Lintas Daerah

Adzan Pitu, Tradisi Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon

CIREBON, SENAYANPOST.com – Tradisi unik tetap lestari di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, di Kawasan Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Setiap shalat Jumat, lantunan azan tidak dilakukan oleh hanya satu orang, melainkan tujuh orang sekaligus secara bersamaan, yang dikenal dengan tradisi adzan pitu.

Dikutip dari Kompas.com, Jumat (10/5/2019), ketujuh muazin atau juru adzan sudah bersiap di saf atau barisan khusus yang berada di ruang utama Masjid Agung.

Terdapat lima buah pengeras suara yang dipasang secara berjejer di salah satu tiang. Mereka mengenakan pakaian khusus.

Enam orang muadzin mengenakan jubah berwarna hijau dan serban putih. Sedangkan satu orang berubah putih dan berserban hitam.

Terkadang, ketujuh muadzin juga menggunakan jubah dan serban berwarna putih. Jubah ini harus dikenakan setiap melantunkan adzan pitu sebagai penanda dan pembeda dengan jemaah lainnya.

Meski dilakukan oleh tujuh orang secara bersamaan, lantunan azan pitu tetap terdengar baik.

Panjang pendek nada adzan ke tujuh muadzin adzan pitu ini terdengar seirama. Mereka juga kompak menjaga keseimbangan tinggi rendahnya nada.

Sultan Keraton Kasepuhan XIV, Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningra menyampaikan, adzan pitu pertama kali dilakukan pada zaman Sunan Gunung Jati, Syekh Syarif Hidayatullah.

Nyimas Pakungwati salah satu istrinya terserang penyakit. Saat itu, wabah itu juga menyerang sejumlah warga Cirebon sekitar keraton.
Sejumlah upaya dilakukan untuk menghilangkan atau menyembuhkan wabah tersebut namun selalu gagal.

“Di era Sunan Gunung Jati, salah satu istrinya yaitu Nyimas Pakungwati yang merupakan putri Mbah Kuwu Cirebon, Pangeran Cakrabuana terkena wabah penyakit. Sehingga banyak masyarakat yang meninggal dan sakit. Salah satu yang terserang wabah itu adalah Nyimas Pakungwati,” terang Arief.

Syarif Hidayatullah, salah satu anggota wali sanga berusaha mengatasi wabah tersebut. Setelah memohon kepada Sang Pencipta, dia kemudian mendapatkan petunjuk bahwa wabah tersebut akan hilang dengan cara adzan yang dilantunkan tujuh orang sekaligus.

Akhirnya, Syarif Hidayatullah memerintahkan tujuh orang warga untuk adzan secara bersamaan.

Tidak disangka, wabah tersebut seketika hilang dan sejumlah warga sembuh.

Sejak saat itu, kata Arief, Masjid Agung Sang Ciptarasa melestarikan adzan pitu.

Pada masa lalu, adzan pitu dilakukan setiap shalat lima waktu, namun sekarang hanya dilakukan saat shalat Jumat.

Arief menambahkan, ketujuh orang muadzin tidak sembarang orang melainkan orang-orang pilihan yang harus berasal dari kaum masjid.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close