OLIMPIADE TOKYO 2020

Ada Wong Solo di Balik Kejutan Kevin Cordon

Ada Wong Solo di Balik Kejutan Kevin Cordon
Muamar Qadafi (kiri) bersama Kevin Cordon di Olimpiade 2020. (REUTERS)

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Kevin Cordon tampil mengejutkan di Olimpiade Tokyo 2020. Ada Muamar Qadafi, sosok asal Indonesia yang memoles pebulutangkis Guatemala, Kevin Cordon,

Qadafi merupakan orang asli Solo yang pernah menjadi pemain bulutangkis sejak usia 15. Namun karier Qadafi tak lama sebagai pemain, hanya bertahan sekitar lima tahun.

"Qadafi itu pernah jadi atlet tunggal putra di tahun 90-an. Di Junior dia ada prestasinya seperti juara di Kejuaraan Nasional dan turnamen-turnamen swasta. Tapi memang levelnya belum sampai ke nasional," kata Yoppy Rosimin, Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation dilansir CNN Indonesia, Senin (2/8/2021).

Saat masih aktif bermain, lanjut Yoppy, Qadafi merupakan pemain yang secara skill punya teknik bulutangkis yang bagus. Hanya saja, dia tidak mampu bersaing di tengah ketatnya persaingan tunggal putra di era itu dan kemudian memutuskan untuk pensiun dini.

Setelah tidak lagi ikut turnamen, Qadafi disebut Yoppy beralih menjadi asisten pelatih di PB Djarum Kudus ketika usianya masih sekitar 20 tahun.

"Qadafi itu orang asli Solo. Keluarganya, ya keluarga bulutangkis. Soalnya kakak-adik di PB Djarum, Qadafi dan Ganis, adiknya perempuan dulu mainnya sama-sama."

"Dia mulai menjadi asisten pelatih di PB Djarum di Kudus itu sekitar tahun 1994 sampai 2000. Terus ada tawaran pertama dari Peru tahun 2000 itu. Sampai hari ini dia melatih di negara-negara Amerika Latin. Sekarang di Guatemala [Amerika Tengah]," jelasnya.

Saat mendapatkan tawaran dari Peru, lanjut Yoppy, Qadafi berangkat bersama beberapa temannya termasuk Fendi Iwanto, yang juga pernah aktif sebagai pemain. 

Keduanya merintis mulai jadi sparing partner, asisten pelatih sampai menjadi kepala pelatih bulutangkis di negara-negara Amerika Latin.

Fendi kemudian memutuskan pulang ke Indonesia dan kembali melatih di PB Djarum pada tahun 2010. Sedangkan Qadafi sampai saat ini masih bertahan menjadi pelatih di luar negeri.

Yoppy mengaku kaget, tiba-tiba Qadafi muncul menjadi perbincangan hangat belakangan. Khususnya ketika ia berhasil membawa anak asuhnya, Kevin Cordon melaju ke semifinal tunggal putra di Olimpiade Tokyo 2020.

Cordon lolos ke semifinal dengan mengalahkan pemain-pemain asal Asia seperti Angus Ng Ka Long dan Heo Kwang Hee. Di semifinal, Cordon gagal menanggulangi perlawanan Viktor Axelsen.

Sayang upaya Cordon merebut medali perunggu dikandaskan oleh tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting di Musashino Sports Plaza, Senin (2/8). Cordon kalah lewat dua gim 11-21, 13-21 dari Ginting.

"Kaget, tiba-tiba dia muncul bawa atlet Guatemala sukses ke Olimpiade. Tapi ini sudah 20 tahun Qadafi berkarier di sana [Amerika Tengah], jadi bukan waktu yang sebentar untuk dia bisa mencapai sukses. Luar biasa."

"Dia bisa dipercaya asosiasi bulutangkis di sana dan mengembangkan bulutangkis di sana, di mana bulutangkis bukan jadi olahraga yang populer," jelas Yoppy.

Menurut Yoppy, Qadafi hanya satu dari sekian banyak orang pelatih bulutangkis Indonesia yang tersebar di seluruh dunia. Ia mengakui mayoritas memang berasal dari alumni PB Djarum, meski ada beberapa juga yang berasal dari klub lain.

"Ada Teddy Supriadi jadi pelatih di Kanada, yang di Jerman ada, di Italia juga ada cuma belum kelihatan hasilnya. Banyak yang alumni PB Djarum."

"Kami semua masih kontak, karena kalau mau melatih di sana kan mereka butuh surat rekomendasi dan minta sama kami. Kalau mereka pulang masih main bareng. Sama Qadafi saya kontak terakhir sebelum pandemi, dia pulang ke Indonesia mampir ke Solo, main bareng," tutup Yoppy.