FeaturesNasional

Alkes Tidak Memadai, Sejumlah Dokter Spesialis RSUD Jayapura 'Minggat'

JAYAPURA (SenayanPost.Com) – Beberapa dokter spesialis yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jayapura, Papua, eksodus alias mengajukan mutasi pindah ke daerah lain.
Alasannya, karena tidak ada peralatan pendukung penerapan spesialisnya dalam penanganan pasien. Padahal, RSUD Jayapura telah dicanangkan sebagai rumah sakit rujukan nasional pada 2014.
Direktur Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Papua (UP2KP), Agustinus Raprap, sebagaimana dikutip dari Antara, mengatakan, status sebagai rumah sakit rujukan nasional  berarti sudah berstandar nasional, dokter-dokternya sudah diketahui, kualitasnya juga sudah diketahui, dan pelayanan kesehatannya tidak jauh berbeda dengan pelayanan kesehatan di luar Papua.
Akan tetapi, lanjut Agustinus, yang menjadi persoalan adalah sarana kesehatan atau alat-alat kesehatan, dam peralatan penunjang yang kurang mendukung para dokter spesialis untuk menerapkan ilmu yang dikuasainya kepada pasien yang ditangani, sehingga ada beberapa dokter spesialis yang eksodus/mutasi besar-besaran.
“Kalau eksodus itu mutasi besar-besaran, sebenarnya tidak seperti itu, tetapi karena ini penting maka saya bilang eksodus begitu, ada beberapa dokter spesialis yang terpaksa minta mutasi,” ujar Agustinus.
Agus mencontohkan, pada 201,4 satu-satunya dokter spesialis bedah tumor RSUD Jayapura, dokter William, terpaksa mengajukan mutasi ke luar Papua, lantaran fasilitas penunjang penerapan spesialisasinya dalam penanganan pasien tidak ada di rumah sakit.
“Padahal kasus tumor ini kan sangat banyak di Papua dan kasus itu cukup tinggi, tetapi karena tidak ada fasilitas pendukung penerapan spesialisnya di rumah sakit, akhirnya dokter spesialisnya pindah,” ujarnya.
Akhirnya, William menjadi dokter terbang untuk melakukan penanganan kesehatan di rumah sakit yang memiliki alat pendukung penerapan spesialisnya ketika itu hingga pindah ke luar Papua.
Dengan alasan yang sama, imbuh Agustinus, beberapa dokter spesialis lainnya juga sudah minta pindah tugas. Seperti dokter Tigor Letsoin, dokter spesialis saraf dengan subspesialis bedah pembuluh darah, juga mengajukan pindah ke luar Papua karena tidak ada fasilitas pendukung penerapan spesialis dan subspesialisnya dalam penanganan pasien bedah di RSUD Jayapura.
“Padahal, sudah dua tahun pihak rumah sakit mengajukan peralatan pendukung spesilis maupun subspesialis dari dokter Tigor, di antaranya mesin untuk mendeteksi dan melakukan tindakan pada pembuluh darah dan jantung, sudah dua tahun diajukan oleh rumah sakit namun hingga kini peralatan itu tidak diadakan,” tukasnya.
“Bayangkan saja selama dua dua tahun bertugas di sini, tapi ilmu spesialis dan subspesialisnya tidak diterapkan. Karena dua tahun tidak bisa menerapkan ilmunya akhirnya ia mengajukan pengunduran diri.”
Dia mengingatkan, jika sudah seperti demikian kondisinya, masyarakat yang dirugikan. Kalau ada masyarakat yang menderita penyakit tumor, jantung, dan syaraf tidak bisa ditangani di RSUD Jayapura, akhirnya dirujuk ke luar Papua.
“Kalau dirujuk biayanya besar, biaya medisnya besar, nonmedisnya juga besar, padahal dokter spesialisnya ada di Papua khususnya di Jayapura, tetapi karena tidak difasilitasi peralatannya, bahkan tidak ada sama sekali, akhirnya pasien dirujuk,” tandas Agustinus.
KOMENTAR
Tags
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close