Wawancara Khusus

AM Hendropriyono: Aparat Harus Lebih Keras Hadapi Para Pelanggar PSBB

Upaya pemerintah menghentikan meluasnya wabah Covid-19 dengan mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) belum dipahami dan ditaati sebagian masyarakat. Petugas yang melaksanakan aturan PSBB tidak mendapatkan respon sebagaimana mestinya bahkan mereka yang menjalankan tugas negara itu dimaki dan dilawan. Social and physical distancing diabaikan. Ada yang kucing-kucingan mudik, tak menggunakan masker, tidak menjaga jarak, berkerumun, dan pelanggaran lainnya. Menyaksikan hal itu, Prof Dr AM Hendropriyono merasa prihatin. Senayanpost.com mewawancarai tokoh nasional itu. Berikut hasilnya:

Rasanya tanpa kepatuhan dan kedisiplinan masyarakat aturan PSBB tidak akan berhasil maksimal. Kami dengar Bapak sangat prihatin dengan kondisi ini. Benarkah demikian?

Ya benar, masyarakat masih saja tidak disiplin selama PSBB. Malah ada yang ngamuk kepada polisi dan CPM. Kasihan para petugas jadi kelihatan seperti penakut. Saya ingin mengingatkan saja, bahwa keselamatan umum adalah hukum yang tertinggi.

Menghadapi sikap seperti itu apa yang bisa dilakukan petugas?

Terhadap orang-orang yang mengamuk dalam penerapan PSBB, para petugas tidak perlu ragu terkait dengan perlindungan terhadap HAM. Sepanjang kita memenuhi prinsip siracusa, yaitu membatasi HAM tanpa melanggarnya. Pertama bisa mencatat identitas mereka, untuk dipanggil Polres dengan tuduhan melawan petugas. Pidana ini melanggar pasal 212 KUHP dengan ancaman hukuman 1 (satu) tahun kurungan. Kalau tidak bisa dicatat dan menolak untuk dikenali, apalagi mengancam fisik, maka petugas serta merta dapat meringkusnya.

Tapi kan tidak mudah meringkus dalam kondisi seperti ini. Petugasnya bisa dituding melanggar PSBB Pak?

Meringkus tanpa menyakiti yang berlebihan, dapat dilakukan oleh para ahli bela diri. Sejak 1986 beberapa kali Polri dan TNI merekrut anggota, dari kalangan petinju, karateka, judoka, silat dan lainnya. Mereka dirasakan gunanya bagi tugas-tugas demikian. Saya kira sudah saatnya kini, secara sistemik merekrut para atlet MMC (mixed martial arts), untuk memperkuat kepercayaan masyarakat. Selama PSBB dan dalam waktu dekat ini, para atlet MMC dapat diperbantukan kepada petugas patroli. Dengan demikian saya yakin tidak akan ada yang menantang-nantang para petugas lagi. Kalau pelawan banyak jumlahnya, maka Brigade Anjing K9 juga dapat dkerahkan.

Jadi menurut Bapak aparat kurang keras menghadapi para pembandel?

Ya, selama ini saya menilai TNI-Polri terlalu lunak dalam menghadapi social indiciplinar Saya ingatkan kepada beberapa orang pembandel, bahwa alat-alat negara bisa berbuat keras seperti yang saya katakan tadi. Wabah corona di negara tetangga sudah menurun, di negara kita malah menguat. Bagaimana ini? Mereka yang mau mati kok ngajak-ajak orang lain.*

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close