Film

Alasan Indonesia Tetap Kirim Film ke Oscar Meski Selalu Gagal

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Indonesia kembali mengirim film untuk berlaga di Oscar 2020 mendatang dalam kategori Best International Feature Film atau dulu dikenal sebagai Best Foreign Language Film. Film Garin Nugroho, Kucumbu Tubuh Indahku jadi wakil Indonesia.

Namun berulang kali pula Indonesia gagal memenangkan Oscar. Jangankan memenangkan, masuk nominasi pun belum pernah. Tapi Indonesia terus berusaha setiap tahunnya.

Aktor sekaligus anggota Komite Seleksi Film Indonesia untuk Oscar Reza Rahadian menilai keputusan tetap mengirim film untuk berlaga adalah demi “menjaga hubungan baik”.

“Kita sudah mengirim ke 22 kali, bahwa pernah ada yang masuk kalau saya tidak salah ada yang mencapai 65 besar,” kata Reza Rahadian.

“Kemudian sampai hari ini, mungkin tidak terlalu banyak gaungnya film Indonesia di ajang tersebut, tapi memelihara setiap tahun tetap mengirim adalah demi menjaga hubungan baik,” lanjutnya.

Reza mengkhawatirkan, bila Indonesia tidak lagi mengirim film untuk berlaga, maka ada peluang untuk tak lagi diundang oleh pihak penyelenggara Academy Awards alias Associations of Motion Pictures Arts and Sciences (AMPAS).

“Mungkin akan dianggap mengundurkan diri, menolak, atau bagaimana. Dan nanti kesempatan yang [menjadi] hilang,” kata Reza

“Saya rasa, apapun yang terjadi memang menjaga hubungan baik yang penting, dan agar punya film yang bisa dikirim itu harusnya tetap berjalan,” tambahnya.

Selain itu, Reza menilai tak ada yang pernah tahu peluang Indonesia untuk bisa lolos jadi nominasi Oscar, target yang selama ini juga belum tercapai.

Indonesia setidaknya sudah pernah mengirim lebih dari 20 film, yang berarti juga selama dua dekade setiap tahunnya. Indonesia tertinggal dibandingkan Vietnam yang filmnya pernah masuk nominasi sekali dari 14 film yang mereka kirim. Indonesia juga tertinggal dari Nepal yang mengirimkan sembilan film ke Oscar dan pernah sekali tembus menjadi nominasi.

Terkait strategi untuk mencapai target Indonesia di Oscar, yaitu nominasi, Reza menilai tak ada formula khusus yang bisa menjamin keinginan itu bisa terwujud.

Pihak Oscar sendiri memang hanya meminta syarat administrasi dan aspek teknis film, bukan dari segi tema. Sehingga, kekuatan cerita dan teknik sinema menjadi andalan selain dari promosi ke juri AMPAS yang bisa mencapai enam ribu orang.

Namun yang terpenting menurut Reza adalah bagaimana bisa menggaungkan karya Indonesia di Hollywood.

“Kalau ditanya publisitas penting, iya. Karena kalau saya pelajari dari 10 negara yang ikut tahun lalu untuk masuk Best Foreign Language itu memang publisitasnya enggak main-main,” katanya.

Dia mencontohkan bahwa film Roma yang diproduksi Netflix mengeluarkan biaya sebesar US$25 juta untuk promosi di depan juri-juri Oscar.

Dia pun menilai rencana untuk membuat film yang dikhususkan untuk berlaga di Oscar merupakan langkah yang tidak adil. Hal itu akan menutup peluang film lain yang mungkin lebih baik atau layak dikirim sebagai wakil Indonesia.

“Enggak adil juga, kita buat satu film terus yang lain tidak bisa ikut karena sudah buat aturan untuk buat film ini dan repotnya belum tentu masuk juga. Jadi PR masih banyak dan publisitas itu penting.” katanya.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close