Nostalgia Berziarah ke Madinah Bersama Mantan Rektor ITB

Aku Datang Mengunjungimu, ya Rasul

Aku Datang  Mengunjungimu, ya Rasul
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“OH. Ini kan foto-foto Prof. Dr. Doddy A. Tisnaamidjaja dan Ibu. Di Madinah!”

Demikian “letup” bibir saya. Minggu lalu. Saat itu, saya sedang membongkar foto-foto lama. Yang entah berapa lama tersimpan dalam laci lemari. Melihat foto-foto jadul itu, segera dalam benak saya “membara” nostalgia perjalanan bersama mantan Rektor Institut Teknologi Bandung itu ke Madinah Al-Munawwarah, Arab Saudi. Pada 1992. Kala itu, sebelum berziarah ke Kota Suci tersebut, saya kluyuran ke Mesir. Dari Negeri Piramid itu, barulah kemudian saya melaksanakan umrah dan berziarah ke Kota Nabi.

Kini, bagaimana kisah perjalanan yang terjadi sekitar 28 tahun yang lalu itu?

Hari itu, tepatnya pada, Sabtu, 15 Februari 1992,  pesawat terbang Saudia yang saya naiki melesat cepat meninggalkan Cairo International Airport, menuju Jeddah, pada pukul 11 siang. Waktu setempat. Segera, di bawah pesawat terbang mencuat gurun pasir berwarna kekuning-kuningan membentang. Memenuhi ufuk. Mungkin, karena begitu kerap melihat  warna kekuning-kuningan gurun pasir itulah warga Timur Tengah begitu menggemari warna keemasan. Namun, di sisi lain,  gurun pasir yang luas memang mengandung misteri. Tak aneh bila banyak petualang Barat yang sangat tergoda untuk mengarunginya. Untuk memecahkan berbagai misteri. Yang tersimpan di bawahnya. Berbagai “kisah” memang tersimpan di bawah gurun pasir yang luas membentang itu.

Suasana di dalam pesawat terbang sendiri sangat meriah. “Tradisi” bicara memang begitu kuat dalam kalangan warga Timur Tengah. Dari dialek bahasa Arab dan tampilan wajah para penumpang, segera saya tahu, sebagian besar di antara mereka terdiri dari orang-orang Mesir dan Arab Saudi. Sedangkan orang asing relatif tidak begitu banyak.  Beberapa orang bule, yang duduk tidak jauh dari tempat duduk saya, begitu asyik membaca. Tidak terganggu sama sekali oleh suasana dalam pesawat terbang.

Menjadi Tontonan Para Penumpang Lain 

Selama dalam perjalanan tersebut, ada suatu “persoalan” yang begitu menggoda benak saya. Bawaan dua koli buku yang saya beli di Kairo, itulah “beban”  yang saya maksudkan. Berdasarkan pengalaman beberapa kali mengunjungi Arab Saudi, kala itu, membawa buku-buku ke negeri minyak itu dapat menimbulkan “penyakit”. Utamanya bila buku-buku itu mengenai politik dan filsafat (kini, buku-buku demikian sudah diperjualbelikan di toko-toko di Arab Saudi). Padahal, buku-buku yang sawa bawa, kala itu, tidak sedikit yang berkaitan dengan politik dan filsafat, di samping sederet novel buah tangan para penulis kondang Mesir, seperti Naguib Mahfouz, Ihsan Abdel Kuddus, Mohammed Hassanein Haikal, Musa Sabri, dan lain-lainnya.

Meski benak agak terganggu oleh buku-buku yang saya bawa, saya tetap mencoba menikmati pemandangan. Di luar pesawat terbang. Kala itu, panas memang tidak begitu menyengat. Saat itu, musim dingin masih menyelimuti kawasan Timur Tengah. Di kejauhan, tampak sesekali muncul kota-kota kecil atau kapal-kapal. Yang sedang melintasi Laut Merah. Di sepanjang perjalanan, tampak “ombak-obak” gurun pasir begitu dominan. Di seling oase-oase yang ditumbuhi pohon-pohon kurma.

Selepas menikmati perjalanan selama sekitar dua jam, pesawat Boeing 727 yang saya naiki segera “hinggap”, dengan mulus, di tubuh “sang Nenek”, alias Jeddah. Suasana King Abdul Aziz International Airport, kala itu, cukup riuh. Eh, seperti yang saya khawatirkan, selama di tengah perjalanan, begitu melihat dua koli bawaan saya yang hanya berisi buku-buku, tanpa ampun lagi petugas bea cukai yang memeriksanya langsung memisahkan saya dari para penumpang lain. Segera, buku-buku yang saya bawa bertebaran di lantai. Akibat “ulah” si petugas.  Malah, tas saya yang berisi pakaian pun menjadi korban: diobrak-abrik. Akibatnya, saya menjadi tontonan para penumpang lain.

Satu demi satu buku-buku yang saya bawa diperiksa oleh si petugas. Sikap tidak bersahabat benar-benar memancar dari  wajahnya. Kemudian, begitu melihat beberapa buku karangan Mohammed  Hassanein Haekal, seorang wartawan beken Mesir, sikap tidak bersahabatnya kian membara. Entah kenapa, saya tidak tahu. Apalagi, di antara buku-buku sang wartawan ada yang menulis secara khusus tentang Ayatullah Khomeini, tokoh Revolusi Islam Iran. Buku-buku Haekal langsung dipisahkan dari buku-buku yang lain. Sedangkan buku-buku yang ia pandang “tidak berbahaya” boleh saya kemasi.

Hampir satu jam lamanya saya, beradu argumentasi dengan si petugas. Padahal, di ruang tunggu kakak yang bertugas di Jeddah sudah lama menunggu. Alasan bahwa buku-buku itu akan saya bawa ke Indonesia tidak mempan. “Buku-buku ini tidak boleh dibawa pergi!” ucap si petugas. Sangat ketus. Alhamdulillah, ketika saya hampir kehabisan akal untuk “menyelamatkan” buku-buku itu, tiba-tiba muncul atasan si petugas.

Melihat penampilan perlente dan sikap ramah sang atasan, harapan saya untuk dapat membawa buku-buku itu membara kembali. Ternyata, benar. Sikap sang atasan berbeda jauh dengan sikap si petugas. Selepas mendengar berbagai alasan yang saya kemukakan, buku-buku yang saya bawa dari Kairo boleh saya bawa masuk ke negeri minyak itu. Namun, dengan syarat: ketika meninggalkan negeri itu, saya harus memberikan laporan bahwa buku-buku itu saya bawa ke Indonesia dan tidak saya tinggalkan di Arab Saudi. 

Loloslah buku-buku itu dari “lubang jarum” pemeriksaaan bea cukai Arab Saudi. Anehnya, ternyata, beberapa buku yang dikelompokkan oleh si petugas termasuk “berbahaya”, beberapa hari kemudian saya dapatkan di toko-toko buku di Jeddah. Duh!

Menuju Kota Nabi Saw.

Lepas dari hadangan si petugas bea cukai, saya segera keluar dari dalam gedung Bandara Jeddah dan menemui kakak yang telah lama menunggu. Segera pula, kami meninggalkan bandara menuju pusat Kota Jeddah. “Si Nenek”, kala itu, tampak jauh lebih cantik ketimbang terakhir kali saya mengunjungi kota itu sebelumnya, pada 1982, dan mengalami perkembangan pesat. Banyak bangunan dan jalan baru yang tidak saya kenal. Meski demikian, saya masih ingat sederet jalan dan bangunan yang telah ada sebelumnya. Karena datang di musim dingin, suhu udara di kota di tepi Laut Merah itu serasa di Bandung pada malam hari.

Selepas tinggal di Jeddah beberapa hari di Jeddah, tentu saja selepas melaksanakan umrah di Makkah Al-Mukarramah, saya ditawari ikut rombongan Prof. Dr. Doddy A. Tisnaamidjaja dan Ibu yang akan berziarah ke Madinah Al-Munawwarah. Bagi mantan Rektor ITB dan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu, ziarah ke Kota Nabi Saw. kala itu merupakan ziarah yang pertama kali. Selain mereka berdua, rombongan itu sendiri terdiri dari seorang dosen sebuah universitas di Jakarta, seorang pejabat di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah, kakak saya, dan saya sendiri.

Pada sore hari sekitar pukul lima, pada Jumat, 21 Februari  1992, naik mobil sport-van GMC, yang dikemudikan oleh seorang pemukim yang kerap mendampingi Jenderal Moh. Yusuf setiap kali berada di Arab Saudi ini, rombongan pun meninggalkan Jeddah menuju Madinah. Pemukim yang berdarah Bugis, beristri asal Madura, dan lahir serta tumbuh di Makkah itu benar-benar menguasai medan. Dengan tenangnya, “si GMC yang haus bensin’ itu ia jalankan. Dengan kecepatan rata-rata 125 kilo meter per jam.

Pemandangan antara Jeddah-Madinah, menjelang malam, tidak banyak memikat perhatian saya. Gurun pasir, gunung batu hitam, dan kadang mencuat oase, itulah pemandangan yang lebih banyak menghiasi perjalanan kami. Apalagi ketika malam sudah turun. Pak Doddy, sepanjang perjalanan, saya lihat lebih banyak terkantuk-kantuk.  Usia lanjut dan perjalanan tanpa istirahat, sejak dari Paris, membuat ilmuwan yang meraih gelar Ph.Dnya dari Universitas Bonn pada 1956 itu tampak begitu letih. Sedangkan pejabat dari KJRI saya lihat sedang asyik dengan radio mininya. Tampaknya, ia sedang memantau siaran dari BBC.

Selama dalam perjalanan tersebut, pikiran saya lebih banyak menerawang jauh. Ke masa lalu: ketika Nabi Muhammad Saw. dan Abu Bakar Al-Shiddiq dalam perjalanan untuk berhijrah ke Yatsrib. Lembaran sejarah menuturkan, ketika berhijrah, Nabi  Saw. tidak melewati jalur normal antara Makkah-Yatsrib. Namun, beliau mengambil jalur sepanjang tepi pantai Laut Merah, atau jalur Jeddah-Yatsrib, dan lebih banyak berjalan pada malam hari. Ini untuk menghindari kejaran kaum musyrik Quraisy. Perjalanan antara Makkah-Yatsrib kala itu beliau tempuh selama delapan malam.

Di tengah perjalanan, sekitar Yanbu’, “si GMC” kehausan. Memang, sport-van buatan Amerika Serikat itu kuat sekali menenggak bensin, 1:3 (artinya, setiap satu liter bensin hanya dapat dipakai menempuh jarak tiga kilo meter). Boros sekali! Untung, kala itu, bensin di Arab Saudi murah: satu riyal dapat enam liter bensin. Selain mengisi bensin, “si GMC” juga perlu ganti oli. Sementara itu, suasana di  luar komplek SPBU begitu sepi. Apalagi musim dingin sedang berlangsung. Sehingga, membuat orang enggan keluar dari rumah.

Sekitar pukul setengah sepuluh malam, “si GMC”, yang kami naiki, mulai memasuki batas Kota Madinah. Segera, bibir saya bergumam pelan, “Aku datang lagi mengunjungimu, ya Rasul...Allâhumma shalli wa sallim ‘alâ Sayyidinâ Muhammad.” Betapa bahagia hati saya dapat mengunjungi kembali kota yang dulunya bernama Yatsrib itu. Ya, betapa bahagia saya dapat “bertemu kembali” dengan Rasulullah Saw. Segera, pikiran saya terkenang pada kisah kerinduan Bilal bin Rabbah, seorang sahabat  Nabi Saw. dan muazzin pertama, ketika mengunjungi Madinah Al-Munawwarah selepas beberapa tahun menetap di Suriah. Suatu kerinduan yang sulit diuntaikan dengan kata-kata. 

Rentang waktu sepuluh tahun, memang, membuat Kota Nabi mengalami perubahan. Madinah menjadi sebuah kota yang bersih dan cantik. Apalagi, di luar Musim Haji. Memasuki Kota Suci itu dari  arah Jeddah, kita  pertama-tama disambut oleh Masjid Dzulhulaifah. Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Syajarah atau Masjid Bi’r Ali: sebuah masjid yang menjadi mîqât bagi para jamaah haji dan umrah yang berasal dari kawasan Madinah. 

Masjid yang terletak di antara Hijrah Road (dalam bahasa Arab disebut “Tharîq Al-Hijrah”) dan Omar Bin Al Khattab Road (dalam bahasa Arab disebut “Tharîq ‘Umar bin Al-Khaththâb”) ini tegak di bagian barat Lembah Al-‘Aqiq. Disebut Bi’r (yang berarti “sumur’) ‘Ali, atau Abyar (yang berarti “sumur-sumur”) ‘Ali, karena di daerah ini pernah ada beberapa sumur milik ‘Ali bin Abu Thalib, seorang menantu tercinta Rasulullah Saw. yang juga sepupu beliau. Beberapa penduduk asli masih mengingat lokasi sumur-sumur itu yang konon tidak jauh dari masjid. 

Lokasi Masjid Bi’r ‘Ali ini cukup unik. Bila dilihat dari kejauhan, masjid ini seolah berada di lembah dengan menaranya yang memiliki tinggi 64 meter dan mencuat dari balik pepohonan yang rimbun di tengah bukit bebatuan ini terletak di jalan raya Madinah-Makkah. Karena sebagai tempat mengambil mîqât, masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Al-Miqat. Ada juga yang menyebutnya Masjid Al-Ihram. Selain itu, masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Syajarah (pohon). Nama terakhir itu merujuk peristiwa sejarah: Rasulullah Saw. pernah duduk di bawah pohon itu saat menuju Makkah. Di dekat pohon itulah masjid ini dibangun dan beliau shalat di dalamnya. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Dzulhulaifah. Disebut demikian karena itulah nama distrik atau daerah tempat masjid ini berada. 

Arsitektur masjid yang satu ini dirancang seorang arsitek terkemuka asal Mesir, Abdel Wahed El-Wakil. Masjid yang dirancang dan dibangun pada 1407 H/1987 M ini istimewa. Masjid ini memiliki banyak lorong terbuka atau galeri di dalamnya. Di tengah lorong itu ada pepohonan. Di situ, jamaah bisa istirahat sejenak dan menyaksikan pemandangan sekitar. Masjid ini juga ditopang areal parkir dan kamar mandi yang banyak. Bagi yang belum sempat mandi ihram, di sini masih dimungkinkan. 

Masjid ini pertama kali dibangun pada masa pemerintahan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, saat ia menjabat Gubernur Madinah, antara 86-91 H/705-709 M. Dinasti Usmaniyah di Turki juga sempat memugar masjid ini pada tahun 1090 H/1679 M. Lantas, perluasan Masjid Bi’r ‘Ali dilakukan secara besar-besaran pada masa pemerintahan Raja Fahd bin ‘Abdul ‘Aziz. Lahan di sekitar masjid dibongkar untuk mendukung fasilitas masjid, seperti lahan parkir, dan penunjang lain. Dengan renovasi itu, luas areal masjid menjadi sekitar 90 ribu meter persegi.

Kemudian, ketika memasuki pusat Kota Madinah, jalan-jalan kala itu tampak lengang. Yang terdengar riuh hanyalah suara dentang peralatan berat, di sekitar Masjid Nabawi, yang tidak berhenti selama 24 jam. Memang, perluasan masjid tersebut, kala itu, sedang dikerjakan secara intensif. 

Masjid Nabawi dalam Lintasan Sejarah

Masjid Nabawi, menurut catatan sejarah, sejak didirikan pertama kali, telah mengalami sederet perluasan dan pemugaran. Pembangunan masjid ini dimulai  pada Rabi‘ Al-Awwal  1 H/September 622 M, dua hari setiba Rasulullah Saw. di Yatsrib, dan didirikan di  atas  lahan pengeringan kurma yang  dibeli dari dua anak yatim, Sahl dan Suhail, yang kala itu di bawah pengampuan As‘ad bin Zurarah Al-Anshari. Kala itu, masjid tersebut memiliki panjang sekitar 34 meter, lebar 28.8 meter, dan tinggi 2.45 meter. Semula, kiblat masjid yang awalnya berlantaikan pasir ini masih menghadap ke arah Bait Al-Maqdis. Hal yang demikian itu berlangsung selama sekitar 16 bulan. Setelah itu, kiblat masjid dialihkan menjadi menghadap ke arah Ka‘bah. 

Semula, ketika pertama kali didirikan, di sekitar Masjid Nabawi tidak terdapat rumah kecuali dua bilik. Yang pertama adalah Bilik ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq. Yang kedua adalah Bilik Saudah binti Zam‘ah. Mereka berdua adalah istri-istri Rasulullah Saw. Setelah Fathimah binti Muhammad menikah dengan ‘Ali bin Abu Thalib, mereka kemudian mendirikan sebuah bilik di depan bilik-bilik ‘A’isyah dan Saudah.
 
Dengan bergulirnya waktu, di sekitar masjid dibangun beberapa rumah. Antara lain rumah Abu Bakar Al-Shiddiq yang terletak di sebelah barat masjid. Di sebelah barat rumah mertua Rasulullah Saw. itulah tegak rumah seorang sahabat bernama ‘Abdullah bin Mas‘ud. Di sisi lain, di sebelah barat laut masjid, tegak rumah seorang sahabat lain, Sa‘d bin Waqqash, di sebelah selatan masjid tegak rumah beberapa sahabat lain lagi, Shabarah bin Abu Rahm, Ja‘far bin Abu Thalib, dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Sedangkan di sisi selatan masjid tegak ‘Abdullah bin Zam‘ah (saudara Saudah binti Zam‘ah). Rumah terakhir itu tegak berdekatan dengan rumah Hafshah binti ‘Umar. 

Pada 7  H/628-629  M  Rasulullah Saw. memperluas masjid ini  menjadi  10.000 hasta. Perluasan ini dilakukan karena jumlah kaum Muslim kala itu kian meningkat cepat. Khususnya selepas Perang Khaibar. Dalam perluasan ini, beberapa rumah yang ada di sekitar masjid dibeli oleh ‘Utsman bin ‘Affan dan kemudian ia serahkan untuk perluasan masjid. 

Perluasan  selanjutnya pada 17 H/638  M,  yang  dilakukan oleh ‘Umar  bin Al-Khaththab, membuat  masjid  ini  menjadi seluas 3.575 meter persegi. Pada 29 H/649 M masjid ini kembali diperluas untuk keempat kalinya oleh ‘Utsman bin ‘Affan. Sehingga, luas masjid ini mendapat tambahan 496 meter persegi dan luas seluruh masjid menjadi 4.071 meter persegi. 

Selepas masa empat khalifah bijak, Masjid Nabawi tetap mengalami pemugaran dan pengembangan. Ketika  Al-Walid bin ‘Abdul Malik, penguasa ke-7 Dinasti Umawiyah di Damaskus, Suriah berkuasa, pada antara 88-91 H/706-709 M ia melakukan pemugaran selanjutnya atas Masjid Nabawi. Pemugaran itu dilaksanakan di bawah pengawasan Gubernur Madinah kala itu, yaitu ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, dengan kepala pembangunannya: Shalih bin Kisan. 

Dalam pemugaran ini, bentuk masjid tetap tidak mengalami perubahan. Tetap seperti bentuknya ketika dipugar ‘Utsman bin ‘Affan, hanya lebarnya ditambah sehingga luas masjid menjadi 6.440 meter persegi. Dengan pemugaran ini, yang dilakukan oleh para tukang yang piawai dari India, Persia, Maghrib, dan Roma, masjid pun menjadi kian indah nan menawan. Di samping itu, untuk pertama kalinya masjid ini dihiasi dengan empat menara di empat sudutnya. 

Pemugaran dan perluasan berikut dilakukan penguasa ke-3 Dinasti ‘Abbasiyah di Irak, Al-Mahdi, pada 161 H/778 M. Luas masjid di sebelah sayap kiri, dalam pemugaran ini, ditambah. Sehingga, luas masjid menjadi 8.900 meter persegi. Sedangkan sayap bagian belakang (yang berhadapan dengan ruang shalat) dihiasi dengan mosaik. 

Bentuk masjid seusai pemugaran tetap demikian selama empat abad berikutnya. Lantas, pada 654 H/1256 M, masjid ini mengalami kebakaran akibat api unggun yang tidak dijaga baik-baik. Akibatnya, seluruh atap masjid terbakar. Karena itu, masjid ini pun dibangun kembali Al-Mu‘tashim Billah dan kemudian dilanjutkan Sultan Al-Zhahir Baibars, sesuai dengan bentuk yang ada sebelumnya. Pembangunan kali ini dilakukan oleh para arsitek, ahli bangunan, dan tukang bangunan piawai dari Mesir yang sengaja dikirim untuk tujuan tersebut. 

Selepas itu, perhatian besar terhadap masjid tersebut tidak banyak dilakukan kecuali oleh para penguasa Dinasti Mamluk, Mesir. Para penguasa dari dinasti tersebut berulang kali melakukan perbaikan dan pengembangan atas masjid tersebut. Sehingga, luas masjid menjadi 9.020 meter persegi. Malah, mereka juga membentuk sebuah dinas khusus yang menangani Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi. 

Kala kekuasaan di Mesir beralih ke tangan Dinasti Usmaniyah, sejak masa pemerintahan Sultan Salim I, Masjid Nabawi dipugar dan diperbarui kembali oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni pada 940 H/1529 M. Selain itu, sang sultan juga melengkapi masjid itu dengan sebuah mimbar. Mimbar itu sendiri, di sisi lain, merupakan salah satu bukti kepiawaian kaum Muslim di bidang ukir-ukiran. Dalam perjalanan waktu selanjutnya, masjid ini diperbaiki kembali pada 994 H/1533 M, 1127 H/1715 M, dan 1196 H/1782 M. Selain diperbaiki, masjid ini dilengkapi dengan sebuah mihrab baru. Yang dibuat dari marmer berwarna. Di atas mihrab tersebut terdapat sebuah kubah kecil indah.

Selanjutnya, pada 1266 H/1849 M, Muhammad ‘Ali, penguasa dan pembaharu Mesir pada Masa Modern, membangun kembali seluruh Masjid Nabawi. Pembangunan kali ini dilakukan oleh para insinyur Mesir di bawah pimpinan Halim Pasya, seorang arsitek yang merancang beberapa istana para penguasa di Istanbul, ibukota Dinasti Usmaniyah di Turki. Sang arsitek didampingi Ibrahim Al-Mishri, seorang pakar bangunan terkemuka asal Mesir, dan Syukrullah, seorang perancang terkemuka asal Turki. 

Pada pembangunan kali inilah, di bawah pengawasan Ibrahim bin Muhammad ‘Ali, Raudhah Al-Khadhra’  (kubah hijau yang menaungi Makam Rasulullah Saw.) dibangun. Disebut “Raudhah Al-Khadhra’”, karena kubah itu dicat warna hijau. Dalam pembangunan raudhah tersebut, setiap batu lama yang berasal dari masa pembangunan yang dilakukan oleh Sultan Al-Zhahir Baibars Al-Bunduqdari tetap digunakan. 

Selepas itu, Sultan  ‘Abdul Hamid I, (1137-1203 H/1725-1789 M), penguasa ke-27 Dinasti Usmaniyah di Turki, memplester seluruh dinding Masjid Nabawi dengan pualam berwarna merah jambu dengan biaya yang amat besar. Karena seluruh dinding masjid tersebut berlapiskan pualam berwarna merah jambu, tidak aneh jika kala itu masjid tersebut juga mendapat sebutan “Masjid Jingga” (Al-Masjid Al-Wardî). 

Pemugaran besar-besaran Masjid Nabawi selanjutnya dilakukan oleh Sultan ‘Abdul Majid, penguasa ke-31 Dinasti  Usmaniyah  di Turki  yang berkuasa antara 1255-1278 H/1839-1861 M. Pada 1266 H/1859 M, ia mengirim para pekerja di bawah pimpinan seorang insinyur terkemuka, dengan tugas untuk memugar masjid tersebut. Dengan pemugaran kali ini, yang rampung pada 1277 H/1861 M, luas masjid menjadi 10.193 meter persegi dan seluruh lantai masjid menjadi “berselimutkan” marmer. Tidak hanya itu. 

Kini, seluruh kubah, dinding kiblat, bagian atas lima pintu, dan mihrab masjid itu dihiasi dengan kaligrafi Arab indah yang berisi kutipan dari berbagai ayat Al-Quran dan hadis. Penulisan kaligrafi indah bergaya jalî-tsuluts itu, oleh seorang kaligrafer terkemuka kala itu, Abdullah Zuhdi Effendi, berlangsung selama sekitar tiga tahun. Bangunan Masjid Nabawi yang didirikan oleh para penguasa Dinasti Mamluk dan Usmaniyah itu tetap dapat disaksikan hingga dewasa ini, di luar perluasan besar-besaran yang dilaksanakan Kerajaan Arab Saudi. 

Selepas itu, lewat perluasan pada 1368-1374 H/1949-1955 M, masjid tersebut menjadi memiliki pintu-pintu baru yang mengantarkan jamaah menuju ruang shalat nan indah yang ditopang dengan tiang-tiang mewah dari marmer. Demikian halnya lantai masjid. Selain itu, bagian muka masjid juga dibangun kembali. 

Bagian depan masjid ini pun dihiasi dengan dua menara, masing-masing setinggi 75 meter persegi. Dengan pembangunan tersebut, yang menelan biaya lebih dari limapuluh juta riyal Saudi, dan menggunakan material-material, seperti marmer, pualam berwarna, kayu termahal, dan baja terbaik,  luas Masjid Nabawi menjadi 16,327 meter persegi. Dengan kata lain, penambahan sebesar 7.307 meter persegi dari besar aslinya. 

Pengembangan dan perluasan terakhir Masjid Nabawi, yang kala itu sedang dilakukan, atas keputusan Raja Fahd bin ‘Abdul ‘Aziz. Langkah pertama yang dilakukan, untuk mewujudkan pengembangan masjid, adalah dengan menggusur sekitar 400 bangunan. Lewat pengembangan dan perluasan itu, yang kala itu sedang dilakukan, luas lantai masjid yang dapat dijadikan sebagai tempat shalat sekitar satu juta orang menjadi 400.327 meter persegi. 

Mirip Benteng Alamut

Ketika fajar tiba, selepas bermalam di Wisma Indonesia (kini sudah tiada lagi), kami pun segera menuju Masjid Nabawi. Untuk melaksanakan shalat Shubuh berjamaah. Meski kala itu bukan musim haji, masjid cukup penuh dengan jamaah. Suasana tenang dan damai begitu mewarnai masjid ini. Musim dingin, yang menjelang berlalu, membuat udara di masjid begitu segar. Tanpa bantuan ac atau kipas angin seperti halnya di musim panas.

Seusai melaksanakan shalat Shubuh, kami segera antri memasuki  Raudhah. Begitu memasuki Raudhah, saya sengaja memisahkan diri dengan rombongan. Saya ingin menggunakan sebaik-baiknya kesempatan  lama yang saya tunggu itu untuk merenungkan dan menghayati makna  perjalanan panjang hidup beliau. Dalam situasi seperti itu, tiada sesuatu pun yang mampu terucapkan selain gumam, “Wahai Rasulullah. Aku datang mengunjungimu... Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya.”

Ketika batas waktu berada di Raudhah hampir usai, kami pun segera meninggalkan Masjid Nabawi. Dengan langkah-langkah pelan dan melintasi bangunan-bangunan baru masjid yang sedang dikerjakan. Kemudian, selepas beristirahat, rombongan pun mengunjungi beberapa tempat bersejarah  di seputar Kota Nabi ini. Antara lain ke Padang Uhud, lokasi terjadinya Perang Uhud pada Syawwal 3 H/Maret 625, dan Masjid Quba’.  Entah kenapa, selama dalam perjalanan ke tempat-tempat tersebut, pandangan saya lebih banyak terpikat oleh sebuah istana megah di atas bukit di salah satu sudut Kota Suci itu.

Entah kenapa, ketika melihat istana itu, saya teringat film “Omar Khayam”. Film itu mengetengahkan perjuangan Omar Khayam melawan Hasan Al-Shabbah, pemimpin kelompok Al-Hasysyasyun yang bermarkas di Benteng Alamut, Qasvin, Iran. 

Benteng Alamut  terletak di   jantung Pegunungan  Elburz,  sekitar  35  kilo meter  sebelah  barat  Laut Krimea, dan berada di ketinggian 6.000 meter  di  atas permukaan  laut.  Di benteng yang terletak di  wilayah  geografis yang  sangat  sulit dicapai orang inilah  Al-Hasan  Al-Shabbah mengendalikan  sebuah gerakan bawah tanah yang  ia pimpin dan terkenal  dengan sebutan “Al-Hasysyâsyûn”, sebuah kelompok yang di Barat dikenal dengan Kelompok “Assasins”. Benteng  yang sebutannya dikatakan berasal dari kata  “aluh  mut” yang berarti “sarang burung” ini hanya dapat dicapai lewat sebuah jalan  sempit  dan terjal. 

Tak aneh jika benteng itu tepat  sebagai  tempat persembunyian  dan pelarian. Sejumlah penguasa Muslim, meski telah  berusaha keras,  gagal  menduduki  benteng ini. Baru  pada  654  H/1256  M benteng  ini  berhasil diluluhlantakkan pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan.

“Betapa istana itu mirip dengan Benteng Alamut!” Demikian gelegak pikiran yang bergelora dalam benak saya. Namun, kemudian gelegak itu saya alihkan untuk menikmati perjalanan saya di seputar Kota Nabi. Siang hari, selepas menunaikan shalat Zhuhur dan Asar di Masjid Nabawi, secara jamak taqdim, kami pun meninggalkan Madinah Al-Munawwarah. Dengan harapan kiranya dapat mengunjunginya lagi di lain kesempatan.

Ahamdulillah, selepas itu, Allah Swt. memberikan kesempatan kepada saya untuk berkali-kali berziarah ke Kota Nabi. Anugerah dan karunia yang senantiasa saya syukuri. Hingga kini!@ru