Alasan Tak Pernah Taruh Uang di Bank, Lo Kheng Hong : Miskin Pelan-pelan

Alasan Tak Pernah Taruh Uang di Bank, Lo Kheng Hong : Miskin Pelan-pelan
Lo Kheng Hong

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Investor kawakan, Lo Kheng Hong, mengemukakan alasan tidak pernah menginvestasikan uangnya di bank untuk jangka panjang. Padahal, dia bekerja di sektor perbankan lebih dari 17 tahun.

Lo menilai investasi di bank bisa membuat uang yang dia miliki tergerus oleh inflasi. “Karena bunga kecil, sedangkan harga-harga naik. Menurut saya orang yang menaruh uang di bank membuat dirinya miskin pelan-pelan karena inflasi terus,” ujar Lo dikutip dari tayangan YouTube Econand, Jumat, 30 Juli 2021.

Adapun berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan pada Juni 2021 Dana Pihak Ketiga (DPK) di perbankan justru mencatatkan pertumbuhan dua digit sebesar 11,28 persen (yoy).

Alih-alih menanam uang di bank, dia pun memilih untuk berinvestasi di tempat lain. Namun, untuk menentukan investasi, ada berbagai pertimbangan. Lo mengaku tidak memilih obligasi karena imbal hasilnya tak terlalu besar.

Dia juga memutuskan tak membeli emas karena dinilai bukan merupakan investasi yang produktif. Ketimbang obligasi dan emas, Lo pun memilih pasar modal. Di Indonesia, Bursa Efek Indonesia atau BEI, ucap dia, telah terbukti menawarkan imbal hasil tertinggi di antara bursa utama dunia bagi investor jangka panjang.

Di samping itu, investasi saham memiliki keunggulan ketimbang investasi lainnya. Melalui investasi saham, masyarakat dengan modal kecil bisa turut memiiki perusahaan besar atau multinasional, seperti BCA hingga Astra Internasional.

“Dengan (investasi di) bursa, orang dengan kemampuan kecil bisa merasakan punya perusahaan besar,” katanya.

Di sisi lain, investor saham umumnya selalu mengharapkan hal-hal baik. Musababnya, bila hal buruk terjadi, hal itu akan berpengaruh terhadap laju indeks harga saham atau IHSG. Lo mencontohkan pandemi Covid-19 yang sempat menghantam indeks dari level 6.000 ke 5.000.

Situasi ini berkebalikan dengan orang yang menyimpan uangnya dalam bentuk dolar. “Orang yang memegang dolar biasanya mengharapkan yang buruk yang terjadi. Kalau situasi buruh, rupiah melemah, dolar menguat, dia untung. Beda dengan. Dia selalu mengharapkan hal baik,” kata Lo Kheng Ho.