Internasional

Aksi Protes di Irak Tewaskan Sembilan Orang, Termasuk Polisi

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Aksi protes terhadap pemerintahan di Irak yang berlangsung sejak Selasa (1/10/2019) dilaporkan menewaskan 9 orang, termasuk polisi dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.

Dilansir Middle East Eyes, aksi protes yang dimulai di Baghdad ini dipicu oleh tingginya angka pengangguran, korupsi di tubuh pemeritahan dan buruknya pelayanan publik.

“Kami tidak ingin pemerintahan ini, semua sama-sama korup!” teriak demonstran, Kamis (3/10/2019).

Berdasarkan data resmi, sejak 2004 hampir 450 milliar dollar dana publik mengalir ke para politisi dan pengusaha. Hal itu menjadikan Irak sebagai negara paling korup ke-12 di dunia, berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi Internasional.

Tak hanya itu, menurut data World Bank, angka pengangguran di kalangan muda mencapai 25 persen. Angka ini tergolong tinggi mengingat 30 persen penduduk Irak berusia di bawah 30 tahun.

Aksi meluas Hingga saat ini, aksi demonstrasi telah meluas di beberapa wilayah, seperti Baqubah, Al-Mutsanna, Ad-Diwaniyah, Najaf, Dhi Qar, dan Basrah. Beberapa bangunan dan fasilitas publik tak luput dari amukan massa. Bahkan, di Provinsi Irak Selatan, sebuah kantor partai juga dibakar oleh para demonstran.

Untuk membubarkan aksi itu, polisi menembakkan gas air mata dan peluru tajam. Tak ada informasi pasti apakah polisi menembakkan peluru itu ke arah demonstran atau menembakkannya ke udara. Bentrokan semakin memanas ketika pihak berwenang menutup jalan utama untuk mencegah aksi meluas.

Pada hari kedua, para demonstran kembali menuju Lapangan Tahrir di pusat kota Baghdad. Polisi kemudian menutup jalan dan jembatan yang melewati Sungai Tigris agar para demonstran tidak bisa menyeberang ke zona hijau. Zona hijau merupakan lokasi kantor pemerintahan dan kedutaan besar.

Meski telah ada dua korban di hari pertama, polisi masih tetap menggunakan peluru tajam dan gas air mata untuk membubarkan aksi. Hal ini menyebabkan jumlah korban terus bertambah.

Dilansir AFP, aksi protes yang memakan korban ini mendapatkan kecaman dari Presiden Barhem Saleh. Ia mendesak agar pihak kemanan menahan diri dan menghormati hukum.

“Protes damai adalah hak konstitusional setiap warga,” kata Barhem.

Berbeda dari aksi-aksi sebelumnya, aksi kali ini bersifat spontan karena tak ada seruan secara eksplisit dari partai. Surat kabar al-Bayyina al-Jadidah menyebutkan, untuk pertama kalinya sebuah aksi protes di Irak tanpa bendera, poster, atau slogan partai.

Hanya saja, sejumlah demonstran membawa foto Jenderal Abdul Wahab Saadi yang baru saja dipindahtugaskan dari jabatannya di Layanan Penanggulangann Terorisme. Saadi merupakan sosok yang populer di kalangan publik karena keberhasilannya dalam menumpas ISIS di Irak.

Aksi protes yang berlangsung sejak hari Selasa ini merupakan puncak kemarahan massa akibat kegagalan negara dalam mengatasi masalah publik. Adel Abdel Mahdi dianggap mengulangi kesalahan yang sama pendahulunya, Haedar al-Abadi. (WS)

 

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close