AM Hendropriyono: The Old Soldier Never Die, Just Fade Away

AM Hendropriyono: The Old Soldier Never Die, Just Fade Away
AM Hendropriyono

Oleh: Tontowy

PASCA pelarangan FPI oleh Pemerintah, Jenderal (purn) AM Hendropriyono, Ketua Dewan Pembina PKP Indonesia, melansir pandangan strategisnya yang tepat waktu.

Menurut Gurubesar STIN (Sekolah Tinggi Intelijen Negara) ini, jika ada organisasi lain yang menampung eks anggota FPI, maka organisasi tersebut juga dapat dikenakan sanksi yang sama.

Rupanya, hal itu membuat Natalius Pigai dan Refly Harun gusar, sehingga terlontar reaksi yang mempertanyakan dalam kapasitas apa Gurubesar STHM ini berpandangan seperti itu.

Reaksi Pigai dan Harun, tidak begitu penting untuk dicermati. Karena, sudah bisa diduga akan seperti itu.

Tapi, respon balasan sang Jenderal senior kepada Pigai –dan secara tidak langsung juga kepada Harun- menunjukkan, kapasitas diri AM Hendropriyono yang sebenarnya: 

“Buat seorang pejuang, tidak ada kata berhenti, ananda... Jika negara dalam bahaya, kita harus membelanya. Harus tanpa hitung untung atau rugi dan muda atau tua...”

Untaian kalimat balasan yang simpatik dan menusuk jantung itu, sekaligus memberi jawaban kepada Pigai dan Harun, bahwa kiprah AM Hendropriyono selama ini dalam kapasitas sebagai PEJUANG dan GURU BANGSA.

Sebagai prajurit pejuang, AM Hendropriyono tidak berhenti berjuang untuk negeri kita. Karena sampai akhir hayatnya, seorang prajurit pejuang terikat pada Sapta Marga, Sumpah Prajurit yg tdk pernah dcabutnya, Delapan Wajib TNI, serta perintah agama, untuk mencintai dan membela tanah air kita.

Sang Jenderal dapat kita posisikan sebagai Patih Gajah Mada, yang tidak pernah terlintas di benaknya untuk menjadi Raja. Cita-cita luhurnya hanya satu, mempersatukan Nusantara. Maka, ketika potensi disintegrasi mengancam, Jenderal purnawira yang pejuang ini pun tidak bisa hanya berpangku tangan.

Sebagai Gurubesar, Profesor AM Hendopriyono tidak mau berhenti, untuk terus berusaha menjadi sosok yang bisa digugu dan ditiru. Tanpa henti ilmu dan pengetahuannya, diamalkan kepada generasi muda melalui berbagai lembaga pendidikan tempatnya mengajar. Meski kini hanya melalui aplikasi Zoom.

Perang Urat Syaraf

Sesungguhnya, apa yang sedang berlangsung bukanlah sekadar perang kata-kata atau perang argumen. Tetapi, perang urat syaraf.

Mengajak Master Intelijen bertarung di domain ini, bagai mengajak Khabib Nurmagomedov bertarung di dalam Octagon pada forum UFC (Ultimate Fighting Championship). Pada menit pertama, lawan bisa langsung diatasi dengan standing rear naked choke, yang menghasilkan submission.

Bukan sekali ini sang Jenderal petarung ini terjun ke medan perang urat syaraf alias psychological warfare (psywar).

Tahun lalu, ketika sekelompok massa menyelenggarakan aksi damai serial, banyak yang tidak menyadari bahwa yang sedang berlangsung itu adalah sebuah psywar. 

Masyarakat tidak menyadari, karena Sang Beligrent membungkusnya dengan doktrin agama, untuk menutupi hawa nafsu berkuasa. Karena ada unsur agama di sana, mereka yang taat beragama terkondisi takut melawan. Mereka seperti terhipnotis.

Beberapa pekan menjelang pemilu serentak April 2019, AM Hendropriyono menggebrak, memberi kejutan dalam rangka menetralisir pengaruh ‘hipnotis’ yang disebarkan pengusung aksi damai serial tadi.

Berbagai media mengutip kata kunci brilian Jenderal AM Hendropriyono, yang terbukti efektif dapat menyadarkan rakyat Indonesia. Yaitu, ‘perang’ yang sedang berlangsung adalah ‘perang’ antara pendukung PANCASILA berhadapan dengan pendukung KHILAFAH.

Upaya sang Jenderal petarung ini ibarat pukulan telak menjelang menit-menit akhir sebuah pertarungan di Octagon. Meski ada upaya untuk melakukan serangan balasan, namun lawan tidak punya cukup waktu untuk merumuskan formulasi balasan yang tepat.

Apalagi, kemudian sang Jenderal petarung ini melancarkan serangan telak berikutnya, melalui kata kunci “Keturunan Arab Jangan Jadi Provokator”.

Maka, selesailah pertarungan saat itu. Meski begitu, sang serdadu tua ini tak akan pernah surut, the old soldier never die, dia akan kembali ke ‘Octagon’ manakala Ibu Pertiwi memanggil.