Opini

Abdul Rahman Ibrahima; Penguasa Muslim Afrika yang Dijadikan Budak di Benua Amerika

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“Abdul Rahman adalah satu dari sedikit lelaki yang kembali ke Afrika setelah hidup sebagai budak di Amerika Serikat. Kisahnya merupakan contoh luar biasa tentang bagaimana beberapa tawanan Afrika dapat menggunakan sumber daya yang terbatas dan keberuntungan dalam ‘merobek’ Lautan Atlantik.
Slavery and Remembrance

“I can’t breathe!”

Menyimak ungkapan demikian, yang ditulis dengan huruf-huruf kapital, di sebuah channel tivi Amerika Serikat (AS), saya lama tercenung dan termenung. Sedih dan perih. Itulah perasaan saya, ketika menyimak ungkapan itu. Apalagi, selepas melihat video yang menyajikan perlakuan brutal seorang oknum polisi negara adikuasa itu. Kepada seorang warga berkulit hitam negara yang sama.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba dalam benak saya “melayang-layang” kisah perbudakan di negara tersebut. Juga, perjalanan hidup memerihkan hati seorang penguasa Muslim Afrika yang pernah ditangkap dan kemudian dijadikan budak selama sekitar 40 tahun di negara itu. Ya, selama 40 tahun dijadikan sebagai budak!

Nah, sebelum menyimak perjalanan hidup Abdul Rahman Ibrahima, penguasa Muslim yang bernasib malang itu, mari kita sejenak kembali menyimak lembaran sejarah. Lembaran sejarah hitam dunia modern menorehkan, di sepanjang pantai Afrika Barat, yang menghadap Lautan Atlantik, pernah di“hiasi” penjara budak.

Dari sinilah, sebagian perjalanan panjang perbudakan umat manusia dimulai. Komoditas manusia itu diperoleh lewat perburuan. Di tempat tinggal bebas mereka: saat mereka tidur atau sadar. Dalam hal ini, para pemburu tidak segan-segan untuk mengejar-ngejar mereka yang menyelamatkan diri. Laiknya memburu seekor bison atau kuda liar. Kumpulan budak yang berhasil ditangkap kemudian digiring. Menuju tempat-tempat penampungan dengan berjalan kaki. Mereka terdiri dari laki-laki (paling banyak), perempuan, dan anak-anak.

Dalam perjalanan menuju penjara, setiap dua budak diikat. Satu sama lain. Kemudian, setiap pasangan disuruh berbaris. Memanjang ke belakang. Satu pasangan dengan pasangan di belakangnya dihubungkan dengan tongkat budak: istilah untuk tiang kayu lumayan besar yang dikaitkan antar leher para budak.

Ini, agar mereka tidak dapat memutar kepalanya atau menoleh ke belakang. Kadang, tangan mereka sengaja dilepaskan. Tujuannnya: agar mereka dapat memegangi barang-barang yang mereka panggul. Barang-barang itu juga menjadi hak para pemburu!

Di belakang barisan panjang itu mengikuti beberapa orang dengan cambuk di tangan. Setiap saat, cambuk itu siap diayunkan ke punggung para budak. Yang mencoba memperlambat jalannya. Mereka yang lemah fisiknya tidak sedikit yang tersungkur.

Menghadapi hal yang demikian, para pemburu malah membunuhnya. Atau membiarkannya sekarat dan menemui ajal. Sesampai mereka ke penjara, ruangan yang gelap dan pengap siap menampung sebelum akhirnya mereka dipindahkan ke kapal-kapal pengangkut.

ilustrasi perbudakan

Penderitaan yang menimpa para budak tidak hanya berhenti di situ. Kapal-kapal pengangkut budak dibuat dengan desain khusus: berbadan kecil. Kapal itu dibagi secara vertikal. Seperti susunan rak. Lebar setiap rak mencapai tiga kaki (sekitar 90 centimeter).

Nah, budak-budak itu dijejalkan di rak-rak tersebut. Dengan tangan terbelenggu. Antara laki-laki, perempuan, dan anak-anak dipisahkan untuk setiap rak. Sedapat mungkin, kapal-kapal itu mengangkut muatan sebanyak-banyaknya. Sehingga, budak-budak itu tidak dapat menggerakkan badan mereka. Rata-rata kapal itu berkapasitas sekitar 150 ton dan membawa lebih dari 600 orang. Ya, 600 orang memenuhi kapal berukuran kecil!

Keadaan kapal yang demikian sangat rentan terhadap mewabahnya berbagai jenis penyakitnya. Utamanya di kalangan budak-budak yang berdesakan di rak bawah. Angka kematian di kalangan mereka sangat tinggi. Bagi budak yang meninggal dunia di kapal, jenazahnya cukup dilemparkan ke laut.

Ya, ke laut! Karena beratnya penderitaan yang mereka alami, sebagian di antara mereka memilih mengakhiri hidup mereka dengan terjun ke laut jika ada peluang. Tak aneh, karena itu, di antara kapal-kapal pengangkut budak-budak itu kadang dilapisi dengan jaring tinggi di atas permukaannya.

Kemudian, ketika kapal-kapal itu sampai ke pantai Amerika, pemilik budak-budak yang kadang juga pemilik kapal sekaligus membawa langsung budak-budak itu ke ladang-ladang mereka. Jika muatan kapal itu dimaksudkan untuk diperdagangkan, maka budak-budak itu dibawa ke pasar-pasar umum. Untuk dijual seperti binatang-binatang ternak.

Calon pembeli yang tertarik pada seorang budak laki-laki, ia bebas meneliti “barang” yang hendak ia beli dengan meraba seluruh bagian tubuh budak itu. Biasanya, yang menjadi daya tarik adalah kekuatan tubuh budak yang akan dibeli. Hal yang sama dilakukan oleh calon pembeli budak perempuan. Tidak jarang, calon pembeli itu yang menanggalkan potongan kain seadanya yang menutupi aurat budak perempuan tersebut. Jika budak perempuan itu berusaha mempertahankan auratnya, pemiliknya tidak ragu memakai kekerasan untuk menghilangkan rasa malu budak perempuan itu.

ilustrasi perbudakan

Kondisi memilukan yang dialami oleh budak-budak dari Benua Afrika itu, ternyata, pernah dialami juga secara langsung oleh seorang penguasa Muslim asal benua tersebut. Abdul Rahman Ibrahima bin Sori, itulah nama penguasa Muslim asal suku Fulani, Afrika Barat tersebut. Ternyata, derita yang ia alami tidak kalah berat dengan derita yang diderita budak-budak lainnya dari benua yang sama. Selama sekitar 40 tahun, ia mengalami “perjalanan panjang” sebagai budak di Amerika Serikat (AS). Kelak, ia bebas kembali dan pulang ke negerinya.

Bagaimana kisah sang penguasa Muslim satu ini hingga menjadi budak? Dan, ia baru kembali ke bumi kelahirannya 40 tahun selepas merasakan nestapa yang luar biasa?

Menimba Ilmu di Timbuktu
Guinea, Afrika Barat, 1782 M.

Pada suatu hari di tahun itu, keluarga penguasa suku Fulani, Ibrahima Sori Madu, tampak gembira. Kedatangan seorang putera baru memang selalu disambut meriah oleh keluarga ini. Meski orok yang lahir tersebut bukan putera mereka satu-satunya. Oleh sang ayah, si orok mendapat nama yang indah, “Abdul Rahman”, yang berarti “hamba Yang Maha Pengasih”.

Masa kecil yang indah mewarnai kehidupan Abdul Rahman. Bermain di padang luas, naik kuda bersama teman-teman sebaya, dan berburu binatang buas bersama ayahnya serta para komandan pasukannya. Namun, bukan hanya dunia bermain yang mewarnai masa kecil Abdul Rahman. Sebagai putera seorang penguasa yang pintar dan cerdas, ia diberi tanggung jawab lebih. Karena itu, ia juga tekun belajar. Utamanya menghafal dan memahami makna ayat-ayat Al-Quran.

Ketika usia Abdul Rahman Ibrahima kian menanjak tinggi, keinginannya untuk menguak cakrawala dunia ilmu kiat meningkat. Oleh sang ayah, seorang pencinta, ia dikirim ke Timbuktu, Mali.

Timbuktu? Mengapa Ibrahima Sori mengirim puteranya untuk menimba ilmu di kota itu?

Timbuktu ini, sebuah kota di Mali, sebuah negeri di Afrika yang berdekatan dengan Gurun Sahara, memiliki sejarah yang panjang. Kota yang terletak sekitar 20 kilo meter di sebelah utara Sungai Niger ini didirikan pada abad ke-12 M. Oleh orang-orang suku nomad Tuareg. Kota ini kemudian berkembang menjadi sebuah kota dagang terkenal dan menjadi tempat konvoi karavan atau kafilah yang melintasi Gurun Sahara berhenti. Kala itu, kota ini menjadi kondang sebagai salah satu pusat perdagangan garam, emas, gading, dan budak. Kemudian, bermula dari perjalanan Kaisar Mali Mansa Musa ke Makkah lewat Kairo pada 724 H/1324 M, orang mulai banyak mengenal Timbuktu.

Selepas menjadi bagian dari Kekaisaran Mali, sejak awal abad ke-14 M, pada paruh pertama abad ke-15 M Timbuktu beralih menjadi di bawah kekuasaan orang-orang Tuareg. Lantas, pada 872 H/1468 M, kota ini jatuh ke tangan Kekaisaran Songhai. Sekitar satu abad kemudian, tepatnya pada 999 H/1591 M, kota ini beralih majikan: kini kota ini di bawah kekuasaan Dinasti Sa‘adi dari Maroko. Kala itu, kota ini dijadikan sebagai ibu kota pemerintahan. Dinasti Sa‘adi hanya mampu menguasai kota ini selama 21 tahun. Selepas ini, kota ini kerap berganti majikan. Hingga, akhirya, diduduki pasukan Perancis pada 1310 H/1893 M. Pendudukan itu berlangsung hingga terbentuknya Republik Mali pada 1379 H/1960 M.

ilustrasi

Di sisi lain, Timbuktu tidak hanya pernah dikenal sebagai pusat perdagangan. Tetapi, juga sebagai pusat pendidikan Islam. Keadaan yang demikian itu berlangsung antara abad ke-13 hingga 17 M. Utamanya, ketika kota itu berada di bawah naungan Kekaisaran Mali dan di bawah pimpinan Askia Mohammad. Hal itu, antara lain, dipacu oleh perkembangan ekonomi bagus yang dinikmati oleh kota ini. Kala itu, banyak para ulama dan ilmuwan berdatangan ke Timbuktu. Utamanya dari Walata (kini menjadi Mauritania). Selain itu, selama ratusan tahun, Timbuktu yang penduduknya beragama Islam, Kristen, dan Yahudi menjadi pusat agama dan toleransi rasial.

Nah, di Timbuktu, Abdul Rahman Ibrahima menimba ilmu sekitar 15 tahun lamanya. Selain memelajari sederet ilmu agama, ia juga mendalami ilmu falak dan ilmu pasti. Kemudian, Kemudian, seusai menimba ilmu di Timbuktu, Abdul Rahman Ibrahima kembali ke tempat kelahirannya. Setiba kembali di tempat kelahirannya, ayahnya memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada Abdul Rahman untuk membangun negerinya. Malah, kemudian sang ayah menyerahkan kekuasaannya kepada puteranya itu.

Ditangkap sebagai Budak
Suatu hari, ketika Abdul Rahman Ibrahima sedang di hutan, bersama beberapa temannya, ia mendapatkan seorang lelaki berkulit putih tergeletak di tanah. Detak jantung lelaki itu hampir tidak terdengar lagi.

Segera, Abdul Rahman Ibrahima, kala itu berusia sekitar 19 tahun, dan teman-temannya membawa lelaki yang hampir sekarat itu ke istana ayahnya. Mereka pun merawatnya dengan sebaik-baiknya. Ternyata, lelaki itu seorang dokter spesialis bedah, anggota tim kapal Irlandia yang sedang melakukan ekspedisi ke kawasan Afrika Barat. Lelaki itu bernama Dr. Coatez Cox.

Selepas kondisi kesehatannya membaik, Dr. Coatez Cox pun menjadi tamu suku Fulani. Dalam masa yang tidak pendek. Ketika ia kembali ke keluarganya, berbagai hadiah mahal, seperti gading dan emas, diberikan oleh suku Fulani kepadanya. Bagi Dr. Cox sendiri, perjalanan hidupnya selama bersama suku Fulani merupakan perjalanan hidupnya yang paling indah. Saat itu sendiri, di kawasan Afrika Barat, perang antara suku sedang merajalela. Salah satu akibat dari perang tersebut adalah kian meningkatnya perdagangan budak. Berbarengan dengan gerak pasang perdagangan tersebut, kian banyak pula para pendatang kulit putih yang datang ke Guinea.

Tujuh tahun sejak pertemuan Abdul Rahman Ibrahima dengan Dr. Coatez Cox, putera penguasa suku Fulani itu pun kian kerap bertemu dengan orang-orang kulit putih. Namun, pertemuan terakhir itu jauh berbeda dengan pertemuan pertama. Yang diwarnai dengan persahabatan dan persaudaraan.

Kemudian, dalam salah satu perang suku tersebut, Abdul Rahman Ibrahima jatuh ke tangan pihak lawan. Melihat nilai tinggi tawanan yang satu ini, segera pihak lawan menjual Abdul Rahman kepada orang-orang kulit putih yang sedang gencar memburu budak-budak belian. Sebagai pembayaran, dari para pedagang yang tidak mengenal belas kasihan itu, mereka mendapatkan mesiu, tembakau, dan kain.

circa 1830: A slave auction in America. (Photo by Rischgitz/Getty Images)

Abdul Rahman Ibrahima pun berusaha menebus dirinya. Sampai tiga kali. Namun, semua usaha tersebut sia-sia belaka. Membayangkan keuntungan besar di tangan, segera penguasa muda itu pun dinaikkan ke atas geladak sebuah kapal besar. Bersama budak-budak lain. Agar tidak melarikan diri, kedua kaki dan leher penguasa Muslim muda (baru berusia sekitar 26 tahun) itu mereka belenggu dengan rantai panjang. Menghadapi perubahan nasib yang sangat kelam ini, ia tetap tegak dengan tegar dan gagah.

Kini, bukan pentas kekuasaan dan sanjungan yang ada di depan Abdul Rahman Ibrahima. Namun, kini ia harus menghadapi kenyataan: perjalanan panjang melelahkan dan “merobek” Lautan Atlantik sebagai budak. Kini, nasibnya tidak lebih baik ketimbang budak-budak lain. Malah, lebih menyakitkan, karena sebagai seorang Muslim yang taat, ia kini tidak lagi bebas melaksanakan perintah Kekasih kalbunya. Betapa beda dengan tindakan yang ia lakukan terhadap Dr. Coatez Cox.

Selepas lelah menatap lautan biru yang seakan hampir tanpa batas, Abdul Rahman Ibrahima akhirnya menjejakkan dua kakinya di pantai Amerika Serikat. Ia lalu dibawa ke Natchez, Mississippi. Di tempat itu, ia dijual kepada seorang pemilik lahan luas dan kering kerontang, Thomas Foster. Majikan barunya ini adalah seorang petani. Yang tidak berpendidikan.

Meski kini hidup dengan rantai tetap memberati tubuhnya, Abdul Rahman Ibrahima tetap menunjukkan dirinya sebagai seorang Muslim yang terhormat. Kedudukannya kini sebagai seorang budak di tempat nun jauh dari negerinya tidak membuat ia lupa pada agamanya, negerinya, dan sukunya. Meski penguasaannya atas bahasa negeri yang ia tempati kini terbatas sekali, ia tetap berusaha membujuk majikan barunya agar membebaskan dirinya. Sebagai bayaran, ia menjanjikan harga yang lebih tinggi ketimbang uang yang telah dikeluarkan oleh majikannya itu. Namun, upayanya kembali mentok.

Bagi si majikan, budak barunya yang berpendidikan dan pintar itu tidak dapat ditebus. Dengan harga berapa pun. Namun, ia pun ingin sedikit memberikan “pengajaran” terhadap budaknya itu. Ia pun memerintahkan Abdul Rahman Ibrahima memakai celana panjang dan mencukur gundul rambutnya. Mengenakan celana panjang, memang, tiada halangan baginya. Namun, mencukur gundul rambut cela besar baginya. Menurut tradisi sukunya, rambut merupakan lambang kejantanan dan kedudukan terhormat. Karena itu, ia membelot dan tidak mau menaati perintah majikannya.
“Lari! Ayo, lari!”

Itulah hentakan pikiran yang tidak henti-hentinya menghajar benak dan nurani Abdul Rahman Ibrahima. “Namun, bagaimana caranya?” Akhirnya, pada suatu malam yang pekat, ia nekad meninggalkan tempat tinggal majikannya. Ia lari masuk ke dalam hutan lebat Mississippi. Lantas, hari demi hari, tanpa mengenal lelah ia mencoba membelah hutan yang seakan tanpa batas itu. Sendirian!

Selepas berminggu-minggu mencoba merobek hutan tanpa henti, tiba-tiba kenangan Abdul Rahman Ibrahima kepada istri dan anaknya, di negerinya, selalu terbayang di matanya. Akhirnya, ia mengambil keputusan untuk kembali lagi ke tanah pertanian Thomas Foster.

Ketika Abdul Rahman Ibrahima tiba di tanah pertanian Thomas Foster, kebetulan Nyonya Foster sedang berada di rumah. Sedangkan majikannya sudah berhari-hari belum kembali karena mencari ia. Nyonya yang baik hati itu pun menerima kembali, dengan tangan terbuka, budaknya yang satu itu. Sang nyonya tahu, budaknya yang satu itu dapat menjaga kehormatan majikannya. Atas “jasa” Nyonya Foster pulalah kemudian majikannya dapat menerima kembali Abdul Rahman Ibrahima. Tanpa menghukumnya.

Pertemuan Tak Terduga dengan Dr. Cox
Selepas kembali dari upaya melarikan diri, Abdul Rahman Ibrahima kembali tenggelam dalam kerutinan kerja harian: menanam tembakau, padi, dan kapas. Juga, membawa hasilnya dan memasarkannya. Padahal, di negerinya, Fulta Jalon, semua itu merupakan pekerjaan kaum perempuan. Karena itu, tidak mudah baginya untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan tersebut.

Tidak terasa, hari demi hari bergulir cepat. Tiba-tiba masa enam tahun terlewati sudah. Bagi Abdul Rahman Ibrahima, kini, semua pekerjaan terasa ringan baginya. Namun, ada satu beban yang terasa sangat sulit untuk dihindari dan selalu memburu benaknya: kenangan dan perasaan tetap bertanggung jawab kepada isteri dan anaknya, di negerinya, tetap memberati hati dan benaknya. Bukan luar biasa bila selepas kerja, pikirannya selalu menerawang jauh. Ke negerinya di Benua Afrika.

Melihat kondisi Abdul Rahman Ibrahima seperti itu, keluarga Thomas Foster pun membeli seorang budak perempuan berkulit hitam. Mereka pun menawari Abdul Rahman untuk menikahi budak yang baru dibeli tersebut. Abdul Rahman pun menerima tawaran itu. Bukan karena ia telah lupa kepada isteri dan anaknya. Namun, menurut ia, pernikahan itu lebih baik baginya ketimbang terjungkal dalam tindakan yang tidak diharapkan.

Dengan pernikahan tersebut, memang kehidupan Abdul Rahman Ibrahima menjadi terurus. Malah, dari isteri keduanya tersebut, ia dikaruniai lima putera dan empat puteri. Meski mereka hidup serba kekurangan, namun kebahagiaan dan ketenteraman selalu mewarnai kehidupan mereka.

Lantas, pada suatu hari ketika Abdul Rahman Ibrahima sedang berada di pasar, tiba-tiba ia bertemu dengan seorang lelaki yang menurut perasaannya pernah ia kenal. Sebaliknya lelaki itu, begitu melihat Abdul Rahman, langsung menjatuhkan diri di depannya. Ternyata, lelaki itu mantan pengawalnya. Di negerinya. Pertemuan tidak terduga tersebut membuat sejumlah orang kulit putih bersimpati kepada Abdul Rahman Ibrahima. Kini, mereka tahu siapa sejatinya Abdul Rahman. Juga, bagaimana ia terjungkal dalam dunia perbudakan. Mereka pun berusaha mencarikan jalan untuk memerdekannya.

Kemudian, pada suatu hari, pada 1807 M, ketika Abdul Rahman Ibrahima sedang menjual hasil kadangnya sendiri di Pasar Natchez, seorang lelaki kulit putih lama memandangi dirinya. Mungkin karena tidak kuat menahan rasa ingin tahunya, lelaki itu lantas mendekati Abdul Rahman dan bertanya kepadanya, “Apakah Anda dari Benua Afrika?”

“Ya,” jawab Abdul Rahman Ibrahima.

“Bukankah Anda bernama Abdul Rahman?” tanya lelaki itu selanjutnya.

“Ya.”

“Tidak ingatkah Anda dengan saya?”

“Ingat! Anda Dr. Cox!”

Betapa indah pertemuan antara dua sahabat. Yang selama 25 tahun tidak pernah bertemu. Bila pertemuan pertama terjadi di Benua Afrika, kini pertemuan kedua itu terjadi di Benua Amerika. Kisah pertemuan ini segera menjadi bahan perbincangan orang. Dr. Coatez Cox, yang tahu membalas budi, segera berusaha membebaskan orang yang pernah menyelamatkan nyawanya itu. Namun, keluarga Thomas Foster tetap tidak mau membebaskan budak mereka yang satu itu.

Melihat kegagalan usahanya, Dr. Coatez Cox pun segera menghubungi sahabat-sahabatnya. Di antara mereka adalah seorang pemilik dan pemimpin redaksi sebuah surat kabar di Natchez. Setelah mengetahui kisah Abdul Rahman Ibrahima, segera sahabat Dr. Cox tersebut meminta Abdul Rahman membuat sepucuk surat kepada keluarganya.

Surat Salah Alamat kepada Raja Maroko
Selepas hidup sebagai budak, selama 40 tahun, ternyata menulis surat bukan hal yang mudah bagi Abdul Rahman Ibrahima. Namun, keinginannya untuk merdeka kembali dan balik ke negerinya mengalahkan segala-galanya. Segala kenangan dan ingatannya pun ia bangkitkan. Akhirnya, sepucuk surat sederhana berhasil ia tulis. Selain surat yang ia kirim kepada keluarganya, ia juga diminta menulis sepucuk surat kepada seorang anggota Kongres AS.

Namun, karena surat yang ditulis oleh Abdul Rahman Ibrahima tidak jelas, surat itu dikira ditujukan kepada Raja Maroko. Sang raja, setelah membaca surat tersebut dan mengetahui sejatinya surat itu tidak ditujukan kepadanya, pun terhenyak karena mengetahui nasib pedih salah seorang saudara seagamanya.

Sang raja pun segera mengemukakan persoalan ini kepada Menteri Luar Negeri AS di Washington. Persoalan itu kemudian diajukan kepada presiden negara adi kuasa tersebut waktu itu, John Quincy Adams (1768-1848 M). Segera, Presiden J.Q. Adams pun mengeluarkan perintah pembebasan Abdul Rahman Ibrahima. Bukan hanya itu. Pemerintah AS juga akan menanggung seluruh biaya pemerdekaan dan pemulangan Abdul Rahman Ibrahima ke Maroko.

Selepas hidup sebagai budak sekitar 40 tahun lamanya, akhirnya pada 1828 M Abdul Rahman Ibrahima kembali sebagai orang merdeka. Lantas, atas desakan berbagai pihak, keluarga Thomas Foster akhirnya juga membebaskan istri Abdul Rahman. Namun, anak-anak mereka tetap tidak dibebaskan oleh keluarga Foster.

Selepas semua hal yang diperlukan siap, pada suatu hari pada 1829 M, Abdul Rahman Ibrahima dan isterinya telah berada di atas geladak sebuah kapal. Namun, kali ini bukan sebagai budak. Tetapi, sebagai orang merdeka yang terhormat. Sejatinya, berat sekali bagi keduanya meninggalkan Bumi AS. Ya, siapakah yang tidak sedih meninggalkan anak-anak mereka. Yang belum tentu akan mereka lihat kembali.

Setiba di Tangiers, Abdul Rahman Ibrahim dan isterinya diperkenankan melanjutkan perjalanan menuju negeri asal mereka. Kali ini lewat Liberia. Namun, perjalanan panjang selama 40 tahun telah mengubah segalanya. Kini, iklim Benua Afrika terlalu berat bagi mereka.

Di tengah perjalanan menuju Fouta Djalon, Abdul Rahman Ibrahima jatuh sakit. Namun, mereka tetap meneruskan perjalanan mereka. Tetapi, kondisi tubuhnya kini lain dengan kondisi tubuhnya ketika masih muda usia. Iklim Afrika terlalu ganas baginya.

Akhirnya, pada 6 Juli 1929 M dan sekitar enam tahun sejak Abdul Rahman Ibrahima menjejakkan kembali dua kakinya di benua asalnya, di suatu tempat sekitar tiga kilo meter dari Monrovia, ia kembali kepada Tuhannya. Yang tidak pernah ia lupakan. Di mana ia berada. Baik ketika di Afrika maupun Amerika!

Semoga, tidak ada lagi yang menjadi budak di antara saudara-saudara kita. Kiranya [email protected] (*)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close