Agama dan Bendera

Agama dan Bendera

Penulis: Asep Salahudin

Tentu saja agama satu sisi, bendera sisi lain. Satu sama lain bisa berhubungan, bisa juga berjauhan tergantung dari sudut mana kita memandang. Agama (din) hakikatnya adalah keyakinan (iman). Harapannya semakin kukuh memeluk agama maka kehidupan semakin tertib dan kesalehan terbangun dengan solid. Dalam bahasa Sanksekerta, melekat dalam arti agama itu situasi yang tidak kacau. Agama menjadi contradictio interminis kalau malah menimbulkan anarkisme, huru hara dan kekerasan.

Secara ontologis, iman itu percaya, secara aksiologis iman berhubungan dengan kesiapan menabur rasa aman sekaligus keajegan memiliki kepribadian amanah dalam segala hal. Iman itu, kata Kanjeng Nabi, rantingnya bercabang bisa sampai tujuh puluh tujuh. Termasuk ekspresi iman adalah punya rasa malu, cinta tanah air, menjaga kebersihan, tepat waktu, dan menyingkirkan duri dari jalanan.

Dalam istilah Immanuel Kant, imperatif kategoris dari iman adalah kejujuran seseorang untuk tidak pernah memunggungi suara hatinya. Suara hati adalah inti religiositas, kebaikan tertinggi (summum bonum). Mulut kemungkinan besar bisa dengan terampil berdusta, tapi hati nurani mustahil dikelabui. Betul apa yang dibilang Nabi SAW, istafti qalbak. Minta fatwalah kepada kalbumu.

Agama cinta

Suara hati, itulah cinta. Suara hati adalah suara Tuhan. The voice of God. Cinta inilah sesungguhnya yang menjadi pendasaran iman. Di atas hamparan cinta setiap umat beragama bisa membangun kerjasama secara tulus, dapat melampaui ego sektoral dan nafsu merasa benar sendiri. Seandainya ada yang namanya bendera agama maka itu bukan kalimat tauhid yang ditulis di atas kain putih atau hitam (liwa dan rayah) yang setelah di-takhrij ternyata dari sisi sanad hadisnya cacat, tapi cinta.

Identitas kibaran bendera yang hanya menimbulkan wajah ekslusivitas, menumbuhkan politik partisan dan memompakan semangat permusuhan antar dan intra agama atau malah dapat mengorbitkan problem laten relasi agama-negara, maka bendera seperti itu bukan hanya tidak perlu bahkan harus dimusnahkan. Cinta yang seharusnya mengambil alih ruang publik kita yang majemuk dan memintalnya dalam tali politik kewargaan non diskriminatif.

Kata Imam Baqir as, “Agama adalah cinta dan cinta ialah agama.” “Cintailah semua yang ada di bumi, engkau akan dicintai oleh yang ada di langit,” ujar Rasul dalam sebuah kesempatan.

Saya suka kepada hadis Qudsi yang menggambarkan kedekatan Tuhan, bukan kepada para pembawa panji bendera, tapi terhadap mereka yang menebarkan cinta kasih di semesta, “Maka bila Aku telah mencintainya, Akulah telinga yang ia gunakan untuk mendengar, mata yang ia gunakan untuk melihat, lidah yang ia gunakan untuk berbicara, tangan yang memberi kekutan padanya, dan Akulah kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Bila berdoa pada-Ku, Aku kabulkan permohonannya, bila meminta dari-Ku Aku kabulkan permintaannya. Aku tidak pernah bimbang dalam menentukan sesuatu seperti kebimbangan-Ku saat kematian mukmin yang menghindar darinya, sedang aku membenci hal itu.”

Cinta itu melambangkan suasana negara damai. Sementara bendera dahulu zaman kenabian dibawa ketika sedang berperang. Hari ini kita berperang melawan siapa? Untuk kepentingan apa? Perbedaan paham, ketidaksamaan pilihan agama apalagi sekadar perebutan tahta tidak bisa dijadikan alasan saling merusak apalagi menggelar perang. Hidup dalam kegembiraan jauh lebih utama dari apa pun juga. Syiria, Libya, Irak, Mesir, Afganistan, mereka tak henti mencari damai, kita di sini justru hendak memulai kekisruhan. Tragis.

Garut lagi

Pada 15 November 2017, saya pernah menulis di HU Pikiran Rakyat (Hiruk Pikuk Garut), kejadiannya mirip dengan yang terjadi di Limbangan Garut pada Perayaan Hari Santri. Tempo hari Banser diperhadapkan dengan rencana pengajian seorang Ustsdz dari Jakarta yang dalam sekian pengajiannya bukan hanya selalu memprovokasi massa malah dengan terang-terangan menghina lambang negara dan menista dasar negara. Hanya pada peristiwa Limbangan menjadi perhatian publik karena dikaitkan dengan isu utama yang sangat sensitif: pembakaran kalimat tauhid. Dan sisanya karena kejadian itu berada di pusaran tahun politik menjelang pilpres 2019.

Dalam politik, apa pun bisa digoreng, yang penting lawan terkapar. Dan jalan pintas untuk memanipulasi memori kolektif massa adalah dengan menating agama, suku dan ras. Sentimentalisme agama sangat mudah menjadi api yang menyulut hutan relasi kemanusiaan.

Kalau dahulu Garut terkenal sebagai kawasan yang banyak melahirkan kaum intelektual, kyai, qari’, pelukis, sastrawan atau gerakan perempuan seperti digelorakan Raden Ayu Lasminingrat, maka hari ini seringkali kabar yang datang itu berita miring yang terjadi secara berulang. Entah itu perebutan kekuasaan habis-habisan atau gesekan kelompok yang berbeda paham.

Di kecamatan Limbangan sendiri masih berlangsung riwayat sengkarut pasar yang tak kunjung ada jalan keluar juga pekik heroik penolakan pabrik yang dianggap masyarakat setempat telah mencederai akal sehat, menghina tanah leluhur, merusak lingkungan dan menghancurkan mataair yang mengaliri area hijau persawahan dan menjadi sumber mata air warga.

Di pengkolan Atam yang dahulu kala terkenal seram, sambil memandang alat alat berat yang tengah meratakan tanah, tak terasa mata kami basah dan berkaca-kaca.

*Penulis kolumnis dan pengajar di perguruan tinggi di Jawa Barat