hidup dalam fatamorgana???

KOMENTAR
Tags
Show More

Check Also

Close
Close