Alasan Brand Mewah Berlomba-lomba Jadikan BLACKPINK Sebagai Duta

Alasan Brand Mewah Berlomba-lomba Jadikan BLACKPINK Sebagai Duta
BLACKPINK

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Jelang perilisan albumnya yang berjudul The Album, grup K-pop BLACKPINK resmi menjalin kerjasama dengan game PUBG Corporation untuk acara crossover PlayerUnknown's Battleground Mobile.

Kerjasama itu hanyalah satu dari deretan kerjasama dan kolaborasi BLACKPINK dengan brand mewah, entah itu di industri fashion, maupun bidang lainnya, diantaranya, Kia Motors, Samsung, PepsiCo, adidas, Woori Bank dan bahkan layanan bea cukai Korea Selatan, Bea Cukai Utama Incheon.

Pada tahun 2020, BLACKPINK diperkirakan memiliki kekayaan bersih $32 juta dollar AS atau setara dengan Rp 472 miliar. Angka tersebut ini hanya pendapatan mereka sebagai grup dan tidak mencakup pendapatan individu mereka di luar grup.

Terutama, tiga member yang telah dipilih oleh LVMH sebagai duta besar di seluruh portofolio untuk merek mewah perusahaan multinasional asal Prancis itu.

Jisoo merupakan duta kecantikan Dior, Lisa mewakili CELINE sebagai duta global dan Rosé diumumkan sebagai wajah global Saint Laurent musim panas ini. Pimpinan grup Jennie Kim mendapatkan tugas sebagai duta rumah Chanel.

Lalu, bagaimana BLACKPINK menjadi grup K-pop fashion?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, pertama-tama kita harus memahami bagaimana K-pop muncul. Industri musik K-pop adalah bagian dari apa yang sekarang sering disebut sebagai "Gelombang Hallyu (Gelombang Korea)," yang pertama kali diciptakan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Korea Selatan dan lahir dari krisis keuangan Asia 1997.

Meskipun telah membangun dirinya dari negara yang dilanda perang menjadi ekonomi terbesar kesebelas di dunia, Korea Selatan adalah salah satu ekonomi yang paling terpukul oleh krisis.

Dokumen Prada

Dengan langkah-langkah restrukturisasi yang diberlakukan oleh IMF sebagai bagian dari kesepakatan pinjaman, ekonomi Korea Selatan bergerak menuju sektor hiburan untuk bangkit kembali.

Drama Korea, film, game, industri animasi, dan musik dalam bentuk K-pop Hallyu Wave memperkenalkan konsep baru budaya populer transnasional.

Meluas ke banyak negara

Aliran budaya awal K-pop ke negara tetangga pertama kali dianggap hanya iseng. Tetapi industri ini meledak berkat perusahaan hiburan yang mengadopsi tren sejak dini, seperti SM Entertainment, JYP Entertainment, dan YG Entertainment.

Didirikan pada tahun 1996 oleh mantan CEO dan anggota grup K-pop generasi pertama Seo Taiji and Boys, Yang Hyun-suk, YG Entertainment secara khusus menjadi pembangkit tenaga listrik di industri musik lokal.

Grup tersebut mengembangkan grup pria ikonik Big Bang dan grup wanita 2NE1, yang memimpin gelora Hallyu Wave maju ke kancah internasional. Sukses dengan konsep grup idol, YG berupaya membangun ketenaran dan pengalaman internasionalnya dengan BLACKPINK untuk mempelopori kontribusinya pada aliran K-pop generasi ke-3.

Jennie, Jisoo, Lisa dan Rosé dari BLACKPINK telah menjadi pilihan dunia fashion berkat daya tarik global yang diolah dengan apik oleh YG Entertainment.

Para member BLACKPINK dipilih melalui program training yang terkenal sulit, keempatnya menonjol karena bakat dan kepribadian masing-masing, yang selanjutnya ditingkatkan sebagai sebuah tim.

BLACKPINK berbeda dari grup K-pop lainnya karena hanya memiliki empat anggota. Mereka juga terlibat dalam proses penulisan lagu dan berperan aktif dalam mengembangkan koreografi.

Baru-baru ini, Jennie dan Jisoo terlibat dalam penulisan "Lovesick Girls" dari The Album dengan Jennie juga ikut serta dalam produksi lagu tersebut.

Selain itu, YG Entertainment juga meminta bantuan para profesional seperti TEDDY, Danny Chung, Vince, Bekuh BOOM, R.Tee, dan lainnya untuk menciptakan suara internasional BLACKPINK yang berbeda.

Kini, karya BLACKPINK dan tim bahka telah diakui oleh para bintang global seperti Lady Gaga, Cardi B, Selena Gomez, Ariana Grande, dan David Guetta, dimana mereka juga turut menjadi kolaborator dalam album BLACKPINK.

Rosé Blackpink saat menjalani pemotretan sebagai wajah global baru dari Yves Saint Laurent. Instagram Yves Saint Laurent© Disediakan oleh Kompas.com Rosé Blackpink saat menjalani pemotretan sebagai wajah global baru dari Yves Saint Laurent. Instagram Yves Saint Laurent
Fashion stylist

Bagaimana fashion BLACKPINK bisa disorot adalah hasil kerja keras penata gaya BLACKPINK, Choi Kyung Won. Choi, yang telah bekerja dengan grup tersebut sejak debutnya.

“Visi saya adalah menciptakan ide yang sangat berbeda dengan penampilan mereka untuk menjadi lambang mode wanita di Korea Selatan - untuk menciptakan tonggak sejarah baru,” katanya dalam wawancara dengan WWD.

“Grup ini lebih dicintai oleh orang-orang yang mengikuti mode. Semua yang (dipakai) BLACKPINK lebih untuk orang yang menghargai gaya, ”jelasnya.

Elemen gaya grup ini didokumentasikan oleh akun Instagram, @blackpinksstyle dan @blackpinkcloset, yang masing-masing memiliki 412.000 dan 192.000 pengikut yang membahas satu-persatu penampilan para member dan desainer mana yang digunakannya.

Hal ini dilakukan untuk membantu penggemar yang berlomba-lomba meniru pakaian mereka.

Choi mengatakan bahwa brand dan desainer mensponsori mereka bahkan hanya untuk pergi ke bandara. Pasalnya, di bandara kebanyakan grup K-pop akan diabadikan oleh paparazi, dan apa yang dipakai para member menjadi begitu penting.

“Desainer telah melihat penjualan mereka meningkat sehingga mereka sekarang sangat ingin bekerja dengan mereka,” kata Choi.

Terakhir, tidak seperti grup K-pop lainnya, Jennie, Jisoo, Lisa dan Rosé juga mengelola akun Instagram mereka sendiri, yang berfungsi sebagai pintu bagi para penggemar untuk terhubung dengan member yang kebanyakan berbahasa Inggris.

Deretan merek fesyen telah menemukan cara untuk menggunakan ini sebagai cara untuk menaikkan keuntungan mereka, seperti baru-baru ini, Instagram Jennie banyak digunakan dalam promosi kolaborasinya "Jentle Home" dengan nama kacamata Korea Selatan, Gentle Monster.

Media sosial yang digunakan secara luas di masyarakat global, lantas membuat langkah promosi tersebut meraih simpat besar dalam waktu singkat.

Mereka yang berkolaborasi dengan BLACKPINK, seperti brand kaca mata asal Korea Selatan itu bahkan berhasil mendapatkan pasar hingga Amerika Utara, Eropa Barat, dan Amerika Latin, wilayah yang kini juga sedang terkena demam Korea.

Dokumenter Netflix

Dengan dirilisnya LP debut mereka The Album disertai dengan dokumenter Netflix Light Up the Sky, pada 14 Oktober mendatang, masa depan BLACKPINK terlihat semakin cerah.

Karena Dior, CELINE, Saint Laurent, dan Chanel terus memanfaatkan daya tarik internasional Jennie, Jisoo, Lisa, dan Rosé, dan kita tentu berharap dapat melihat mereka muncul di lebih banyak kampanye, acara pekan mode, dan bahkan melakukan kolaborasi.

Namun tak menutup kemungkinan kolaborasi BLACKPINK dengan brand di bidang lain juga mampu menghasilkan dampak global.