Wawancara Khusus
Trending

A.M. Hendropriyono: Khilafah Substantif Sudah Terwujud di Pemerintahan Jokowi – KMA

JAKARTA, SENAYANPOST.com — Belakangan ini beredar artikel wawancara khusus mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. A.M. Hendropriyono, ST, MH di majalah Sabili Edisi 19/XVI Maret 2009 berjudul “Kekhalifahan Akan Jadi New Nation State” yang dimuat ulang oleh trenopini.com edisi 31 Maret 2019 dan disebarluaskan melalui aplikasi pesan singkat whatsapp. Dari judul dan materi wawancara tersebut, pembaca dapat dengan mudah menyimpulkan seakan A.M. Hendropriyono, tokoh intelijen nasional yang dikenal sebagai nasionalis dan patriotik sejati, kini mendukung ideologi khilafah.

Pernyataan A.M. Hendropriyono di Sabili tentu saja memunculkan tanda tanya bagi masyarakat luas, karena bertentangan dengan pandangan dan sikapnya yang tercermin di buku-buku karyanya dan pemberitaan media nasional, bahwa ia setia pada Pancasila dan UUD 1945 dan tegas menolak ideologi khilafah yang mengganti nilai-nilai Pancasila, mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa, serta mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

AM Hendropriyono

Untuk menjawab kesimpang-siuran ini, Achmad Dzulfiqar dari  Senayanpost.com menemui A.M. Hendropriyono di kantornya di kawasan Kuningan, Jakarta, Senin (4/11/2019). Berikut petikan wawancaranya yang dimuat utuh:

Tahun 2009 di majalah Sabili, Anda mengeluarkan pernyataan kontroversial yang secara tersirat seolah sepakat dengan ideologi khilafah, tapi menjelang Pilpres 2019 lalu justru sebaliknya, Anda dengan tegas mengingatkan rakyat untuk menolak ideologi khilafah. Apakah ada pergeseran pemikiran?

Saya tidak pernah menyatakan sepakat dengan ideologi khilafah. Lebih-lebih dengan konsep khilafah yang dipahami bangsa Arab, yakni sebagai sistem pemerintahan Islam di dunia yang dipimpin oleh khalifah.

Jadi pandangan Anda tidak Ada yang berubah?

Saya tegaskan berkali-kali di banyak kesempatan, bahwa konsep kekhilafahan bukanlah konsep nasionalis. Sekarang saya tanya, kalau sistem pemerintahan khilafah dibentuk di dunia, nanti yang jadi khalifahnya orang mana? Belum tentu orang Indonesia. Itu saja sudah bertentangan, kita kan bangsa Indonesia. Saya sebagai bagian dari bangsa Indonesia tentu menolak diperintah oleh orang bukan Indonesia.

Kesimpulannya, ideologi khilafah tidak tepat untuk Indonesia?

Perlu diketahui, ideologi khilafah sudah tidak berfungsi sejak abad ke-13, tepatnya sejak tahun 1258. Negara-negara Islam dan Arab sekalipun lebih memilih tata negara kerajaan atau keemiran. Tidak ada lagi yang menerapkan sistem khilafah. Karena sebelumnya secara resmi sudah dibubarkan. Masa sekarang kita mau mundur jauh lagi. Jangan coba-coba. Kita tau apa yang terjadi di Suriah dan Iraq adalah karena coba-coba.

Hendropriyono: Provokator Aksi 22 Mei Wajib Ditangkap dan Diisolasi
AM Hendropriyono

Lalu, sebenarnya apa yang Anda maksud ketika menyatakan kekhalifahan akan jadi new nation state?

Jadi begini, wartawan tanya kepada saya, apakah saya sepakat dengan konsep khilafah? Saya jawab bahwa kekhalifahan akan menjadi new nation state, menggantikan sistem lama yang gagal, yakni dalam bentuk neo nasionalisme yang terbangun secara Islami. Jadi ketika saya katakan kekhalifahan akan jadi new nation state, konteksnya yang saya maksud adalah kekhalifahan secara substantif, yakni pemerintahan negara yang dijalankan dengan nilai-nilai Islami yang dipimpin oleh negarawan yang nasionalis dan religius.

Contohnya bagaimana?

Kekhalifahan secara substantif itu sekarang sudah terwujud di negeri kita dengan tepilihnya Ir. Joko Widodo sebagai Presiden RI dan K.H. Ma’ruf Amin (KMA) sebagai Wakil Presiden RI, pasangan negarawan nasionalis dan religius. Nilai-nilai ke-Islaman-an tercermin dari sikap dan cara hidup kedua pemimpin dalam keseharian.

Lantas, bagaimana baiknya kita menyikapi isu khilafah di negeri Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika?

Kita sebagai bangsa yang hidup damai dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika harus bersyukur dan berterima kasih kepada para pendiri NKRI yang telah menggali nilai-nilai Pancasila, yang menyelamatkan kita bangsa Indonesia dengan beragam suku, budaya, dan agama dari perpecahan dan kini telah mengantar kita pada berbagai kemajuan.

Bentuknya seperti apa?

Syukur dan terima kasih itu bisa kita wujudkan dengan mengamalkan dan mengawal Pancasila serta UUD 1945 untuk menjaga keutuhan NKRI, dengan bekerja keras, berkarya dan berkontribusi untuk bangsa dan negara untuk menjemput kemajuan-kemajuan berikutnya, terutama mewujudkan Indonesia Emas 2045. Pemaksaan ideologi akan makin menghabiskan energi kolektif bangsa dan membuat negeri kita kian jauh tertinggal.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close