Alasan Penguatan Rupiah Bakal Berlanjut Pekan Depan

Alasan Penguatan Rupiah Bakal Berlanjut Pekan Depan
Rupiah

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Menguat dalam sepekan terakhir, nilai tukar rupiah berpotensi melaju lagi pekan depan. Adapun sentimen yang mendominasi penguatan mata uang Garuda sepekan terakhir berasal dari domestik maupun global.

Pada perdagangan Jumat (9/10) kurs rupiah menguat 0,07% ke level Rp 14.700 per dolar Amerika Serikat (AS) dan menguat 1,11% dalam sepekan terhadap dolar AS. Sedangkan kurs tengah Bank Indonesia (Jisdor) mencatatkan penguatan rupiah 0,09% ke level Rp 14.737 per dolar AS di Jumat (9/10) dan menguat 1,03% dalam sepekan. 

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, sentimen eksternal dan internal sama-sama menjadi penggerak rupiah sepekan terakhir. Dari eksternal, sentimen positif datang dari pembicaraan stimulus AS yang diharapkan bisa membantu pemulihan ekonomi AS.

"Alhasil, pelaku pasar memilih keluar dari aset aman dolar AS dan masuk ke aset berisiko termasuk rupiah," kata Ariston kepada Kontan.co.id, Jumat (9/10).

Adapun sentimen dari internal terkait dengan undang-undang (UU) cipta kerja yang sebelumnya diantisipasi positif oleh pelaku pasar. Namun, Ariston mengungkapkan, kericuhan demo penolakan memberikan sentimen negatif ke rupiah sehingga penguatan rupiah menjadi tertahan.

Ke depan, peluang penguatan rupiah masih terbuka selama pembicaraan stimulus fiskal AS mengalami kemajuan. "Jadi, pasar masih akan memantau pembicaraan stimulus AS ini," tambah dia.

Selain itu, situasi yang membaik di dalam negeri juga bisa menopang penguatan rupiah pekan depan. Khususnya, di tengah debat calon presiden AS pekan depan yang juga berpotensi mempengaruhi kekuatan dolar AS. "Kelihatannya pasar lebih positif bila Joe Biden yang menang. Rupiah pekan depan mungkin ada di rentang Rp 14.600 per dolar AS hingga Rp 14.850 per dolar AS," tandas dia.