Nasional

Akibat Asap Karhutla, Palembang Perpanjang Libur Sekolah

SUMSEL, SENAYANPOST.com – Karena polusi udara akibat asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dari sejumlah kabupaten sekitar masih pada posisi level berbahaya bagi kesehatan, seluruh sekolah di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan memperpanjang libur siswanya.

Seperti di Sekolah Dasar Kartika II-2 Palembang kembali meliburkan siswanya hingga 18 Oktober 2019 setelah sebelumnya Senin (14/10/2019) memulangkan siswa lebih cepat dari jadwal kepulangan dan menetapkan libur hingga Kamis (17/10/2019) hari ini.

Sesuai instruksi Kepala Dinas Pendidikan setempat ditetapkan kebijakan kembali meliburkan siswa menghadapi kabut asap karhutla yang semakin parah dengan kondisi kualitas udara mencapai level berbahaya.

Kepala Dinas Pendidikan Palembang, Zulinto sebelumnya mengatakan, libur sekolah dampak asap karhutla diperpanjang hingga 18 Oktober 2019. Untuk menghadapi situasi asap Karhutla itu, pihaknya telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh kepala sekolah mulai dari PAUD hingga SMP sesuai dengan kewenangannya.

Diketahui, Kota Palembang sepekan terakhir kembali mengalami kabut asap yang sangat tebal dan kualitas udaranya di level berbahaya, sekolah di daerah ini diminta menerapkan kebijakan belajar di rumah.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, Bambang Beny Setiaji mengatakan, asap masih menyelimuti Kota Palembang karena wilayah sumber asap di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) tidak terpapar hujan.

“Kondisi asap masih tetap berpotensi terjadi di Sumsel karena wilayah-wilayah yang memiliki jumlah titik panas signifikan belum terpapar hujan, apalagi lahan gambut yang terbakar cukup luas dan dalam,” ujar Beny, di Palembang, Kamis (17/10/2019).

Menurutnya, kebakaran hutan, kebun dan lahan akan efektif padam jika terjadi hujan dengan sistem konvektif berskala Meso, sebab hujan yang diakibatkanya berlangsung lama dan kerap terjadi pada malam hingga pagi hari.

Fenomena asap, kata dia, diindikasikan dengan kelembapan yang rendah dengan partikel-partikel kering di udara, sehingga mengurangi jarak pandang, beraroma khas, berefek perih di mata, mengganggu pernafasan dan matahari terlihat berwarna jingga pada sore hari.

“jika ada campuran kelembapan yang tinggi, seperti partikel basah atau uap air, maka akan membentuk fenomena kabut asap yang umumnya terjadi pada pagi hari,” tambahnya. (WS)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close