Sebuah Catatan Ringan yang Mungkin Diperlukan

Amerika: From The New World Order to The New Covid World Order 

Amerika: From The New World Order to The New Covid World Order 
Sayuti Ashatri

Oleh: Sayuti Ashatri

AMERIKA sendiri di dalam dirinya adalah sebuah bangsa yang terbelah. An inherently divided nation. Demokrasi dengan sistem cheks and balances adalah sebuah sistem yang didisain untuk mengelola enerji yang terbelah tersebut untuk memperkuat Amerika dalam pencapaian cita cita kebangsaannya.

itulah salah satu alasan utama mengapa kalangan konservatif tetap mempertahankan kebijakan di mana rakyat, dengan syarat tertentu, dibolehkan memiliki senjata. Kebijakan tersebut dianggap sebagai salah satu cara bagi mereka untuk tetap mempertahankan diri dari ancaman 'negara' dan menyelamatkan cita cita Amerika yang bersatu dalam perserikatan apabila negara terlempar keluar dari poros keseimbangan dalam mekanisme cheks and balances.

Tidak semua negara dengan demokrasi cheks and balances sebagaimana yang diterapkan Amerika menggunakan cara seperti itu. Tetapi sejarah perang sipil Amerika yang menyimpan enerji pembelahan dan pertentangan mendasar itu telah meyakinkan Amerika selama ini untuk menerapkan kebijakan tersebut. Meskipun hasil pilpres Amerika yang yang baru lalu juga bisa menjadi ukuran meningkatnya penentangan atas kebijakan dalam soal itu.

Kebijakan tersebut dan sejumlah kebijakan lain semacam itu, sangat khas Amerika, terutama juga  karena posisinya sebagai pusat perhatian dan pergesekan paling intensif dengan semua bagian dunia lain. sehingga Amerika menerapkan banyak kebijakan yang unik dan tidak mudah serta bahkan tidak bisa ditiru oleh negara lain. Kini, Amerika terancam keluar dari keseimbangan cheks and balances tersebut akibat hasil pilpres yang telah memenangkan Joe Biden sebagai presiden.

Menjelang pelantikan Biden, banyak senjata yang habis terbeli, sebagian toko menambah jumlah stafnya untuk melayani pembeli. Suasana dan nuansa instabilitas sangat mewarnai kehidupan Amerika saat ini. Belum pernah Amerika mengalami sebuah situasi demokratis yang menempatkannya seperti keadaan di negara negara berkembang yang bergolak dan tidak stabil sehingga mengundang Amerika dan Barat selama ini menjadikan mereka sebagai sasaran khotbah tentang hak asasi manusia dan demokrasi. 

Apa yang terjadi kini adalah sebuah ujian dan sekaligus gugatan telak atas jalan sejarah sebuah negara yang dalam perkembangannya telah menggabungkan dalam dirinya enerji imperialisme yang mengganas dan pengkhotbah yang tidak otentik tentang hak asasi manusia dan demokrasi.

Namun sejarah menunjukkan bahwa Amerika menjadi negara kuat atau terkuat di dunia hanya kalau ia berhasil mempertahankan keutuhannya dan menyelamatkan demokrasinya. Karena posisinya yang selama ini mendefinisikan potret dunia dalam perang dan ketidakadilan, maka rumus sederhananya apabila Amerika berubah menjadi lebih baik maka dunia juga akan memetik hasilnya. 

Hanya saja, ada kekuatan lain yang kini mendefiniskan kekuatan Amerika dan dunia, yaitu covid-19. Dunia akan melihat bagaimana kekuatan Amerika bangkit mengatasi tantangan tersebut. Mengingat  bahwa pukulan covid-19 yang perkasa atas Amerika akan jauh lebih parah, karena pukulan itu berkelindan dengan selain prestasi Amerika, juga dosa-dosa kemanusiaannya yang bagi sebagian besar belahan dunia sulit untuk dimaafkan. 

Bagi dunia, siapapun yang terpilih sebagai presiden Amerika maka itu adalah refleksi perjalanan dialektisnya sebagai sebuah negara yang tidak pernah selesai mendefiniskan dirinya. Seperti kata Samuel P Huntington, masalah sejatinya adalah karena Amerika tidak memiliki sebuah akar budaya yang otentik, padahal "culture matter", katanya. Situasi yang dialami Amerika itu adalah pilihan dari bait puisi Walt Whipman tentang cita cita menjadi sebuah bejana pelebur, sebuah melting pot. 

Dengan asumsi seperti itu maka terpilihnya J Biden mestinya juga dilihat sebagai hasil refleksi dialektis itu. Bila itu yang terjadi maka Amerika akan dihela Biden menurut sebuah logika tatanan baru yakni dari The New World Order menuju The New Covid World Order. Di pusat tatanan baru itu, Amerika dan dunia diyakinkan dan dideterminasi, bukan oleh pilihan spiritualitas atau materialisme. Tetapi oleh keduanya sebagai suatu kesatuan yang mengalami asyik masyuk dialektis eksistensial. Covid ada di pusat rekleksi dialektis itu, menginterupsi kehidupan manusia dan menarik manusia ke istana eksistensialnya yaitu kerendahtian, ketulusan dan kepedulian. 

Manusia tidak pernah berhenti bertengkar di arus gelombang kemanusiaan dan keadilan meskipun dari situ keluar yakut dan marjan. Di sana hampir tidak pernah ada kedamaian. Tetapi kedua arus gelombang itu juga selalu dalam keasyikan eksistensial sehingga tidak pernah berpisah. Seakan karena cinta dan kepedulian. Karena denyut cinta dan kepedulian abadi itulah kita selalu ada, dan berbagi cerita tentang hari depan manusia yang kita cintai. 

Manusia manusia besar dalam kehidupan dunia adalah pasak pasak kemanusian dan cahaya keadilan, boleh jadi ungkapan itu adalah sebuah tafsir metafora dari kalimat kitab suci. Kita sedang memasuki dengan pasti sebuah masa depan yang, suka atau tidak, didefinisikan oleh The New Covid World Order. Sebuah dunia dengan tatanan baru yang menantang kehadiran manusia manusia yang berkualifikasi pasak itu untuk menentukan dan menyelamatkan masa depan dunia kita bersama.

* Sayuti Ashatri, mantan anggota DPR-RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (F PAN).