Ekonomi

ADB Sebut Corona Pangkas Separuh Pertumbuhan PDB Asia

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Asian Development Bank (ADB) memperingatkan bahwa pandemi virus corona dapat mengurangi separuh pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di negara berkembang Asia.

Pertumbuhan ekonomi Asia yang sudah melambat akan terus melemah bahkan jauh lebih dalam di tahun ini akibat dampak dari virus corona.

Dilansir CNBC Indonesia, lembaga yang bermarkas di Manila, Jumat (3/4/2020) ini mengatakan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang Asia (emerging market), yang terdiri dari 45 negara termasuk China dan India, akan mengalami perlambatan menjadi 2,2% pada 2020. Lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 5,2% ditetapkan tahun lalu.

“Ini akan menjadi pertumbuhan terendah yang akan dikembangkan oleh negara-negara berkembang Asia yang terlihat dalam 22 tahun, atau sejak krisis keuangan Asia, “kata Abdul Abiad, Direktur Divisi Penelitian Ekonomi Makro ADB.

Sementara untuk tahun 2021, kawasan ini diperkirakan akan pulih dan tumbuh 6,2%, kata ADB dalam laporan Outlook Pembangunan Asia seperti dikutip dari Reuters.

Dimana kerugian ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut mungkin mencapai US$ 4,1 triliun akibat pandemi corona. Namun diperkirakan ekonomi China akan pulih pada 2021 dan tumbuh 7,3%.

Krisis virus corona membuat ekonomi China secara nyata terhenti pada kuartal pertama, di tengah lonjakan jumlah infeksi dan kematian, yang menyebabkan banyak negara menempuh kebijakan isolasi atau lockdown.

Meluasnya penyebaran wabah virus corona ke penjuru dunia telah menghantam ekonomi global, membuat para ekonom percaya bahwa dunia sedang menuju ke arah resesi. “Ini adalah krisis kesehatan masyarakat dan itulah yang perlu diatasi terlebih dahulu, sebelum situasi normal,” kata Abiad kepada Reuters.

Namun dalam mengatasi pandemi, pemerintah harus memastikan “yang paling rentan tidak tertinggal,” tambahnya. Dalam situasi yang berubah dengan cepat, ADB memperkirakan PDB dunia menyusut antara 2,3% hingga 4,8%, lebih tinggi dari perkiraan itu dibuat bulan lalu.

Yasuyuki Sawada, kepala ekonom ADB, mengatakan bahwa puncak dari pandemi akan berlangsung selama enam bulan dan berdampak ke ekonomi yang lebih luas. Dia mengatakan pandemi itu bisa berubah menjadi krisis keuangan jika tidak segera ditanggulangi.

Pandemi virus corona dapat “meninggalkan bekas luka permanen” pada ekonomi global dan menyebabkan “mundur dari globalisasi,” tambah Sawada.

Sementara pertumbuhan ekonomi terbesar di Asia Selatan yaitu India, diperkirakan akan tetap lemah setelah perlambatan tajam pada 2019, dengan ekspansi untuk tahun fiskal 2020 terlihat melambat lebih lanjut menjadi 4,0%, sebelum menguat menjadi 6,2% pada tahun fiskal 2021, kata ADB.

Pertumbuhan Asia Tenggara tahun ini yang menjadi mitra dagang China diperkirakan menjadi 1,0% dari 4,4% tahun lalu, tetapi mendapatkan kembali momentum dengan pertumbuhan 4,7% pada tahu depan.

“Tidak ada ekonomi di Asia yang akan lolos dari pandemi tanpa cedera,” kata Sawada dalam briefing media online. “Tapi fundamental ekonomi mendasar yang kuat akan berarti, kita tidak melihat pengulangan pemulihan panjang dari krisis keuangan Asia atau krisis keuangan global”.

Kendati demikian, ADB sedikit menaikkan perkiraan inflasi untuk negara-negara berkembang di Asia menjadi 3,2% dari 3,1% sebelumnya, tetapi penurunan harga pangan di akhir tahun ini akan menyebabkan laju inflasi lebih lambat 2,3% pada tahun depan. (MU)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close